JATIMNET.COM, Madiun - PT Industri Kereta Api (Inka) akan menjajaki kerja sama investasi kereta barang di sejumlah negara seperti Filipina, Senegal, dan Meksiko karena potensi pendapatannya menjanjikan dibandingkan hanya menjual sarana kereta api.   

"Kita menawarkan tidak beli keretanya, tapi kita 'profit sharing' 10 atau 15 persen, ini potensinya besar dibanding dengan jual putus,"  kata Diretur Utama Budi Noviantoro saat peninjauan ke pabrik Inka di Madiun, Kamis, 8 November 2018.

Budi menjelaskan Filipina tengah membangun infrastruktur pengangkutan barang berbasis rel dari pelabuhan kering (dry port) ke Manila Port dengan jarak 52 kilometer dan potensi volume angkutannya 200.000 sampai 250.000 per tahun.

"Kalau pakai truk 300 dolar per TEUs, kita kasih 250 atau 200 dolar per TEUs, kalikan saja 250 ribu sudah 50 juta dolar AS dapat. Katakanlah saya buang 20 juta untuk operasional dan 30 juta dolar ini dibagi dua dengan Filipina, untungnya sudah 15 juta dolar kalikan dengan Rp15.000 per dolar AS, sudah berapa untungnya," katanya.

Karena itu, pihaknya akan menjajaki model bisnis tersebut kepada negara-negara yang memesan kereta lokomotif dan kereta barang terutama untuk pengangkutan kargo, termasuk di Senegal dan Meksiko. Budi  menyebutkan potensi pengiriman barang dari Dakar ke Mali sepanjang  1.223 kilometer itu sangat besar karena memangkas biaya logistik dari yang awalnya seminggu lewat jalur darat menjadi dua hari lewat jalur kereta.

"Senegal sudah menawarkan angkutan barang, dia mau beli 10 lokomotif,  saya tanya untuk apa, kalau untuk barang nanti dulu," katanya. Kemudian Meksiko, menurut dia, pengakutan barang yang mulai digagas oleh  Presiden Meksiko, yaitu menyambungkan Pantai Timur dan Barat sejauh  320 kilometer sangat menguntungkan karena mengambil sebagian pasar  dari Terusan Panama yang mulai padat.   

Potensi per harinya 12.000 kapal dengan volume mulai dari 5.000 hingga 50.000 TEUs. "Idenya Pak Presiden Meksiko ini brilian, kalau  mereka mau bangun, saya mau investasi sarana gabung sama mitra lokal, tapi saat ini menunggu presidennya dilantik dulu," katanya.

Begitu pula di Filipina, Budi mengatakan Inka akan mengikuti lelang untuk berinvestasi pengadaan angkutan barang. "Di Filipina ada proses lelang karena ada aturan main, slotnya dilelang. Kalau kereta penumpang saya jual putus, kalau kereta barang saya enggak mau, biarkan enggak usah beli keretanya tapi saya mau main di situ," katanya.

Budi mengaku transformasi bisnis tersebut dilatarbelakangi dengan  kekurangan pendanaan setiap kali menggarap proyek, contohnya proyek LRT Jabodebek dengan kontrak Rp3,9 triliun namun hanya diberi 15 persen dan pembayaran selanjutnya baru akan dilanjutkan setelah pengoperasian. "Seperti LRT Jabodebek KAI berutang ke saya, saya berutang ke bank untuk buat kereta," katanya. (ant)