Logo

Produksi Emas Antam Naik 34%, Laba Tembus Rp8,83 T

Produksi emas Antam naik 34 persen dan perbandingan laba bersih tahunan
Reporter:,Editor:

Rabu, 28 October 2026 10:00 UTC

Produksi Emas Antam Naik 34%, Laba Tembus Rp8,83 T

Ilustrasi emas batangan. Foto: pegadaian.co.id

JATIMNET.COM, Jakarta – Produksi emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) meningkat 34 persen pada kuartal III 2026, diikuti lonjakan keuntungan perusahaan yang melampaui capaian sepanjang tahun sebelumnya.

Hingga September 2026, emiten berkode saham ANTM itu membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp8,83 triliun, lebih tinggi dibandingkan laba setahun penuh pada 2025 sebesar Rp7,21 triliun.

Berdasarkan laporan kinerja perusahaan yang dipublikasikan Rabu (28/10/2026), produksi emas Antam mencapai 202 kilogram selama Juli–September 2026. Jumlah tersebut meningkat dari 151 kilogram pada periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kumulatif, produksi emas Januari–September 2026 mencapai 634 kilogram, naik sekitar 7 persen dibandingkan 590 kilogram pada periode serupa tahun lalu.

Peningkatan produksi tersebut berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan pendapatan dan penjualan emas. Antam mencatat volume penjualan emas sebesar 7.137 kilogram pada kuartal III, sedangkan total penjualan selama sembilan bulan pertama 2026 mencapai 25.217 kilogram.

Besarnya selisih antara produksi tambang dan penjualan memperlihatkan bahwa bisnis emas Antam tidak hanya mengandalkan hasil penambangan sendiri. Perusahaan juga menjalankan kegiatan pengolahan, pemurnian, dan perdagangan logam mulia untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Dari sisi keuangan, pendapatan Antam sepanjang Januari–September 2026 mencapai Rp88,48 triliun, meningkat 23 persen dibandingkan Rp72,03 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih yang menjadi hak pemegang saham induk melonjak sekitar 48 persen dari Rp5,97 triliun menjadi Rp8,83 triliun.

Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, menyatakan perusahaan terus memperkuat kegiatan operasional dan strategi komersial untuk menjaga pertumbuhan usaha. Pengembangan portofolio bisnis juga diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah dan mempertahankan kinerja perusahaan.

“Kami terus memperkuat fundamental bisnis melalui optimalisasi operasional, penguatan strategi komersial, serta pengembangan portofolio usaha untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Untung Budiharto dalam keterangan kinerja perusahaan di Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.  

Jika dibandingkan dengan lima tahun terakhir, keuntungan Antam mengalami pertumbuhan cukup besar meskipun sempat berfluktuasi. Pada 2021, perusahaan mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,86 triliun, kemudian meningkat menjadi Rp3,82 triliun pada 2022 atau tumbuh sekitar 105 persen.

Namun, keuntungan tersebut turun menjadi Rp3,08 triliun pada 2023, menyusut sekitar 19,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan terjadi bersamaan dengan berkurangnya pendapatan perusahaan dari Rp45,93 triliun menjadi Rp41,05 triliun.

Kinerja Antam kembali membaik pada 2024 dengan laba bersih Rp3,65 triliun dan pendapatan Rp69,19 triliun. Pada 2025, laba bersih melonjak hampir 98 persen menjadi Rp7,21 triliun, sementara pendapatan mencapai Rp84,64 triliun.

Dengan demikian, laba Rp8,83 triliun yang dikumpulkan hingga September 2026 telah melampaui keuntungan sepanjang 2025 sekitar Rp1,62 triliun atau 22,5 persen. Meski begitu, angka tersebut belum mencerminkan hasil akhir tahun buku 2026 karena masih terdapat kinerja kuartal IV yang harus diperhitungkan.

Pertumbuhan pendapatan perusahaan terutama ditopang bisnis emas yang menyumbang Rp68,41 triliun atau sekitar 77 persen dari keseluruhan penjualan. Nilainya meningkat 17 persen dibandingkan Rp58,67 triliun pada Januari–September 2025.

Sementara itu, bisnis nikel menghasilkan pendapatan Rp16,98 triliun, meningkat 52 persen dibandingkan Rp11,15 triliun pada periode sebelumnya. Komoditas bauksit dan alumina turut menyumbang Rp2,64 triliun, naik 35 persen dari Rp1,95 triliun.

Kinerja tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan keuntungan Antam tidak semata-mata berasal dari pertumbuhan produksi emas. Kontribusi penjualan komoditas lain, perkembangan harga pasar, serta pengelolaan biaya operasional turut memengaruhi kemampuan perusahaan menghasilkan laba.

Bagi negara, peningkatan keuntungan Antam berpotensi memperbesar penerimaan pajak dan dividen, bergantung pada kewajiban perpajakan serta keputusan pembagian laba perusahaan. Namun, kenaikan keuntungan tidak otomatis membuat harga emas batangan lebih terjangkau karena harga ritel tetap dipengaruhi pasar emas global dan nilai tukar.

Sepanjang 2021–2025, Antam tidak membukukan kerugian bersih meskipun keuntungannya sempat menurun pada 2023. Dengan capaian sembilan bulan pertama 2026 yang telah melampaui laba tahunan sebelumnya, perhatian kini tertuju pada kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan hingga akhir tahun, sekaligus memastikan manfaat ekonomi pertambangan menjangkau masyarakat dan daerah penghasil.