Logo

UMKM Makin Digital, Pasarnya Tak Lagi Sebatas Tetangga  

Usaha kecil tidak selalu membutuhkan toko besar. Kadang, pasar baru dimulai dari layar yang ada di genggaman.
Reporter:,Editor:

Sabtu, 24 October 2026 11:00 UTC

UMKM Makin Digital, Pasarnya Tak Lagi Sebatas Tetangga
 

Ilustrasi: Usaha Kecil, Pasar Besar. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Warung kecil, usaha makanan rumahan, penjahit, pengrajin, hingga penjual produk lokal kini memiliki pintu menuju pasar yang jauh lebih luas. Pintu itu berada di perangkat yang hampir setiap hari digunakan masyarakat: telepon pintar.

Perubahan tersebut menjadi penting karena usaha mikro, kecil, dan menengah merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia. Data Kementerian UMKM menunjukkan jumlah UMKM Indonesia berada di kisaran 65 juta unit.

Sektor ini menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional dan memberikan kontribusi lebih dari 60 persen terhadap produk domestik bruto.

Artinya, ketika cara UMKM berjualan berubah, dampaknya tidak hanya dirasakan pemilik usaha. Perubahan tersebut ikut memengaruhi ekonomi keluarga dan lapangan kerja dalam skala besar.

 

Internet Mengubah Batas Pasar

Dahulu, lokasi menjadi salah satu penentu utama sebuah usaha. Warung memperoleh pembeli dari lingkungan sekitar. Pengrajin bergantung pada orang yang datang ke sentra produksi.

Produk makanan rumahan dikenal melalui tetangga, kerabat, atau rekomendasi dari mulut ke mulut. Internet perlahan mengubah batas tersebut.

Badan Pusat Statistik mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Angka itu meningkat dari 69,21 persen pada 2023.

Dalam populasi yang mencapai sekitar 284 juta jiwa pada 2025, perluasan akses internet menciptakan pasar digital dalam skala yang sangat besar.

Sebuah usaha kecil dari desa kini secara teknis dapat memperkenalkan produknya kepada pembeli di kota lain tanpa harus membuka cabang.

Foto produk dapat dikirim melalui WhatsApp. Video proses produksi dapat dipublikasikan melalui media sosial. Pesanan dapat dicatat melalui ponsel, sementara barang dikirim menggunakan layanan logistik.

Bagi usaha kecil, perubahan ini memang terlihat sederhana. Namun, dampaknya sangat mendasar: jarak antara produsen dan konsumen menjadi semakin pendek.
 

Nilai Ekonomi Digital Terus Membesar

Transformasi tersebut terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Laporan e-Conomy SEA 2025 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia mendekati US$100 miliar dalam gross merchandise value.

Indonesia tetap menjadi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. E-commerce menjadi salah satu penggerak utamanya. Bank Indonesia juga mencatat transaksi pembayaran digital terus meningkat.

Pertumbuhan tersebut ditopang penggunaan mobile banking, internet banking, uang elektronik, dan sistem pembayaran berbasis QR. QRIS menjadi contoh paling mudah ditemukan.

Bank Indonesia mencatat hingga akhir 2025 jumlah pengguna QRIS telah melampaui 59 juta, dengan jumlah merchant mencapai lebih dari 40 juta. Sebagian besar merchant tersebut berasal dari kelompok UMKM.

Perubahan perilaku pembayaran ini membuat digitalisasi semakin dekat dengan pedagang kecil. Pembeli tidak lagi harus membawa uang tunai. Pedagang pun tidak membutuhkan mesin pembayaran mahal untuk menerima transaksi digital. Cukup sebuah kode yang dapat dipindai dari ponsel.

 

Masuk Digital Bukan Sekadar Membuka Akun

Namun, memiliki akun media sosial tidak otomatis membuat UMKM berhasil melakukan transformasi digital. Ada perbedaan besar antara hadir di internet dan benar-benar menjalankan bisnis secara digital.

Pelaku usaha perlu mampu membuat foto produk yang jelas, menulis deskripsi, menjawab calon pembeli, mencatat pesanan, menghitung biaya pengiriman, mengelola stok, hingga menjaga kualitas pelayanan. Kecepatan respons juga menjadi bagian dari pengalaman konsumen.

Pembeli yang menemukan produk menarik pada malam hari mungkin langsung bertanya melalui WhatsApp. Jika pesan baru dibalas dua hari kemudian, peluang transaksi dapat hilang. Hal yang sama berlaku pada informasi produk.

Harga yang tidak jelas, foto berbeda dengan barang sebenarnya, ongkos kirim yang baru diketahui di akhir transaksi, atau komunikasi yang tidak konsisten dapat mengurangi kepercayaan. Teknologi membuka pintu pasar, tetapi kualitas pengelolaan menentukan apakah konsumen akan masuk melalui pintu tersebut.

 

Jangan Mengejar Viral, Bangun Pelanggan

Media sosial membuat kata “viral” terdengar sangat menggoda bagi usaha kecil. Satu video yang ditonton ratusan ribu orang memang dapat mendatangkan lonjakan pesanan. Namun, popularitas sesaat tidak selalu berubah menjadi bisnis yang sehat. UMKM membutuhkan pelanggan yang kembali membeli.

Karena itu, perhatian sebaiknya tidak hanya diarahkan pada jumlah pengikut atau penonton. Pelaku usaha perlu melihat apakah orang yang pernah membeli merasa puas, memberikan rekomendasi, dan kembali melakukan transaksi.

Hal sederhana seperti menyimpan catatan pelanggan dapat membantu. Siapa yang pernah membeli? Produk apa yang disukai? Kapan biasanya mereka memesan? Apakah ada keluhan?

Data kecil seperti itu bisa lebih berguna daripada ribuan pengikut yang tidak pernah melakukan pembelian. Pelaku usaha juga dapat membangun hubungan melalui pesan yang wajar.

Ketika produk baru tersedia atau menjelang momen tertentu, pelanggan lama dapat diberi informasi tanpa harus dibanjiri promosi setiap hari. Bisnis digital tetap membutuhkan hubungan manusia.

 

Anak Muda Bisa Membantu Usaha Keluarga

Transformasi digital UMKM juga membuka ruang menarik bagi generasi muda. Banyak orang tua mempunyai kemampuan membuat produk, tetapi belum terbiasa dengan pemasaran digital.

Sebaliknya, anak-anak mereka tumbuh dengan ponsel, kamera, media sosial, aplikasi desain, dan berbagai platform digital. Keduanya sebenarnya dapat saling melengkapi.

Orang tua memahami produk. Anak muda membantu mengemas cerita. Seorang pelajar dapat membantu usaha keluarganya mengambil foto produk yang lebih baik.

Ia bisa membuat katalog sederhana, mencatat transaksi menggunakan spreadsheet, membuat lokasi usaha di peta digital, atau membantu menjawab pertanyaan pelanggan.

Kegiatan seperti ini sekaligus menjadi pendidikan bisnis nyata. Anak tidak hanya belajar definisi pemasaran dari buku. Ia melihat sendiri bagaimana harga ditentukan, biaya dihitung, pelanggan dilayani, keluhan diselesaikan, dan keuntungan digunakan kembali untuk menjalankan usaha. Kemampuan digital akhirnya mempunyai tujuan konkret.

 

Dari Warung Kecil Menuju Pasar Lebih Luas

Tidak semua UMKM harus masuk marketplace besar. Untuk usaha yang sangat lokal, WhatsApp, QRIS, peta digital, dan media sosial mungkin sudah cukup. Usaha lain dapat membutuhkan marketplace ketika volume penjualan meningkat dan pasar mulai meluas.

Digitalisasi sebaiknya mengikuti kebutuhan bisnis, bukan sekadar tren. Langkah pertama bahkan dapat sangat sederhana: buat foto produk yang jujur, tuliskan harga dengan jelas, sediakan nomor pemesanan, gunakan pembayaran digital, dan catat setiap transaksi.

Setelah sistem dasar berjalan, barulah usaha berkembang ke tahap berikutnya. Dengan sekitar 65 juta unit UMKM, kontribusi lebih dari 60 persen terhadap PDB, serta penyerapan sekitar 97 persen tenaga kerja, usaha kecil terlalu penting untuk tertinggal dalam perubahan digital.

Teknologi memang tidak menjamin sebuah usaha akan sukses. Namun, ia mengubah satu hal yang selama puluhan tahun membatasi banyak usaha kecil: jangkauan.

Warung tetap bisa berada di gang sempit. Dapur produksi tetap dapat berada di belakang rumah. Pengrajin tetap bekerja dari sebuah desa. Yang berubah adalah pasarnya. Ketika UMKM makin digital, calon pembelinya tidak lagi harus tinggal di sebelah rumah.