Jumat, 21 July 2023 09:00 UTC

Dusun Mojokencot, sekarang menjadi bagian Dusun/Desa Kedunggede, Kecamatan Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto yang hanya dihuni 15 KK
JATIMNET.COM, Mojokerto - Sebuah perkampungan yang ada di sisi selatan Kabupaten Mojokerto hanya dihuni 15 Kepala Keluarga (KK) sejak tahun 90-an silam hingga saat ini.
Suasana perkampungan terlihat dan terpantau syahdu, hening. Di samping itu dengan banyaknya rerimbun pepohonan bambu, anginpun terasa terhempas kadang kencang kadang tidak, sehingga bisa menghirup udara yang segar.
Kampungnya bernama Dusun Mojokencot, sekarang menjadi bagian Dusun/Desa Kedunggede, Kecamatan Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto.
Seperti diungkapkan Muhammad Kholiq (48) salah satu warga Mojokencot. Ia menceritakan, lahan sekitar 60x30 meter persegi milik leluhurnya Mbok Dhe Lamina sejak tahun 1881 merupakan generasi pertama dari keluarganya yang tinggal di Mojokencot.
"Dulunya kan ini Desa Tampingrejo sebelum jadi Desa Kedunggede. Julukan di sini Dusun Mojokencot, sekarang jadi bagian Dusun/Desa Kedunggede. Cuma. Sampai sekarang masih disebutnya Mojokencot," ceritanya.
Kholiq sendiri merupakan putra dari Seri yang terlahir tahun 1942 dan generasi ketiga dari pendahulunya Mbok Dhe Lamina. "Dulu itu delapan rumah, tahun 1996 semua pindah (mulai berpindah)," ujarnya.
Dalam perjalanannya puluhan warga yang tinggal di Mojokencot atau sekarang menjadi bagian dari Dusun/Desa Kedunggede, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto pindah ke beberapa wilayah lain. Seperti Sawahan, Gondang, Pacet. Hingga menyisakan tiga KK sejak tahun 1998.
Dari lima bangunan yang masih ada di Mojokencot, hanya ada dua rumah saja yang dihuni manusia. Satu bangunan lainnya dijadikan kandang sapi oleh keluarganya. Sementara dua bangunan lain yang terpisah jarang tak berpenghuni sama sekali, dan cenderung mulai rusak.
"Dulu 15 KK, tahun 1996 sudah mulai tinggal 6 KK, dan dari 1998 sisa tiga KK. Saya, anak mantu, dan ade saya itu," ucap penghuni dari generasi ke empat Mbok Dhe Lamina ini.
Pria yang memiliki dua anak ini menyebutkan, faktor utama KK lainnya pindah karena sulitnya akses utama keluar masuk di lingkungan mereka dari dunia luar. Hanya ada jembatan bambu yang dibuat sendiri oleh penduduk Mojokencot sejak tahun 80-an dan jalan alternatif di lahan milik desa.
"Karena jalannya tak layak. Kondisinya seperti itu, jembatan buat sendiri dari bambu," ucapnya sembari menunjuk jembatan bambu yang rentan ambruk.
Hingga akhirnya lahan milik desa yang dulunya dijadikan akses keluar masuk alternatif keluarga dan para petani yang bercocok tanam di Mojokencot dijual oleh polo setempat. Jalan itu kini menjadi lahan pertanian dan tak bisa diakses sama sekali.
"Dulu ada jalan alternatif di lahan desa, bobolanlah (jalan pintas). Truk masih bisa masuk. Tapi 2016 dijual sama Polonya. Akhirnya ditutup jadi lahan sawah, jadi keluar masuk lewat jembatan itu," ujarnya.
Kholiq dan warga lainnya yang masih dalam satu garis keluarga itu tak bisa berbuat banyak atas kondisi jembatan bilah bambu yang setiap tahun harus diperbaiki. Meski itu menjadi akses utama keluar masuk warga.
Mulai dari antar jemput anak-anak sekolah, mengaji, dan belanja kebutuhan dapur tiga KK, hingga akses petani dalam bercocok tanam yang lahannya berada di seberang sungai Dusun Kedunggede. "Yah bisa ke mesjid, TPQ, sekolah. Kalau sudah biasa ya gak. Tapi kalo anak-anak yang lewat pasti ya khawatir takut jatuh," tandasnya.
Reporter: Hasan
