Logo

Olahraga Bareng Teman Membuat Rutinitas Lebih Ringan

Teman latihan kadang lebih berguna daripada target besar yang sulit dipertahankan.
Reporter:,Editor:

Selasa, 01 September 2026 00:00 UTC

Olahraga Bareng Teman Membuat Rutinitas Lebih Ringan

Ilustrasi: Lebih Seru Bareng. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Olahraga bareng teman punya satu keuntungan yang sering luput dari pembicaraan soal kebugaran: ada alasan tambahan untuk benar-benar datang. Jadwal lari yang mudah dibatalkan ketika sendirian terasa berbeda saat seseorang sudah menunggu.

Pemandangan semacam ini cukup akrab di Surabaya. Pagi dan sore, warga berlari, bersepeda, bermain bulu tangkis, atau melakukan latihan ringan bersama. Di tengah ritme kota yang padat dan udara yang cepat terasa panas, olahraga sering sekaligus menjadi waktu bertemu.

Ada dasar ilmiah di balik unsur sosial tersebut. Sejumlah kajian menemukan dukungan sosial berkaitan dengan keterlibatan dan kepatuhan terhadap aktivitas fisik.

Teman memang bukan jaminan seseorang akan rajin berolahraga, tetapi kehadirannya dapat mengurangi satu hambatan penting: sulit memulai.

 

Tantangan Besarnya Justru Menjaga Tubuh Tetap Bergerak

World Health Organization (WHO) melaporkan sekitar 31 persen orang dewasa dunia, atau sekitar 1,8 miliar orang, belum memenuhi rekomendasi aktivitas fisik pada 2022. Proporsinya meningkat sekitar lima poin persentase dibanding 2010.

WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan sedikitnya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75 menit aktivitas intensitas berat, maupun kombinasi yang setara. Latihan penguatan otot juga direkomendasikan sedikitnya dua hari dalam seminggu.

Indonesia punya tantangan serupa. Riskesdas 2018 Kementerian Kesehatan RI mencatat 33,5 persen penduduk berusia di atas 10 tahun kurang melakukan aktivitas fisik. Pada Riskesdas 2013, proporsinya masih 26,1 persen.

Data tersebut memang tidak menggambarkan keadaan setiap individu hari ini. Namun, ia memberi konteks bahwa membuat aktivitas fisik menjadi kebiasaan masih menjadi pekerjaan yang cukup besar.

Masalahnya sering sangat sehari-hari. Pulang kerja sudah lelah, cuaca kurang bersahabat, jadwal berubah, atau sofa terasa jauh lebih menarik daripada sepatu olahraga.

 

Teman Latihan Memberi Sedikit Dorongan untuk Datang

Dukungan sosial dalam olahraga tidak harus berbentuk motivasi besar. Pesan singkat, “jadi lari sore ini?” terkadang sudah cukup untuk membuat seseorang mengganti pakaian dan keluar rumah.

Sebuah tinjauan sistematis terhadap 24 studi mengenai kepatuhan pada program rujukan olahraga menemukan beberapa faktor psikososial yang berkaitan dengan kepatuhan. Di antaranya adalah motivasi intrinsik, keyakinan terhadap kemampuan diri, pemenuhan kebutuhan psikologis, dan dukungan sosial.

Tinjauan sistematis lain yang terbit pada 2024 menelaah sekitar 86 publikasi mengenai dukungan sosial dan aktivitas fisik pada remaja. Keluarga, orang tua, teman sebaya, serta guru muncul sebagai sumber dukungan yang penting, meski pengaruhnya tidak selalu sama pada setiap orang.

Temuan semacam ini perlu dibaca secara wajar. Olahraga bersama bukan resep universal. Sebagian orang justru lebih nyaman berlari sendirian atau berlatih tanpa banyak interaksi.

Namun bagi orang yang berkali-kali gagal menjaga jadwal, unsur sosial layak dicoba.

 

Di Surabaya, Olahraga Bisa Sekaligus Jadi Agenda Bertemu

Karakter kota ikut menentukan bagaimana kebiasaan olahraga terbentuk. Surabaya punya pagi yang bergerak cepat. Sebelum lalu lintas semakin ramai dan matahari meninggi, trotoar, taman kota, kawasan perumahan, serta sejumlah ruang terbuka mulai diisi orang yang berjalan atau berlari.

Olahraga bersama cocok dengan ritme tersebut karena tidak membutuhkan agenda sosial tambahan. Bertemu teman bisa dilakukan sambil berjalan beberapa kilometer, bersepeda santai, bermain badminton, atau mengikuti latihan kelompok.

Ini cukup berbeda dari pertemuan yang selalu berujung duduk lama di kafe. Orang tetap bisa mengobrol, tetapi tubuh ikut bergerak.
Pilihan aktivitasnya juga tidak perlu mengikuti olahraga yang sedang ramai di media sosial.

Jalan cepat berdua selama setengah jam tetap merupakan aktivitas fisik. Begitu pula berenang, senam, bersepeda, atau latihan kekuatan bersama.

Untuk kota bercuaca hangat seperti Surabaya, waktu latihan pun perlu masuk perhitungan. Memilih pagi atau sore yang lebih nyaman, membawa air minum, dan menyesuaikan intensitas dengan kemampuan jauh lebih masuk akal daripada memaksakan sesi berat demi mengikuti teman.

 

Jangan Sampai Kebersamaan Berubah Jadi Kompetisi

Masalah baru bisa muncul ketika olahraga bareng berubah menjadi perlombaan diam-diam. Satu orang berlari lebih cepat, yang lain merasa harus mengejar. Beban latihan teman naik, lalu semua merasa perlu melakukan hal serupa. Padahal kemampuan fisik tidak bisa diseragamkan.

Usia, pengalaman latihan, kondisi tubuh, kualitas tidur, dan riwayat cedera membuat respons setiap orang berbeda. Program teman bisa menjadi referensi, tetapi bukan otomatis menjadi program yang tepat untuk kita.

Media sosial menambah lapisan lain. Catatan pace, jumlah langkah, durasi latihan, kalori, dan grafik smartwatch mudah dibagikan. Fitur tersebut menyenangkan sebagai dokumentasi, selama angka tidak menggeser tujuan dasar berolahraga.

Teman latihan yang baik justru memberi ruang untuk berkata, “hari ini pelan saja.” Ada hari untuk meningkatkan kemampuan, ada pula hari ketika berjalan santai sudah cukup membuat tubuh tetap aktif.

 

Jadwal yang Realistis Lebih Berguna daripada Ambisi Besar

Memulai olahraga bareng teman tidak memerlukan grup besar. Dua orang sudah cukup. Pilih aktivitas yang sama-sama disukai, tentukan tempat yang mudah dijangkau, kemudian buat jadwal yang tidak mengganggu pekerjaan atau waktu istirahat.

Target awal juga sebaiknya sederhana. Dua atau tiga pertemuan dalam seminggu sering lebih realistis dibanding langsung menjadwalkan olahraga setiap hari.

Bila salah satu berhalangan, rutinitas sebaiknya tetap bisa berjalan. Ini penting agar kebiasaan sehat tidak sepenuhnya bergantung pada kehadiran orang lain. Teman berfungsi sebagai dukungan, bukan syarat mutlak untuk bergerak.

Di Surabaya, sesi itu bisa sesederhana bertemu ketika pagi masih teduh, berjalan cepat sambil mengobrol, lalu pulang sebelum aktivitas kota semakin padat. Tidak ada rekor yang harus dipecahkan.

Untuk sebagian orang, olahraga bareng teman terasa lebih ringan justru karena latihan berhenti menjadi janji besar tentang tubuh ideal. Ia masuk ke kalender seperti agenda bertemu biasa—bedanya, kali ini sepatu olahraga ikut dipakai.