MUI dan Pemkab Ponorogo Sayangkan Warga Percaya Isu Kiamat

Gayuh Satria Wicaksono
Gayuh Satria Wicaksono

Kamis, 14 Maret 2019 - 05:59

JATIMNET.COM, Ponorogo – Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni angkat bicara terkait puluhan warga Desa Watubonang, Kecamatan Badegan yang meninggalkan kampung halamannya karena isu kiamat.

“Benar ada 52 warga Watubonang pindah tempat di salah satu pondok pesantren di Malang karena desanya akan mengalami kiamat,” kata Ipong, Kamis 14 Maret 2019

Ipong mengaku prihatin masih ada masyarakat yang mempercayai doktrin menyesatkan. Terlebih banyak warga yang terpepngaruh isu kiamat sampai harus menjual semua harta bendanya.

BACA JUGA: Belasan Warga Ponorogo Jual Harta Benda Hindari Kiamat

“Itu (isu) tidak masuk akal, sesungguhnya kita sudah melakukan pembinaan sekaligus memberikan pemahaman. Tapi, ya sulit, mereka terlanjur percaya dan meyakini (isu kiamat),” jelasnya.

Ia menuturkan harus ada upaya yang serius dari organisasi masyarakat keagamaan  untuk memberikan edukasi dan pembinaan kepada masyarakat. Tujuannya agar tidak mudah percaya doktrin ataupun isu yang menyesatkan.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ponorogo Anshor M Rusdhi menerangkan jika umat Islam memang harus percaya adanya hari kiamat. Percaya adanya hari kiamat salah satu dari rukun iman umat islam.

“Itu (kiamat) memang wajib diyakini, wajib di istiqoti. Tetapi kalau sudah menyebut tanggal hari dan sebagainya, itu sudah di luar ajaran,” terang Rusdhi saat dihubungi melalui telepon.

BACA JUGA: Berebut Nasi Pecel Tumpuk dan Kepleh di Ponorogo

Rusdhi mengatakan Rasululloh Muhammad tidak mengajarkan kapan kiamat itu akan terjadi. Dalam ajaran memang ada tanda-tanda kiamat, akan tetapi bukan menyebutkan kapan dan dimana kiamat akan dimulai.

“Kalau sudah begitu maka tidak benar. Bukan hanya MUI, saya pikir semua juga akan berpikir begitu,” katanya.

Sejauh ini Rusdhi mengaku belum mengetahui apa yang diajarkan kepada Jemaah pengajian di Desa Watubonang. Namun pihaknya secepatnya akan mengecek dan melihat kondisi masyarakat dan ajaran yang diterima warga Watubonang.

“Yang penting itu iman, berbuat baik sesuai ajaran agama, itu yang penting. Bermanfaat untuk dirinya dan orang lain,” pungkasnya.

Baca Juga

loading...