Menyongsong Liga 1 yang Bukan Kompetisi Kaleng

Agustinus "Jojo" Raharjo

Selasa, 30 April 2019 - 16:18

KOMPETISI sepakbola kasta tertinggi di Indonesia bersiap digelar. Menurut PT Liga Indonesia Baru (LIB), Liga 1 bakal berputar pada 15 Mei 2019. Molor sepekan dari rencana sebelumnya, 8 Mei 2019.

Sebagai sebuah ajang olahraga bertajuk ‘profesional’, tentu ada syarat dan standar yang harus dipenuhi. Maka, saat PT LIB mengajukan permohonan rekomendasi kepada Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), sebagai syarat agar perizinan event keluar dari pihak kepolisian kepada penyelenggara kegiatan, gerak cepat pun dilakukan.

Ketua Umum BOPI Richard Sam Bera menyatakan, pada prinsipnya BOPI menyambut baik permohonan rekomendasi kompetisi Liga 1. Ini sesuai visi BOPI mendukung berkembangnya semua industri olahraga profesional Indonesia yang membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia.

“Sejalan dengan itu, kita harus melakukan verifikasi ketat sebelum mengeluarkan rekomendasi pelaksanaan kegiatan sebuah olahraga profesional,” kata Richard Sam Bera.

BACA JUGA: Laga Persebaya Kontra Madura United Ditunda, Djanur Bersyukur

Richard memaparkan, beberapa hal yang menjadi perhatian utama BOPI sebelum mengeluarkan rekomendasi bagi LIB antara lain evaluasi pelaksanaan Liga 1 dan Liga 2 musim 2018, pelaksanaan Piala Presiden, dan hal-hal terkait ketaatan regulasi serta unsur-unsur profesionalisme klub peserta liga.

“Misalnya bagaimana status profesionalisme klub terkait badan hukum, kondisi keuangan, kontrak pemain, tunggakan gaji sebelumnya, persyaratan bagi pemain asing, pajak, peningkatan kapasitas wasit, infrastruktur, dan lain-lain,” kata Richard.

Maka, keluarlah Keputusan Ketua Umum BOPI Nomor 005/BOPI/KU/IV/2019, terkait pengawasan pelaksanaan verifikasi klub-klub peserta Liga 1 dan Liga 2.  Mengingat waktu mepet, BOPI membentuk empat tim untuk melakukan sampling pengawasan verifikasi yang dilakukan PT LIB di Padang, Lampung, Bali dan Singapura.

Sebagai koordinator tim verifikasi, akhir pekan lalu, saya berkunjung ke Stadion Mandala, Jayapura. Ini karena Persipura mendaftarkan arena kebanggaan warga Jayapura itu sebagai home base pada Liga 1/ 2019.

Namun, pada praktiknya, Boaz Solossa dkk bakal kesulitan menempati stadion yang diresmikan Pangdam XVII Cenderawasih Brigjen TNI Acub Zainal pada 18 Januari 1978 itu.

‘Komando Daerah Militer XVII Cenderawasih Mempersembahkan Lapangan Ini kepada Putra Putri Irian Barat. Semoga Selalu Jaya Di Lapangan Hijau’ demikian bunyi prasasti pualam yang masih tertempel di stadion berkapasitas 18 ribu tempat duduk itu, saat saya berkunjung ke Stadion Mandala, Minggu, 28 April 2019.

Persipura bakal absen dari rumahnya terkait persiapan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional yang untuk kali pertama akan digelar di Tanah Papua tahun depan. Baik Stadion Mandala di wilayah Kota Jayapura, Stadion Barnabas Youwe milik Persidafon Dafonsoro Kabupaten Jayapura, maupun Stadion Papua Bangkit Sentani semuanya tengah disiapkan untuk perhelatan PON XX/2020.

Belum diputuskan ke mana tim asuhan Luciano Leandro ini akan berkandang pada kompetisi Liga 1. Tapi pihak manajemen klub akan gembira jika permohonan mereka bermarkas di Yogyakarta disetujui.

BACA JUGA: Ini Jadwal Babak 8 Besar Piala Indonesia

Dengan tinggal di Yogyakarta, selain basis suporter mahasiswa asal Papua cukup banyak, biaya travelling ke berbagai daerah tentu akan lebih murah daripada riwa-riwi dari Jayapura ke berbagai titik di Indonesia.

Sekretaris Umum Persipura Jayapura, Rocky Bebena mengatakan, manajemen Persipura masih tetap mendaftarkan Stadion Mandala Jayapura sebagai tempat pertandingan tim berjuluk Mutiara Hitam itu.

“Kita sebenarnya berharap bisa menggunakan stadion Papua Bangkit, tetapi karena belum diresmikan, maka kita tetap daftarkan stadion Mandala ke operator kompetisi untuk verifikasi,” kata Rocky Bebena.

Dikatakan pria yang juga Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Pemkot Jayapura ini, bahwa pihak PT LIB selaku operator kompetisi melakukan verifikasi beberapa perangkat stadion, di antaranya kondisi lapangan, sistim drainase, tribun penonton, lampu stadion genset, fasilitas media, team benches and technical area, ruang inspektur pertandingan (IP) atau match officials (MO), dan ruangan teknis.

BACA JUGA: Ini Deretan Pekerjaan Rumah Persebaya Jelang Liga 1 2019

“Secara keseluruhan stadion ini sudah sesuai standar, karena penerangan awal berkekuatan 1.300 lux. Sementara pada tahun 2017 penerangannya turun 900 lux. Harapan kami tahun ini, penerangnya jangan turun lagi,” akunya.

Minggu malam kemarin, total verifikasi berlangsung hampir empat jam termasuk untuk mengecek kekuatan lampu stadion yang baru dinyalakan pada pukul 19.00 Waktu Indonesia Timur.

Tentu saja kami tak salah tetap ke Mandala meski stadion itu mungkin tak akan dipakai Persipura. Selain pendaftaran resminya masih mencantumkan Mandala sebagai home base, verifikasi tim sepakbola profesional tak hanya menyangkut infrastruktur lapangan.

“Misalnya bagaimana status profesionalisme klub terkait badan hukum, kondisi keuangan, kontrak pemain, tunggakan gaji sebelumnya, persyaratan bagi pemain asing, pajak, peningkatan kapasitas wasit, infrastruktur, dan lain-lain. Termasuk bagaimana klub memperhatikan aspek sporting atau pembinaan usia dini,” kata Richard.

BOPI juga meminta komitmen operator kompetisi terhadap jaminan keselamatan dan keamanan semua pihak. Pada musim kompetisi ke depan, BOPI menekankan jangan ada lagi suporter terlibat kekerasan, apalagi sampai timbul korban jiwa.

“Kalau sampai ada korban jiwa, kami tak ada opsi lain kecuali menghentikan kompetisi dengan cara mencabut rekomendasi. Juga terkait penegakan hukum yang selama ini tidak konsisten, harap lebih diperhatikan. Padahal hal ini sebenarnya merupakan kunci dari integritas kompetisi itu sendiri,” jelasnya.

Meminjam istilah yang dipopulerkan YouTuber Maell Lee, Preman Terkuat di Bumi, sudah saatnya, Liga 1, Liga 2 dan juga kompetisi olahraga lain menerapkan standar profesional yang tidak ‘Kaleng-kaleng’. Tidak asal-asalan mendapatkan rekomendasi yang diterima secara formalitas yang hasil akhirnya tak bisa dipertanggungjawabkan.

BACA JUGA: Jelang Lawan Madura United, Kekuatan Persebaya Terus Berkurang

Seandainya saja, parameter seperti ini konsisten diberlakukan. Tentu saja, kita tak akan khawatir klub-klub, dan operator kompetisinya, akan terengah-engah lalu mampus di tengah jalan.

Seandainya saja setiap klub seperti Persebaya: punya prestasi bagus, banyak pilihan lokasi latihan dan lapangan pertandingan memadai, tak pernah menunggak gaji, badan hukum jelas, punya pembinaan tim usia dini berjenjang, serta terjalinnya hubungan dengan suporter Bonek, meski kadang tensinya naik dingin.

Selamat datang Liga 1, terlepas nanti apakah izin keramaian akan dikeluarkan pihak kepolisian sebelum atau sesudah 22 Mei sebagai patokan berakhirnya keriuahan pasca pemilu. Tapi prosedur keluarnya rekomendasi yang bukan ‘Kaleng-kaleng’ telah dilalui melalui standar tinggi.

*Agustinus ‘Jojo’ Raharjo, Tenaga Ahli bidang Komunikasi Politik Kantor Staf Presiden. Kini aktif sebagai pengurus Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI)

Tulisan ini kiriman pembaca Jatimnet.com. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Kirimkan opini Anda melalui redaksi@jatimnet.com. Sertakan foto, daftar riwayat hidup, dan kopian kartu identitas.

Baca Juga

loading...