Logo

Menjelang Muktamar NU, Ini Pesan Ketua PWNU Jatim

Reporter:,Editor:

Minggu, 05 July 2026 09:30 UTC

Menjelang Muktamar NU, Ini Pesan Ketua PWNU Jatim

Ketua PWNU Jawa Timur, K.H. Abdul Hakim Mahfudz saat diwawancarai di Surabaya, Minggu, 5 Juli 2026. Foto: Januar.

JATIMNET.COM, Surabaya – Menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar pada 1-5 Agustus 2026, Ketua PWNU Jawa Timur K.H. Abdul Hakim Mahfudz menegaskan pentingnya membangun persatuan melalui mekanisme musyawarah mufakat.

Semangat itu dinilai lebih baik dibanding mempertajam persaingan dalam pemilihan kepengurusan.

Menurut pria yang akrab disapa Gus Kikin itu, hasil pembahasan dalam Konferensi Wilayah (Konferwil) sebelumnya telah memberikan sinyal dukungan terhadap mekanisme mufakat sebagai jalan terbaik menjaga kekompakan organisasi.

"Karena penyatuan itu yang sangat kita butuhkan. Kalau sikap kita malah memicu kubu-kubu baru lagi, nanti justru susah untuk menyatukannya," ujar Gus Kikin, Minggu, 5 Juli 2026.

Ia menegaskan, sikap tersebut bukan berarti mendorong pemilihan secara aklamasi. Menurutnya, yang lebih penting adalah membangun semangat kebersamaan dalam organisasi.

"Bukan aklamasi, tetapi semangat untuk menyatukan itu. Bukan semangat untuk bagaimana merebut posisi-posisi. Itu penting. Selama dengan PBNU memang benar-benar ada komunikasi yang nyata," katanya.

Secara pribadi, Gus Kikin menyatakan tetap berpandangan bahwa musyawarah mufakat merupakan cara terbaik untuk menyatukan seluruh elemen NU.

"Kalau sikap saya, bagaimana mufakat itu menyatukan. Termasuk salah satunya, saya juga ingin menyatukan," ujarnya.

Menurutnya, NU sejatinya telah memiliki pedoman yang menjadi arah perjalanan organisasi, yakni khittah NU. Nilai-nilai tersebut, kata dia, perlu kembali dipahami dan dijadikan pijakan oleh seluruh warga Nahdliyin.

"Sebetulnya ada roadmap, ada garis-garis besar di NU. Itu yang disebut dengan khittah asasnya. Dan itu yang ingin saya siapkan untuk bisa dibaca, bisa dipahami oleh semua warga Nahdliyin, terutama PWNU tentunya,” jelasnya.

“Bahwa hal itu dulu di awal-awal NU didirikan digunakan, dan mampu menyatukan orang-orang serta mampu menyatukan semua organisasi penduduk Indonesia. Itu penting," lanjut Gus Kikin.

Ia menilai sudah saatnya NU kembali mengedepankan persatuan dan menghindari potensi perpecahan yang muncul akibat kompetisi internal.

"Kita juga sudah waktunya untuk menyatukan. Jangan karena semangat-semangat kontestasi itu mendatangkan banyak perpecahan," tegasnya.

Terkait kemungkinan mendapat amanah memimpin organisasi apabila diminta oleh Ketua PBNU, Gus Kikin menyatakan siap menjalankan tanggung jawab tersebut. "Kalau saya, yang namanya amanah, ya siap," ucapnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengingatkan agar proses organisasi tetap menjunjung etika dan nilai-nilai keagamaan. Salah satunya menghindari praktik yang mengarah pada politik uang maupun pemberian imbalan (bisyaroh).

"Nah, itu termasuk salah satu. Baik dari sisi agama, maupun dari sisi etika masyarakat," pungkasnya.