Jumat, 03 July 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Kebiasaan Hemat Energi. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM -Kebiasaan hemat energi tidak terbentuk dalam semalam. Sama seperti membangun pola hidup sehat atau mengatur keuangan, efisiensi penggunaan listrik juga dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan berulang setiap hari.
Bagi mahasiswa, pekerja muda, maupun penghuni kos di kota besar seperti Surabaya, kebiasaan tersebut bukan hanya membantu mengurangi pengeluaran, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih bertanggung jawab.
Di tengah semakin tingginya penggunaan perangkat elektronik, kebutuhan listrik terus mengalami peningkatan. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan konsumsi listrik nasional per kapita mencapai sekitar 1.337 kilowatt-jam (kWh) pada 2024, meningkat dibandingkan sekitar 1.173 kWh pada 2021. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa listrik semakin menjadi kebutuhan utama dalam aktivitas masyarakat modern.
Karena itu, membangun kebiasaan hemat energi bukan berarti mengurangi kenyamanan, melainkan menggunakan energi secara lebih efisien tanpa mengubah kualitas hidup.
Memulai dari Aktivitas yang Paling Sering Dilakukan
Banyak orang menganggap penghematan listrik harus dimulai dengan membeli perangkat baru yang lebih mahal. Padahal, perubahan perilaku justru memberikan hasil yang paling cepat.
Mematikan lampu ketika meninggalkan kamar, mencabut charger setelah selesai digunakan, serta memanfaatkan cahaya matahari pada siang hari merupakan contoh kebiasaan yang tidak membutuhkan biaya tambahan.
Menurut International Energy Agency (IEA), konsumsi listrik dari perangkat elektronik yang tetap berada dalam kondisi standby dapat mencapai sekitar 5–10 persen dari penggunaan listrik rumah tangga.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan sederhana seperti mematikan sakelar atau mencabut steker memiliki dampak nyata apabila dilakukan secara konsisten. Rutinitas kecil inilah yang paling mudah diterapkan oleh penghuni kos maupun keluarga.
Memilih Peralatan yang Lebih Efisien
Selain perubahan perilaku, pemilihan perangkat elektronik juga memengaruhi penggunaan energi dalam jangka panjang.
Lampu LED menjadi contoh paling sederhana.
Berdasarkan data International Energy Agency, teknologi LED menggunakan sekitar 75 persen lebih sedikit energi dibandingkan lampu pijar konvensional dan memiliki umur pakai hingga 25 kali lebih lama.
Begitu pula dengan peralatan elektronik yang telah memiliki Label Tanda Hemat Energi dari pemerintah. Label tersebut membantu konsumen mengenali produk dengan tingkat efisiensi yang lebih baik sehingga biaya penggunaan listrik dapat ditekan selama masa pemakaian.
Meskipun harga awal terkadang sedikit lebih tinggi, biaya operasional yang lebih rendah membuat investasi tersebut menjadi lebih menguntungkan dalam jangka panjang.
Membangun Rutinitas Bersama
Kebiasaan hemat energi akan lebih mudah dipertahankan apabila dilakukan bersama orang-orang di sekitar. Di lingkungan kos, misalnya, penghuni dapat saling mengingatkan untuk mematikan lampu ruang bersama, menggunakan pendingin ruangan secara bijak, atau memastikan perangkat elektronik tidak terus menyala ketika tidak digunakan.
Budaya saling peduli seperti ini membuat penghematan energi tidak lagi menjadi tanggung jawab individu semata, melainkan bagian dari kebiasaan kolektif.
Di kota seperti Surabaya yang memiliki banyak kawasan pendidikan dan permukiman mahasiswa, perubahan sederhana di tingkat komunitas berpotensi memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan jika dilakukan secara sendiri-sendiri.
Konsisten Lebih Penting daripada Sempurna
Tidak semua perubahan harus dilakukan sekaligus. Membangun kebiasaan baru membutuhkan waktu dan proses.
Sebagian orang memulai dengan mengganti lampu menjadi LED. Yang lain mulai membiasakan membuka jendela pada pagi hari agar tidak perlu menyalakan lampu.
Ada pula yang memilih menggunakan mode hemat daya pada laptop dan telepon pintar untuk mengurangi konsumsi energi.
Langkah-langkah kecil tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika dilakukan setiap hari akan membentuk pola hidup yang lebih efisien.
Laporan International Energy Agency bahkan menyebut efisiensi energi sebagai salah satu strategi paling efektif untuk menekan pertumbuhan kebutuhan energi sekaligus mengurangi emisi karbon secara global.
Pada akhirnya, kebiasaan hemat energi bukan sekadar soal mengurangi tagihan listrik. Kebiasaan ini mencerminkan cara berpikir yang lebih bijak dalam menggunakan sumber daya.
Dari kamar kos yang sederhana di Surabaya hingga rumah keluarga di berbagai daerah, setiap tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten menjadi investasi bagi pengeluaran yang lebih terkendali, lingkungan yang lebih baik, dan masa depan energi yang lebih berkelanjutan.
