Selasa, 01 September 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Bertemu Lewat Olahraga. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Komunitas olahraga belakangan terasa semakin dekat dengan kehidupan sosial perkotaan. Orang datang untuk berlari, bersepeda, bermain raket, atau berlatih bersama, tetapi yang bertahan sering kali bukan semata-mata olahraganya.
Di Surabaya, pemandangan itu mudah ditemukan pada pagi akhir pekan. Ada kelompok kecil berlari sambil mengobrol, pesepeda berhenti untuk sarapan, sampai peserta latihan yang baru saling mengenal bertukar akun media sosial setelah sesi selesai.
Perubahan ini menarik karena olahraga mulai mengambil fungsi yang dahulu banyak ditemui di ruang nongkrong. Pertemuan tetap santai, hanya saja ada aktivitas fisik di tengahnya.
Dari Mencari Keringat Menjadi Mencari Lingkaran Baru
Laporan Strava Year in Sport 2024 memberi gambaran cukup jelas mengenai pergeseran tersebut. Laporan itu mengolah miliaran aktivitas dari komunitas Strava yang saat itu beranggotakan lebih dari 135 juta pengguna di lebih dari 190 negara, serta survei terhadap 5.068 responden aktif.
Sebanyak 58 persen responden mengatakan mereka mendapatkan teman baru melalui kelompok kebugaran. Pada Gen Z, proporsinya bahkan mencapai 66 persen. Hampir separuh responden, atau 48 persen, menyebut hubungan sosial sebagai alasan utama bergabung dengan kelompok fitness.
Fenomena paling kentara terlihat pada komunitas lari. Partisipasi dalam running club di platform tersebut tumbuh 59 persen sepanjang 2024. Aktivitas jalan kaki berkelompok juga mencatat pertumbuhan sekitar 52 persen.
Data dari satu platform tentu tidak dapat dianggap mewakili seluruh masyarakat. Namun polanya cocok dengan apa yang terlihat di banyak kota: aktivitas fisik semakin sering dipakai sebagai alasan untuk bertemu orang.
Ada sesuatu yang praktis di sini. Mengobrol sambil jogging terasa lebih cair dibanding datang ke acara networking formal. Orang sudah memiliki topik pembuka yang sama, mulai rute, sepatu, cuaca, sampai tempat makan setelah latihan.
Surabaya Punya Ruang untuk Budaya Olahraga Sosial
Surabaya menyediakan latar yang cukup khas untuk kebiasaan tersebut. Pagi hari memberi jeda sebelum suhu meningkat dan jalan menjadi lebih padat. Trotoar yang panjang, kawasan permukiman, taman, lapangan olahraga, hingga ruas kota yang nyaman untuk berlari menjadi titik temu alami.
Kelompoknya tidak selalu besar atau terorganisasi rapi. Kadang hanya enam orang yang rutin bertemu seminggu sekali. Ada pula komunitas yang berawal dari grup percakapan, lalu berkembang setelah anggota mengajak teman lain.
Karakter olahraga sosial juga membuat pilihan kegiatan semakin beragam. Running club paling mudah terlihat, tetapi pola serupa muncul pada badminton, bersepeda, latihan kekuatan, senam, bahkan olahraga raket yang sedang populer.
Pertemuan setelah latihan sering punya peran sama pentingnya. Sarapan, minum kopi, atau duduk sebentar sambil membahas rencana pekan depan membuat relasi tumbuh tanpa perlu acara khusus.
Di kota dengan rutinitas kerja yang rapat, kombinasi seperti ini terasa efisien. Satu agenda bisa memenuhi kebutuhan bergerak sekaligus menjaga kehidupan sosial.
Orang Bisa Bertahan Lebih Lama Saat Merasa Menjadi Bagian Kelompok
Aspek sosial ternyata juga berkaitan dengan kebiasaan berolahraga itu sendiri. Sebuah tinjauan sistematis terbaru terhadap 21 penelitian tentang kelas olahraga kelompok pada orang dewasa menemukan bahwa keyakinan terhadap kemampuan diri, rasa menjadi bagian kelompok, dukungan sosial, kesenangan, dan perilaku instruktur termasuk faktor psikososial yang diperiksa dalam kaitannya dengan kepatuhan latihan.
Hubungannya tidak selalu sama kuat pada semua studi, tetapi unsur sosial muncul berulang kali dalam pembahasan mengenai kehadiran dan keberlanjutan latihan.
Tinjauan sistematis lain terhadap 35 penelitian mengenai kepatuhan pada intervensi gaya hidup juga menempatkan dukungan sosial dan rasa tanggung jawab kepada kelompok sebagai faktor lingkungan yang dapat membantu seseorang bertahan menjalani perubahan kebiasaan.
Dalam keseharian, mekanismenya jauh lebih sederhana daripada istilah ilmiahnya.
Ada teman yang sudah menunggu pukul enam pagi. Ada grup yang bertanya siapa ikut latihan. Ada rasa kurang enak membatalkan janji untuk ketiga kalinya. Dorongan kecil seperti itu bisa berpengaruh, terutama ketika motivasi pribadi sedang turun.
Media Sosial Membuat Komunitas Lebih Mudah Tumbuh
Dulu, komunitas olahraga sangat bergantung pada pertemuan fisik atau informasi dari mulut ke mulut. Sekarang satu unggahan Instagram atau video TikTok bisa mempertemukan orang yang tinggal di kota sama tetapi sebelumnya tidak pernah berkenalan.
Aplikasi kebugaran menambah lapisan baru. Rute latihan bisa dibagikan, aktivitas diberi respons, agenda diumumkan, dan anggota baru dapat melihat karakter kelompok sebelum datang.
Ada sisi yang perlu dijaga. Ketika semua latihan berubah menjadi konten, suasana komunitas bisa terasa kompetitif. Pace lari, jumlah kilometer, kalori, atau peralatan mahal mudah menjadi ukuran yang sebenarnya tidak diperlukan. Padahal kebutuhan dunia terhadap aktivitas fisik masih sangat mendasar.
WHO memperkirakan 31 persen orang dewasa dunia atau sekitar 1,8 miliar orang belum memenuhi rekomendasi aktivitas fisik pada 2022. WHO menyarankan sedikitnya 150 menit aktivitas intensitas sedang per minggu, atau 75 menit aktivitas berat, ditambah latihan penguatan otot setidaknya dua hari dalam seminggu.
Komunitas yang ramah terhadap pemula berpotensi membuat angka-angka tersebut terasa lebih manusiawi. Seseorang tidak perlu langsung menjadi pelari cepat untuk mulai aktif.
Ruang Sosial Baru Tak Harus Menjadi Eksklusif
Pertumbuhan komunitas olahraga membawa tantangan kecil yang kadang luput dibahas. Kelompok yang awalnya terbuka bisa perlahan terasa eksklusif ketika standar kecepatan, peralatan, biaya, atau penampilan menjadi terlalu dominan.
Tidak semua orang mampu membeli sepatu terbaru atau membayar kelas berkali-kali setiap minggu. Sebagian hanya ingin berjalan lima kilometer bersama orang lain.
Komunitas yang sehat memberi ruang bagi perbedaan tersebut. Ada kelompok cepat dan santai, peserta baru tidak dibiarkan tertinggal, serta agenda tidak selalu bergantung pada konsumsi setelah latihan.
Strava mencatat aktivitas lari, bersepeda, dan hiking bersama kelompok berisi lebih dari sepuluh orang memiliki durasi rata-rata sekitar 40 persen lebih panjang dibanding aktivitas yang dilakukan sendirian. Temuan itu tidak otomatis berarti latihan kelompok selalu lebih baik, tetapi memperlihatkan betapa kehadiran orang lain dapat mengubah pengalaman bergerak.
Bagi sebagian warga Surabaya, komunitas olahraga akhirnya menawarkan hal yang sederhana: ada alasan untuk keluar rumah, tubuh bergerak, lalu pulang membawa satu atau dua nama baru di daftar kontak.
Mungkin itu sebabnya komunitas olahraga semakin terasa seperti ruang bersosialisasi baru. Tidak perlu obrolan pembuka yang rumit. Kadang semuanya dimulai dari satu kalimat pendek, “besok ikut lagi?”
