Selasa, 10 March 2026 03:20 UTC

Jumarti Kepala SDN Dukuh 05, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, Jawa Tengah, marah pada Kepala SPPG Sawahan dan ahli gizi karena buah yang diberikan dalam MBG busuk dan menuduh ada markp up harga makanan menu MBG. Sumber: media sosial
JATIMNET.COM - Sebuah video berisi seorang kepala sekolah marah-marah pada empat orang diduga petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) viral di media sosial.
Dalam video berdurasi 5 menit itu seorang ibu kepala sekolah marah karena kualitas menu yang disajikan dalam Makan Bergizi Gratis (MBG) buruk.
Selain buruk, harga makanan yang disajikan juga diduga telah digelembungkan atau jauh lebih mahal dari harga sebenarnya di tingkat produsen makanan.
Salah satu yang diprotes adalah harga sebuah roti kecil yang dikemas dalam plastik.
“Njenengan ngomong iki piro? Ayo tak ajak nang nggone Dennis yo, ayo (Anda ngomong ini berapa? Ayo saya ajak ke tempatnya Dennis, ayo).”
“Tak ajak ke Dennis ini harga berapa atau tak bawa ke pabriknya di Sarirejo (Saya ajak ke Dennis ini harga berapa atau saya bawa ke pabriknya di Sarirejo). Aku wong dodol, mbak (Saya orang jualan).”
“Ini berapa di sana? Rp750. Benar enggak ini Rp750? Karena saya biasa ambil di sana. Betul enggak ini kerjasama dengan pabrik di Sarirejo,” kata sang ibu kepala sekolah mencecar pertanyaan pada salah satu petugas SPPG berjilbab. Petugas SPPG itu pun hanya terpaku dan menunduk takut.
Petugas SPPG yang lain yang ada di sebelahnya bertanya. “Sarirejo itu mana, bu?”.
Guru lain yang merekam kejadian ini dengan handphone menjawab. “Sembir,” katanya.
Setelah ditelusuri di internet, roti yang dimaksud adalah salah satu produk pabrik roti Dennis Bakery yang berada di Kampung Sarirejo atau Sembir, Kelurahan Bugel, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah.
Ibu kepala sekolah yang marah dalam video tersebut adalah Jumarti Kepala SDN Dukuh 05, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, Jawa Tengah.
Peristiwa itu terjadi pada Selasa, 24 Februari 2026, di ruang guru SDN setempat.
Dugaan Mark Up Harga Makanan
Jumarti terus melontarkan komplainnya dan menuduh SPPG melakukan markup harga makanan untuk mengambil untung banyak, termasuk pada roti yang disajikan dalam menu MBG.
“Ini Rp750, trus nek didol Rp3.500 batine piro? (Ini Rp750, lalu kalau dijual Rp3.500 untungnya berapa?,” katanya.
Dia juga mengeluhkan harga kue seperti gorengan yang diklaim oleh SPPG Rp3.500. “Sekarang ini, njenengan bilang Rp3.500, ayo saya ajak ke warung itu lho mbak, Rp2.000 tebal, dua kalinya ini,”
Selain roti, Jumarti juga mengkomplain buah jeruk yang busuk.
“Jeruk busuk, saya tidak (perlu) beli. Walaupun semiskin miskinnya orang sini, ibu mau enggak jeruk busuk tadi? Enak enggak? Mas, enak enggak? Njenengan lulusan gizi. Tahu nggak gizi kayak gini, bener nggak? Lalu apa gunanya ahli gizi?,” katanya pada petugas SPPG dan ahli gizi dari SPPG.
“Ya, ini kualitasnya kurang baik,” kata lelaki ahli gizi SPPG. Ahli gizi lulusan kampus swasta ini sempat menanggapi keluhan kepala sekolah. “Kita khan ribuan porsi,” katanya.
Alasan ini langsung ditanggapi Jumarti. “Walaupun ribuan, ini lho hampir semua (jeruk yang diberikan busuk), demeken, demeken (pegang, pegang),” katanya sambil meminta ahli gizi memegang jeruk yang sudah membusuk.
“Ahli gizi kok ngekeki koyok ngene yo opo (Ahli gizi kok memberi seperti ini gimana),” katanya.
Pihaknya sepakat akan mengembalikan menu MBG yang tidak sesuai syarat yang sudah ditentukan Badan Gizi Nasional (BGN).
“Sekarang ini yang protes semua sekolah lho dan ini akan dikembalikan, karena kami sudah kompak untuk mengembalikan,” kata Jumarti.
