Sabtu, 01 August 2026 11:00 UTC

Ilustrasi: Gotong Royong Warga. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Kegiatan bersih lingkungan tetap menjadi salah satu bentuk komunitas lokal yang bertahan di tengah kehidupan perkotaan yang semakin sibuk.
Di berbagai kawasan Surabaya, kerja bakti tidak hanya bertujuan membersihkan jalan dan saluran air, tetapi juga menjadi ruang bertemu, saling mengenal, dan memperkuat hubungan antarwarga. Tradisi ini memiliki nilai yang semakin penting ketika sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di kawasan perkotaan.
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), hasil Sensus Penduduk 2020 menunjukkan sekitar 56,7 persen penduduk Indonesia telah tinggal di wilayah perkotaan.
Angka tersebut diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Kepadatan penduduk membawa tantangan baru, mulai dari pengelolaan sampah, kualitas lingkungan, hingga berkurangnya interaksi sosial jika tidak diimbangi kegiatan bersama.
Surabaya menjadi salah satu kota yang konsisten mengembangkan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan. Program kampung hijau, bank sampah, penghijauan, hingga kerja bakti rutin menunjukkan bahwa pembangunan kota tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada keterlibatan aktif warganya.
Kerja Bakti Masih Relevan di Tengah Kota Modern
Perubahan gaya hidup membuat banyak pekerjaan rumah tangga kini dilakukan secara praktis. Namun, membersihkan lingkungan bersama masih sulit digantikan oleh teknologi.
Saat warga berkumpul membersihkan selokan, memangkas tanaman, atau mengecat fasilitas umum, tercipta percakapan yang jarang terjadi pada hari-hari biasa. Orang yang sebelumnya hanya saling mengenal wajah mulai mengetahui nama, pekerjaan, hingga aktivitas satu sama lain.
Hubungan yang terbangun melalui kegiatan sederhana seperti ini sering menjadi modal sosial yang berharga ketika lingkungan menghadapi persoalan bersama.
Lingkungan Bersih Memberikan Dampak Nyata
Persoalan sampah masih menjadi tantangan di banyak kota. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan timbulan sampah Indonesia mencapai lebih dari 30 juta ton per tahun berdasarkan pelaporan pemerintah daerah.
Sebagian besar berasal dari sampah rumah tangga, dengan sisa makanan dan plastik menjadi komponen terbesar.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah tidak mungkin hanya mengandalkan petugas kebersihan. Perubahan kebiasaan masyarakat tetap menjadi faktor utama untuk mengurangi timbulan sampah sekaligus menjaga kualitas lingkungan.
Kerja bakti juga membantu mencegah saluran air tersumbat, mengurangi genangan saat hujan, dan menjaga ruang terbuka tetap nyaman digunakan masyarakat.
Komunitas Lokal Menumbuhkan Kepedulian Sejak Dini
Kegiatan bersih lingkungan sering melibatkan anak-anak dan remaja. Mereka diajak menyapu halaman, memilah sampah, atau menanam pohon bersama orang tua dan tetangga.
Pengalaman langsung seperti ini memberi pelajaran yang sulit diperoleh hanya melalui teori. Anak-anak belajar bahwa kebersihan merupakan tanggung jawab bersama, bukan pekerjaan satu kelompok tertentu.
Tidak sedikit komunitas warga di Surabaya yang kemudian mengembangkan kegiatan lanjutan, seperti lomba kampung bersih, kebun bersama, bank sampah, hingga pelatihan pengolahan limbah rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomi.
Hubungan Sosial Tumbuh Bersama Kepedulian Lingkungan
Lingkungan yang terawat sering kali mencerminkan kuatnya hubungan antarwarga. Ketika komunikasi berjalan baik, berbagai persoalan dapat diselesaikan melalui musyawarah dan kerja sama.
Surabaya telah lama dikenal melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat berbasis kampung. Keberhasilan banyak kawasan meraih penghargaan kebersihan dan penghijauan menunjukkan bahwa partisipasi warga mampu menghadirkan perubahan yang nyata tanpa harus selalu bergantung pada proyek berskala besar.
Kegiatan bersih lingkungan juga menciptakan rasa memiliki terhadap tempat tinggal. Warga cenderung lebih peduli menjaga taman, fasilitas umum, dan kebersihan jalan ketika mereka ikut terlibat dalam proses merawatnya.
Komunitas lokal membuktikan bahwa gotong royong tetap relevan di era modern. Aktivitas yang berlangsung hanya beberapa jam pada akhir pekan dapat menghasilkan manfaat yang bertahan jauh lebih lama, mulai dari lingkungan yang lebih sehat hingga
hubungan sosial yang semakin erat.
Di kota sebesar Surabaya, kebersamaan seperti inilah yang membuat sebuah lingkungan terasa lebih hangat dan nyaman untuk ditinggali.
