Rabu, 30 September 2026 09:00 UTC

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kediri Erwanto saat menyampaikan materi dalam peningkatan kapasitas kader IK & ILTB Dinkes di Hotel Lotus Garden, Rabu, 30 September 2026. Foto: Queenta.
JATIMNET.COM, Kediri – Pemerintah Kota Kediri masih mengejar 442 temuan kasus tuberkulosis (TBC) untuk memenuhi target penemuan kasus tahun 2026.
Hingga 24 September, baru 1.430 kasus TBC yang terdeteksi atau sekitar 76 persen dari target 1.872 kasus.
Upaya menemukan kasus yang belum terdata kini diperluas hingga lingkungan permukiman. Dinas Kesehatan Kota Kediri tidak hanya menunggu warga datang ke puskesmas, tetapi aktif melakukan penelusuran kontak atau tracing ke rumah warga, kawasan padat penduduk hingga pondok pesantren.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Kota Kediri mengejar target eliminasi TBC pada 2030. Namun, selain temuan kasus yang belum mencapai target, capaian penelusuran kontak dan terapi pencegahan juga masih perlu diperkuat.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menyebut hingga 24 September 2026, capaian tracing baru mencapai 62 persen. Sementara, pemberian terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) masih berada di angka 17 persen.
“Setelah menemukan seseorang dengan TBC, pekerjaan kita belum selesai. Kita harus memastikan siapa saja yang tinggal serumah, siapa yang sering berinteraksi dekat, apakah mereka sudah diperiksa, dan apabila memenuhi kriteria apakah sudah mendapatkan terapi pencegahan,” jelasnya, Rabu, 30 September 2026.
Vinanda menyampaikannya saat membuka Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kader dalam Pelacakan Kontak dan Pencegahan TBC di Hotel Lotus Garden.
Pelatihan tersebut diikuti 135 kader kesehatan TBC bersama petugas puskesmas se-Kota Kediri. Kader menjadi salah satu ujung tombak karena mereka berhadapan langsung dengan masyarakat di tingkat kelurahan.
Vinanda meminta kader tidak hanya membantu menemukan warga yang diduga terpapar. Namun, juga mampu menjelaskan pentingnya TPT dan mendampingi pasien hingga menyelesaikan pengobatan.
“Saya yakin kader yang hadir hari ini bisa melakukan investigasi kontak dengan baik, bisa menjelaskan manfaat TPT kepada masyarakat dengan humanis, dan bisa mendampingi pasien agar menjalani pengobatan sampai selesai. Yakinkan bahwa TBC bisa disembuhkan dan obatnya gratis,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan kader agar tidak mengabaikan perlindungan diri ketika melakukan pendampingan terhadap pasien TBC.
“Masker ini adalah suatu kewajiban. Jangan sampai niat baik ingin membantu, tetapi lupa pakai masker atau lupa cuci tangan setelah kontak dengan pasien. Ini berbahaya karena TBC menular,” katanya.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kediri Erwanto mengatakan masih adanya selisih antara target dan capaian menunjukkan kemungkinan masih terdapat penderita TBC yang belum terdata.
“Target kita tahun ini sekitar 1.800 kasus, dan saat ini baru tercapai 1.430. Artinya masih ada penderita di masyarakat yang belum terdata. Lewat pelatihan ini, kita tingkatkan kemampuan kader agar lebih aktif melacak penderita di lingkungannya,” kata Erwanto.
Selain mengandalkan kader, Dinkes Kota Kediri juga menerjunkan tim khusus ke sejumlah kelurahan dan lembaga pendidikan, termasuk pondok pesantren. Penelusuran aktif tersebut diharapkan mempercepat penemuan kasus sekaligus memutus rantai penularan TBC.
Upaya itu menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kota Kediri untuk mencapai eliminasi TBC pada 2030.
Queenta Deyanti - Kediri
