Minggu, 05 July 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Tidur lebih awal. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Tidur lebih awal kembali menjadi tantangan bagi banyak keluarga ketika tahun ajaran baru dimulai. Selama masa liburan, jam tidur anak cenderung lebih fleksibel.
Waktu menonton televisi, bermain gim, atau berkumpul bersama keluarga sering membuat waktu istirahat bergeser hingga larut malam. Ketika sekolah dimulai kembali, perubahan ritme ini perlu disesuaikan secara bertahap.
Fenomena tersebut hampir selalu terjadi setiap pergantian masa liburan. Anak membutuhkan waktu untuk mengembalikan pola tidur agar mampu bangun lebih pagi tanpa merasa kelelahan.
Di sisi lain, orang tua juga harus kembali menyesuaikan jadwal keluarga, mulai dari menyiapkan sarapan hingga mengantar anak ke sekolah tepat waktu.
Menurut Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, peserta didik pada jenjang pendidikan dasar umumnya memulai kegiatan belajar sejak pagi.
Karena itu, kualitas tidur malam menjadi salah satu faktor penting agar anak dapat mengikuti pembelajaran dalam kondisi yang lebih siap.
Liburan Sering Mengubah Jam Biologis Anak
Tubuh manusia memiliki ritme sirkadian, yaitu jam biologis yang mengatur waktu tidur dan bangun. Ketika selama beberapa minggu anak terbiasa tidur lebih larut, tubuh akan menyesuaikan diri dengan pola tersebut.
Akibatnya, saat sekolah dimulai kembali, banyak anak merasa sulit tidur lebih awal meskipun harus bangun pagi. Kondisi ini bukan semata-mata karena kurang disiplin, melainkan bagian dari proses adaptasi tubuh terhadap perubahan jadwal.
Karena itu, para ahli tidur menyarankan agar perubahan dilakukan secara bertahap. Memajukan waktu tidur sekitar 15–30 menit setiap malam biasanya lebih mudah diterima tubuh dibandingkan memaksanya berubah drastis dalam satu hari.
Durasi Tidur yang Cukup Berpengaruh terhadap Proses Belajar
Rekomendasi dari American Academy of Sleep Medicine (AASM) menyebutkan bahwa anak usia 6–12 tahun membutuhkan 9–12 jam tidur setiap malam, sedangkan remaja usia 13–18 tahun memerlukan 8–10 jam tidur untuk mendukung kesehatan, proses belajar, dan perkembangan.
Rekomendasi tersebut juga sejalan dengan berbagai panduan kesehatan anak yang digunakan secara internasional. Tidur yang cukup berkaitan dengan kemampuan berkonsentrasi, daya ingat, pengendalian emosi, hingga kebugaran fisik selama beraktivitas.
Sebaliknya, kurang tidur dapat membuat anak lebih mudah mengantuk di kelas, sulit mempertahankan perhatian saat guru menjelaskan materi, dan merasa cepat lelah ketika mengikuti kegiatan sekolah.
Tidur bukan sekadar waktu untuk beristirahat, tetapi merupakan bagian dari proses pemulihan tubuh dan otak setelah beraktivitas sepanjang hari.
Peran Orang Tua Lebih Penting daripada Sekadar Mengingatkan
Mengajak anak tidur lebih awal sering kali lebih efektif melalui kebiasaan yang konsisten daripada sekadar memberikan perintah. Misalnya, seluruh anggota keluarga mulai mengurangi penggunaan gawai menjelang malam, meredupkan pencahayaan rumah, atau membiasakan membaca buku sebelum tidur.
Kebiasaan tersebut membantu tubuh mengenali bahwa waktu istirahat sudah semakin dekat. Sebaliknya, paparan cahaya terang dari layar ponsel atau tablet hingga larut malam dapat menghambat produksi hormon melatonin, yaitu hormon yang membantu tubuh merasa mengantuk.
Orang tua juga dapat menghindari aktivitas yang terlalu merangsang menjelang tidur, seperti bermain gim dengan intensitas tinggi atau menonton tayangan yang membuat anak terlalu bersemangat.
Dengan suasana malam yang lebih tenang, proses tidur biasanya berlangsung lebih alami.
Awal Tahun Ajaran Menjadi Momentum Memperbaiki Kebiasaan
Perubahan rutinitas pada awal tahun ajaran tidak hanya berkaitan dengan jadwal sekolah, tetapi juga menjadi kesempatan membangun pola hidup yang lebih sehat.
Tidur cukup, sarapan sebelum berangkat, membawa bekal, dan menyiapkan perlengkapan sekolah sejak malam sebelumnya merupakan kebiasaan yang saling mendukung.
Kebiasaan ini memang membutuhkan waktu untuk terbentuk. Namun, ketika dilakukan secara konsisten, anak akan lebih mudah menjalani aktivitas pagi tanpa terburu-buru atau merasa kelelahan.
Bagi keluarga di Surabaya maupun kota-kota lain, masa adaptasi ini dapat dimanfaatkan untuk menyusun kembali ritme harian yang sempat berubah selama liburan. Tidak harus sempurna sejak hari pertama, tetapi cukup dimulai dari langkah-langkah kecil yang dapat dilakukan bersama.
Memasuki tahun ajaran baru, tidur lebih awal bukan sekadar soal jam istirahat. Kebiasaan ini menjadi fondasi bagi kesiapan belajar, kesehatan, dan kenyamanan menjalani rutinitas setiap hari. Ketika malam ditutup dengan istirahat yang cukup, pagi pun lebih mudah dimulai dengan semangat yang baru.
