Jumat, 03 July 2026 01:00 UTC

Ilustrasi: Hemat Energi Harian. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Hemat listrik di kos sering dianggap sebagai langkah sederhana yang dampaknya tidak terlalu besar.
Padahal, kebiasaan kecil seperti mematikan lampu saat ruangan kosong atau mencabut pengisi daya yang tidak digunakan dapat memberikan pengaruh nyata, baik terhadap pengeluaran pribadi maupun konsumsi energi secara nasional.
Di tengah meningkatnya penggunaan perangkat elektronik oleh generasi muda, kesadaran terhadap efisiensi energi menjadi semakin relevan.
Laptop, ponsel, kipas angin, pendingin ruangan, hingga rice cooker kini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari penghuni kos.
Semuanya memang mempermudah hidup, tetapi tanpa kebiasaan yang bijak, konsumsi listrik juga meningkat secara perlahan.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari 99 persen rumah tangga di Indonesia telah menikmati akses listrik.
Di sisi lain, kebutuhan listrik nasional terus bertambah seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan digitalisasi masyarakat.
Kondisi tersebut membuat efisiensi penggunaan energi menjadi salah satu upaya penting yang dapat dilakukan dari tingkat rumah tangga.
Pengeluaran Kecil yang Sering Tidak Disadari
Banyak penghuni kos lebih fokus menghitung biaya makan atau transportasi dibandingkan konsumsi listrik. Padahal, penggunaan alat elektronik yang kurang efisien juga berkontribusi terhadap pengeluaran bulanan, terutama di kos yang menggunakan sistem pembayaran listrik mandiri.
Salah satu contoh sederhana adalah lampu yang menyala sepanjang hari meski ruangan kosong. Kebiasaan lain ialah membiarkan televisi, dispenser, atau charger tetap terhubung ke stopkontak meski tidak sedang digunakan.
Berdasarkan kajian International Energy Agency (IEA), perangkat elektronik yang berada dalam kondisi standby tetap mengonsumsi energi.
Pada banyak rumah tangga, konsumsi listrik dari perangkat siaga dapat mencapai 5 hingga 10 persen dari total penggunaan listrik rumah tangga. Angka ini memang terlihat kecil, tetapi akan terus terakumulasi sepanjang tahun.
Lampu LED Membawa Perubahan Besar
Mengganti lampu konvensional dengan lampu LED menjadi salah satu langkah efisiensi yang paling mudah diterapkan.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bersama berbagai program efisiensi energi selama beberapa tahun terakhir juga terus mendorong penggunaan lampu LED karena jauh lebih hemat dibandingkan lampu pijar.
Data International Energy Agency menunjukkan bahwa lampu LED dapat menggunakan sekitar 75 persen lebih sedikit energi dibandingkan lampu pijar tradisional, sekaligus memiliki usia pakai hingga 25 kali lebih lama.
Kombinasi dua keuntungan tersebut membuat biaya operasional dalam jangka panjang menjadi lebih rendah.
Bagi penghuni kos, penggantian satu atau dua titik lampu memang tampak sederhana. Namun jika diterapkan secara luas di jutaan rumah dan kamar kos di Indonesia, penghematan energi yang dihasilkan menjadi sangat signifikan.
Perangkat Elektronik Perlu Digunakan Secara Bijak
Kehidupan modern membuat hampir semua aktivitas bergantung pada perangkat elektronik. Kuliah daring, pekerjaan freelance, hiburan, hingga komunikasi dilakukan melalui perangkat digital.
Karena itu, tujuan hemat energi bukanlah mengurangi produktivitas, melainkan menggunakan perangkat sesuai kebutuhan.
Misalnya, mengatur suhu pendingin ruangan pada kisaran 24–26 derajat Celsius, memanfaatkan cahaya matahari pada siang hari, serta mengaktifkan mode hemat daya pada laptop dan ponsel. Kebiasaan tersebut membantu menekan konsumsi listrik tanpa mengurangi kenyamanan.
Di banyak negara, efisiensi energi bahkan dipandang sebagai "sumber energi pertama". Artinya, energi yang berhasil dihemat dianggap sama berharganya dengan energi yang berhasil diproduksi karena keduanya sama-sama mengurangi kebutuhan pembangkitan listrik.
Kebiasaan Sederhana yang Berdampak Lebih Luas
Kesadaran menghemat energi sering kali dimulai dari alasan yang sangat personal, yaitu mengurangi pengeluaran bulanan. Namun dampaknya tidak berhenti pada tingkat individu.
Laporan International Energy Agency menunjukkan bahwa peningkatan efisiensi energi merupakan salah satu strategi paling efektif dalam menekan pertumbuhan kebutuhan energi sekaligus mengurangi emisi karbon di berbagai negara.
Bagi kota besar seperti Surabaya yang terus berkembang dengan aktivitas pendidikan, perdagangan, dan jasa, budaya menggunakan listrik secara efisien juga menjadi bagian dari gaya hidup urban yang lebih bertanggung jawab.
Pada akhirnya, hemat listrik bukan sekadar soal mematikan sakelar. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten mampu membentuk pola hidup yang lebih disiplin, mengurangi pemborosan, sekaligus membantu menjaga keberlanjutan energi di masa depan.
Di kamar kos yang ukurannya mungkin tidak seberapa, setiap keputusan sederhana tentang penggunaan listrik ternyata memiliki arti yang jauh lebih besar daripada yang sering kita bayangkan.
