Logo

Kasus ISPA di Jatim Naik 25,6 Persen Selama Kemarau Panjang, Surabaya Tertinggi

Reporter:,Editor:

Sabtu, 03 October 2026 07:56 UTC

Kasus ISPA di Jatim Naik 25,6 Persen Selama Kemarau Panjang, Surabaya Tertinggi

Kepala Dinkes Jatim Erwin Astha Triyono saat diwawancarai, Sabtu, 3 Oktober 2026. Foto: Januar

JATIMNET.COM, Surabaya – Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur mencatat peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama musim kemarau panjang pada 2026. Sejak Januari hingga September, rata-rata kasus ISPA mencapai sekitar 147.000 kasus setiap bulan.

Angka tersebut naik sekitar 25,6 persen dibandingkan rata-rata kasus ISPA sepanjang 2025 yang berada di kisaran 117.000 kasus per bulan.

Kepala Dinkes Jatim Erwin Astha Triyono mengatakan kasus ISPA sempat mencapai titik tertinggi pada Agustus 2026. Saat itu, jumlah kasus tercatat lebih dari 200.000 kasus dalam sebulan.

"Meski pada Agustus sempat terjadi puncaknya yang mencapai sekitar 200.000 lebih kasus, pola ini memang berkaitan erat dengan musim kemarau yang kerap disertai faktor pendukung seperti polusi udara," ujar Erwin, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Menurut Erwin, kondisi udara yang kering selama musim kemarau dapat ikut memicu gangguan pada saluran pernapasan. Penurunan kualitas udara akibat polusi juga dapat memperburuk kondisi tersebut.

"Kondisi tersebut juga dapat diperburuk oleh penurunan kualitas udara akibat polusi," jelas Erwin.

Dinkes Jatim mencatat lima daerah dengan kontribusi kasus ISPA tertinggi. Wilayah tersebut meliputi Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Malang, dan Kota Malang.

Meski jumlah kasus meningkat, Erwin memastikan fasilitas pelayanan kesehatan di Jawa Timur masih mampu menangani pasien. Puskesmas dan rumah sakit tetap disiapkan untuk menghadapi peningkatan kebutuhan layanan kesehatan.

"Kesiapan layanan kesehatan terus kami pantau agar masyarakat tetap mendapatkan penanganan yang dibutuhkan," katanya.

Dinkes Jatim juga meningkatkan perhatian terhadap kelompok yang berisiko mengalami kondisi lebih berat ketika terserang ISPA. Kelompok tersebut mencakup bayi, lanjut usia (lansia), ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit penyerta atau komorbid.

Erwin mengimbau masyarakat dalam kelompok rentan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan jika gejala ISPA tidak kunjung membaik. Pemeriksaan lebih awal diperlukan untuk mencegah kondisi pasien memburuk dan mengurangi risiko komplikasi.

"Strategi penanganan saat ini difokuskan melalui sistem surveillance di site sentinel yang berpusat di Kota Malang. Rumah sakit dan puskesmas di daerah juga terpantau siap siaga, dengan tingkat keterisian di rumah sakit yang masih terkendali di kisaran 40 hingga 60 persen," ujarnya.

Untuk menekan risiko penularan, Dinkes Jatim mengingatkan masyarakat agar tetap menerapkan pola hidup sehat selama kondisi cuaca kering dan kualitas udara berpotensi menurun.

Masyarakat yang sedang sakit maupun berada di tengah kerumunan juga diminta konsisten menggunakan masker. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi risiko penularan ISPA melalui droplet.

Selain penggunaan masker, masyarakat perlu menjaga asupan nutrisi seimbang dan memenuhi kebutuhan istirahat. Kedua hal tersebut penting untuk membantu mempertahankan daya tahan tubuh.

Dinkes Jatim juga meminta masyarakat mengenali gejala ISPA dan tidak mengabaikan keluhan yang berlangsung lama atau semakin berat. Masyarakat diimbau segera mencari pertolongan medis apabila mengalami kondisi tersebut.