Minggu, 19 July 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Langkah menuju sehat. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Jalan kaki jarak dekat kembali mendapat tempat dalam gaya hidup masyarakat perkotaan. Aktivitas yang sempat tergeser oleh penggunaan kendaraan bermotor kini mulai dipilih untuk perjalanan singkat, seperti menuju minimarket, tempat makan, halte, kantor, atau lokasi pertemuan yang masih berada dalam radius beberapa ratus meter.
Fenomena ini tidak hanya dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran akan kesehatan, tetapi juga perubahan cara masyarakat memandang mobilitas sehari-hari.
Data World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa sekitar 31 persen orang dewasa di dunia belum memenuhi tingkat aktivitas fisik yang direkomendasikan.
Kurangnya aktivitas tersebut meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, termasuk penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan beberapa jenis kanker.
Berjalan kaki menjadi salah satu aktivitas fisik paling sederhana yang dapat dilakukan tanpa memerlukan peralatan khusus maupun biaya tambahan. Karena itulah, kebiasaan ini kembali mendapat perhatian di berbagai kota, termasuk Surabaya.
Kota yang Semakin Ramah bagi Pejalan Kaki
Perubahan perilaku masyarakat juga dipengaruhi oleh perkembangan ruang publik. Dalam beberapa tahun terakhir, Surabaya terus memperluas dan memperbaiki jalur pedestrian di berbagai kawasan utama.
Koridor seperti Jalan Tunjungan, Jalan Pemuda, kawasan Balai Pemuda, hingga sejumlah taman kota kini menyediakan trotoar yang lebih nyaman dibandingkan satu dekade lalu.
Kehadiran ruang pejalan kaki yang lebih baik membuat masyarakat memiliki pilihan transportasi yang lebih beragam untuk perjalanan jarak dekat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat urbanisasi Indonesia terus meningkat. Pada Sensus Penduduk 2020, sekitar 56,7 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan akan mobilitas yang efisien sekaligus sehat menjadi semakin penting. Berjalan kaki menjadi bagian dari solusi yang dapat dilakukan tanpa mengubah rutinitas secara drastis.
Langkah Sederhana dengan Manfaat Besar
Banyak orang menganggap jalan kaki hanya sebagai aktivitas berpindah tempat. Padahal, manfaatnya jauh lebih luas. WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan 150 hingga 300 menit aktivitas fisik intensitas sedang setiap minggu.
Berjalan kaki dengan tempo normal sudah termasuk dalam kategori aktivitas fisik yang membantu memenuhi rekomendasi tersebut apabila dilakukan secara rutin.
Selain membantu menjaga kebugaran, berjalan kaki juga memberi kesempatan tubuh bergerak setelah duduk terlalu lama. Kebiasaan ini penting, terutama bagi pekerja kantoran yang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan komputer.
Tidak sedikit perusahaan kini mulai mendorong karyawan berjalan kaki saat jam istirahat untuk membeli makan siang atau sekadar menghirup udara segar di sekitar kantor.
Efisiensi yang Mulai Disadari Masyarakat
Jalan kaki ternyata tidak hanya berkaitan dengan kesehatan. Banyak masyarakat mulai menyadari manfaatnya dari sisi efisiensi.
Untuk perjalanan yang hanya berjarak beberapa ratus meter, berjalan kaki sering kali membutuhkan waktu yang hampir sama dengan menggunakan kendaraan bermotor, terutama ketika kondisi lalu lintas sedang padat atau mencari tempat parkir menjadi tantangan.
Selain menghemat bahan bakar, kebiasaan ini juga membantu mengurangi emisi kendaraan dalam skala kecil. Jika dilakukan secara luas oleh masyarakat perkotaan, dampaknya tentu menjadi lebih signifikan.
Laporan International Energy Agency (IEA) menunjukkan sektor transportasi menyumbang sekitar 23 persen emisi karbon dioksida (CO₂) global yang berasal dari pembakaran bahan bakar.
Walaupun berjalan kaki bukan satu-satunya solusi, perubahan perilaku masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam mendukung mobilitas yang lebih berkelanjutan.
Menjadi Bagian dari Gaya Hidup Kota
Suasana Surabaya pada pagi maupun sore hari mulai memperlihatkan perubahan tersebut. Di kawasan perkantoran, banyak pekerja memilih berjalan menuju kedai kopi, restoran, atau minimarket dibandingkan menggunakan kendaraan untuk jarak yang sangat dekat.
Pemandangan serupa juga terlihat di sekitar taman kota dan kawasan komersial. Masyarakat memanfaatkan trotoar yang lebih nyaman untuk menikmati perjalanan singkat sambil berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Perubahan ini menunjukkan bahwa gaya hidup modern tidak selalu identik dengan kecepatan. Ada kalanya langkah yang lebih pelan justru menghadirkan pengalaman yang lebih nyaman sekaligus memberi manfaat bagi tubuh.
Jalan kaki jarak dekat bukan sekadar pilihan transportasi, melainkan bagian dari perubahan kebiasaan masyarakat yang lebih memperhatikan kesehatan, efisiensi, dan kualitas lingkungan. Semakin sering dilakukan, semakin besar pula manfaat yang dapat dirasakan, baik oleh individu maupun kota tempat mereka tinggal.
