Kamis, 03 September 2026 11:00 UTC

Ilustrasi: Pilih Waktu yang Tepat. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Waktu beraktivitas saat cuaca panas perlu dipertimbangkan ketika musim kemarau mencapai puncaknya. Berjalan, berolahraga, berkendara, atau menyelesaikan pekerjaan luar ruangan pada waktu berbeda dapat memberikan beban panas yang berbeda pula.
Memasuki September 2026, persoalan tersebut relevan bagi masyarakat Jawa Timur. BMKG menyatakan provinsi ini sedang berada pada puncak musim kemarau periode Agustus–September, dengan kondisi cuaca cenderung lebih panas dan kering.
BMKG mencatat 12 dari 74 Zona Musim atau 16,2 persen ZOM di Jawa Timur diprediksi mencapai puncak musim kemarau pada September. Sebanyak 53 ZOM atau 71,6 persen telah mencapai puncaknya pada Agustus.
Waktu Beraktivitas Saat Cuaca Panas Perlu Diatur
Tubuh manusia sebenarnya memiliki kemampuan beradaptasi terhadap panas. Keringat dan peningkatan aliran darah menuju kulit membantu tubuh melepaskan panas ke lingkungan.
Masalah dapat muncul ketika tubuh menerima panas lebih cepat daripada kemampuannya melepaskan panas. Aktivitas fisik ikut menghasilkan panas dari dalam tubuh sehingga bebannya dapat bertambah ketika dilakukan di lingkungan yang sangat panas.
WHO menyarankan masyarakat menghindari aktivitas berat pada waktu terpanas dalam sehari. Jika aktivitas berat memang harus dilakukan, waktu yang lebih sejuk menjadi pilihan yang lebih aman.
WHO bahkan menyebut sekitar pukul 04.00–07.00 sebagai periode pagi yang biasanya lebih sejuk untuk aktivitas berat dalam panduan menghadapi gelombang panas. Namun, waktu ideal tetap perlu menyesuaikan cuaca lokal dan kondisi masing-masing daerah.
Artinya, tidak ada satu jam yang otomatis aman untuk semua tempat. Prakiraan cuaca harian tetap penting karena suhu, kelembapan, awan, angin, dan paparan matahari dapat berubah.
Matahari Langsung Membuat Panas Terasa Berbeda
Angka suhu udara pada aplikasi cuaca terkadang membuat seseorang merasa kondisi di luar seharusnya masih nyaman. Begitu berjalan di area terbuka, panas justru terasa jauh lebih kuat.
Perbedaan itu masuk akal. WHO menjelaskan bahwa suhu yang dilaporkan umumnya diukur di tempat teduh. Di bawah paparan matahari langsung, suhu yang dirasakan dapat sekitar 10–15 derajat Celsius lebih tinggi.
Karena itu, memilih rute dapat sama pentingnya dengan memilih waktu. Trotoar dengan pepohonan, halte beratap, koridor bangunan, atau taman rindang membantu mengurangi paparan radiasi matahari secara langsung.
Kementerian Kesehatan RI juga menganjurkan masyarakat menghindari kontak langsung dengan sinar matahari ketika menghadapi cuaca panas. Topi atau payung dapat digunakan sebagai perlindungan tambahan saat harus berada di luar.
Kebiasaan tersebut terlihat sederhana, tetapi berguna bagi orang yang sering berpindah tempat. Lima belas menit berjalan di bawah matahari terbuka tentu memberikan pengalaman berbeda dibanding berjalan melalui jalur yang teduh.
Aktivitas Pagi Bisa Menjadi Pilihan Lebih Nyaman
Banyak kegiatan harian sebenarnya dapat digeser tanpa mengubah seluruh jadwal. Jalan kaki, jogging, mencuci kendaraan, berbelanja, atau merawat halaman dapat dilakukan ketika udara belum terlalu panas.
Pagi menjadi pilihan praktis karena paparan matahari umumnya belum sekuat periode berikutnya. Untuk olahraga berat, panduan WHO menyarankan memilih bagian hari yang paling sejuk apabila aktivitas tidak dapat dihindari.
Namun, olahraga pagi bukan alasan mengabaikan hidrasi. Tubuh tetap menghasilkan panas dan kehilangan cairan melalui keringat, terutama ketika intensitas kegiatan meningkat.
Kementerian Kesehatan menganjurkan masyarakat minum banyak air dan tidak menunggu rasa haus saat menghadapi cuaca panas. Pakaian ringan dan longgar juga direkomendasikan untuk membantu menjaga kenyamanan tubuh.
Bagi pekerja yang tidak memiliki kebebasan memilih jam kerja, strategi dapat dialihkan pada hal yang masih bisa dikendalikan. Misalnya, mengambil jeda di tempat teduh, membawa air, dan mengurangi aktivitas fisik yang tidak mendesak.
Kemarau Jawa Timur Membuat Adaptasi Makin Penting
Musim kemarau Jawa Timur pada 2026 diperkirakan lebih kering di sebagian besar wilayah. Dari 74 ZOM, BMKG memprediksi 56 ZOM atau sekitar 75,5 persen luas Jawa Timur mengalami sifat hujan bawah normal.
Durasi musimnya juga cukup panjang di sejumlah daerah. Musim kemarau terpanjang diprediksi berlangsung 22–24 dasarian pada 20 ZOM atau sekitar 23 persen luas Jawa Timur. Satu dasarian merupakan periode sepuluh hari.
BMKG juga memproyeksikan peluang El Niño kategori lemah hingga moderat sebesar 50–60 persen hingga akhir 2026. Kondisi tersebut membuat musim kemarau Jawa Timur berpotensi lebih kering.
Data itu tidak berarti seluruh wilayah Jawa Timur mengalami panas dengan intensitas sama setiap hari. Namun, kondisi kemarau yang panjang membuat adaptasi terhadap panas layak menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
BMKG sendiri mengingatkan bahwa pada periode puncak kemarau Agustus–September, potensi kekeringan dan kebakaran lahan meningkat. Masyarakat juga diminta menjaga ketersediaan air serta memantau informasi cuaca resmi.
Jeda Singkat Membantu Mengurangi Paparan Panas
Mengatur aktivitas bukan hanya soal memilih pagi atau sore. Durasi seseorang berada di lingkungan panas juga perlu diperhatikan.
WHO menyarankan berada sekitar dua hingga tiga jam dalam sehari di tempat yang lebih sejuk ketika menghadapi periode panas.
Langkah tersebut terutama berguna ketika rumah atau lingkungan sehari-hari sulit dipertahankan tetap sejuk.
Bagi masyarakat perkotaan, tempat sejuk tidak selalu berarti ruangan dengan pendingin udara. Area teduh dengan sirkulasi udara baik juga dapat membantu tubuh mendapatkan jeda dari paparan matahari langsung.
Tubuh perlu diperhatikan selama aktivitas berlangsung. Rasa lemah, sakit kepala, kram, pusing, atau kondisi yang terasa tidak biasa merupakan alasan untuk menghentikan kegiatan dan mencari tempat lebih sejuk.
WHO menyebut orang berusia lanjut, bayi, pekerja luar ruangan, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu lebih rentan terhadap dampak suhu tinggi. Panas juga dapat memperburuk penyakit jantung, pernapasan, ginjal, dan kondisi kronis lainnya.
Mengatur waktu aktivitas akhirnya bukan tentang takut keluar rumah saat matahari bersinar. Tujuannya adalah menyesuaikan rutinitas dengan kondisi lingkungan agar tubuh tidak menerima beban panas yang sebenarnya bisa dikurangi.
Pada September yang masih berada dalam periode puncak kemarau Jawa Timur, kebiasaan ini semakin relevan. Periksa prakiraan cuaca, pilih waktu lebih sejuk, cari jalur teduh, bawa air, dan beri tubuh waktu beristirahat.
Waktu beraktivitas saat cuaca panas yang direncanakan dengan baik membuat rutinitas tetap berjalan. Perubahan kecil pada jam dan cara beraktivitas dapat menjadi bentuk sederhana kepedulian terhadap kesehatan.
