Kamis, 03 September 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Nyaman di Hari Panas. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Memilih pakaian saat cuaca panas bukan hanya persoalan gaya. Bahan, potongan, warna, hingga aksesori yang digunakan dapat memengaruhi kenyamanan tubuh ketika beraktivitas di luar ruangan.
Hal ini relevan pada awal September 2026. BMKG Jawa Timur menyatakan provinsi ini sedang berada pada puncak musim kemarau periode Agustus–September, dengan cuaca yang cenderung lebih panas dan kering.
Dari 74 Zona Musim atau ZOM di Jawa Timur, sebanyak 12 ZOM atau 16,2 persen bahkan diprediksi baru mencapai puncak kemarau pada September. Artinya, memilih pakaian yang nyaman tetap penting meski Agustus sudah berlalu.
Pakaian Saat Cuaca Panas Membantu Tubuh Melepas Panas
Tubuh manusia menghasilkan panas dari proses metabolisme. Ketika lingkungan ikut panas, tubuh perlu membuang panas tersebut agar suhu internal tetap terkendali.
WHO menjelaskan bahwa pakaian dapat menjadi penghalang pelepasan panas dari tubuh. Faktor lingkungan seperti suhu tinggi, kelembapan, angin rendah, dan radiasi panas juga memengaruhi kemampuan tubuh menjaga suhunya.
Karena itu, pakaian longgar dan ringan lebih dianjurkan ketika menghadapi cuaca panas. WHO memasukkan pilihan tersebut sebagai salah satu langkah sederhana untuk menjaga tubuh tetap sejuk.
Prinsipnya cukup sederhana. Tubuh membutuhkan ruang untuk melepaskan panas dan menguapkan keringat, bukan tambahan lapisan yang membuat panas semakin terperangkap.
Kenyamanan pakaian pun menjadi lebih penting bagi orang yang banyak berjalan, menggunakan transportasi umum, mengendarai motor, atau bekerja di luar ruangan.
Bahan Ringan Lebih Nyaman untuk Aktivitas Harian
Kemeja tebal mungkin terlihat rapi, tetapi belum tentu nyaman untuk berjalan di bawah matahari. Hal serupa berlaku pada celana dengan bahan berat atau pakaian yang terlalu ketat.
Saat memilih pakaian untuk hari panas, pertimbangkan bahan yang terasa ringan dan memungkinkan sirkulasi udara. Katun ringan dan linen menjadi pilihan populer karena karakter bahannya nyaman untuk pakaian kasual.
Namun, nama bahan bukan satu-satunya pertimbangan. Ketebalan kain, konstruksi pakaian, ukuran, serta kemampuan bahan mengelola keringat juga memengaruhi kenyamanan.
Untuk aktivitas fisik, beberapa bahan teknis dirancang agar kelembapan lebih cepat berpindah dari kulit. Pilihan semacam ini bisa lebih nyaman untuk berjalan jauh atau berolahraga dibanding kaus yang menahan banyak keringat.
Potongan pakaian juga sebaiknya tidak terlalu rapat. CDC merekomendasikan pakaian yang longgar dan ringan untuk membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan terkait panas.
Jadi, pakaian nyaman saat panas tidak harus selalu tipis. Tujuan utamanya adalah mengurangi beban panas tanpa mengabaikan kebutuhan perlindungan kulit.
Warna Terang Bisa Menjadi Pilihan Praktis
Warna pakaian sering dianggap sekadar persoalan selera. Namun, saat beraktivitas di bawah matahari, pilihan warna dapat ikut menentukan seberapa banyak radiasi matahari diserap permukaan pakaian.
WHO menyarankan pakaian berwarna terang ketika cuaca panas karena warna tersebut lebih banyak memantulkan sinar matahari daripada menyerapnya. CDC juga memasukkan pakaian berwarna terang dalam rekomendasi perlindungan saat panas.
Pilihan seperti putih, krem, abu-abu muda, biru muda, atau warna pastel mudah diterapkan dalam gaya sehari-hari. Warna tersebut juga relatif mudah dipadukan dengan berbagai bawahan.
Namun, warna bukan satu-satunya faktor. Baju putih yang sangat tebal dan ketat belum tentu lebih nyaman dibanding pakaian agak gelap dengan bahan ringan dan potongan longgar.
Pendekatan yang lebih masuk akal adalah melihat pakaian sebagai satu paket. Warna, bahan, ketebalan, ukuran, dan kebutuhan aktivitas perlu dipertimbangkan bersamaan.
Melindungi Kulit Tidak Harus Membuat Gerah
Cuaca panas sering memunculkan dilema. Mengenakan pakaian lebih tertutup dapat melindungi kulit, tetapi terlalu banyak lapisan juga membuat tubuh terasa gerah.
Solusinya bukan selalu mengurangi pakaian sebanyak mungkin. Pakaian ringan yang menutupi kulit dapat menjadi pilihan ketika seseorang harus berada cukup lama di bawah matahari.
WHO merekomendasikan anak memakai pakaian ringan dan longgar yang menutupi kulit, ditambah topi bertepi lebar, kacamata hitam, dan tabir surya saat terpapar matahari. Prinsip perlindungan serupa juga relevan bagi orang dewasa.
Mencari tempat teduh sama pentingnya. WHO menyebut berada di tempat teduh dapat mengurangi panas yang dirasakan lebih dari 10 derajat Celsius dibanding paparan langsung dalam kondisi tertentu.
Artinya, pakaian terbaik sekalipun tidak menggantikan kebutuhan mengurangi paparan panas. Topi, payung, pohon rindang, halte beratap, atau berjalan melalui sisi jalan yang teduh dapat membantu.
Bagi pengendara motor, kebutuhan perlindungannya tentu berbeda. Jaket dan perlengkapan keselamatan tetap diperlukan, sehingga bahan yang memiliki ventilasi dapat menjadi pertimbangan untuk mengurangi rasa gerah.
Kemarau Jawa Timur Masih Perlu Diantisipasi
Pakaian nyaman menjadi semakin relevan jika melihat karakter musim kemarau Jawa Timur tahun ini. BMKG memprediksi 56 dari 74 ZOM di Jawa Timur mengalami sifat hujan bawah normal pada musim kemarau 2026. Jumlah tersebut setara sekitar 75,7 persen dari seluruh ZOM di provinsi ini.
Durasi kemarau juga tidak seragam. BMKG mencatat musim kemarau terpanjang diprediksi berada pada rentang 22–24 dasarian di 20 ZOM atau sekitar 23 persen luas Jawa Timur. Satu dasarian merupakan periode sepuluh hari.
Data tersebut menunjukkan bahwa adaptasi terhadap kondisi kering tidak harus selalu berupa perubahan besar. Pilihan kecil dalam rutinitas sehari-hari juga bisa membuat perbedaan.
Menyiapkan pakaian berdasarkan aktivitas adalah salah satunya. Hari untuk bekerja di kantor tentu membutuhkan pilihan berbeda dengan hari untuk berjalan kaki, berkendara jauh, atau menghadiri kegiatan luar ruangan.
Periksa pula prakiraan cuaca sebelum keluar rumah. Kondisi antarwilayah dapat berbeda, sehingga informasi cuaca harian lebih berguna daripada sekadar beranggapan bahwa seluruh Jawa Timur sedang sama panasnya.
Pada akhirnya, pakaian saat cuaca panas perlu menyeimbangkan tiga hal: kenyamanan, kemampuan tubuh melepaskan panas, dan perlindungan dari paparan matahari.
Tidak perlu mengganti seluruh isi lemari ketika musim kemarau datang. Mulailah dari pakaian ringan, potongan lebih longgar, warna yang nyaman, serta perlindungan tambahan sesuai aktivitas.
Pilihan sederhana tersebut membantu tubuh menjalani hari panas dengan lebih nyaman. Apalagi pada September, ketika sebagian wilayah Jawa Timur masih berada dalam periode puncak musim kemarau.
