Senin, 18 May 2026 03:00 UTC

Pertandingan dalam Kejurprov IPSI Jatim yang digelar di Gelora Pancasila, Senin, 18 Mei 2026. Foto: Januar.
JATIMNET.COM, Surabaya – Sebanyak 390 pesilat berlaga dalam Kejuaran Provinsi Ikatan Pencak Silat Indonesia Jawa Timur (Kejuprov IPSI Jatim) 2026.
Ratusan pesilat dari 38 Kabupaten/Kota se-Jatim itu berebut tiket menuju Pra-Pekan Olahraga Nasional (PON) 2027 dan PON 2028.
Laga bertajuk Piala BHS Cup yang digelar di Gelora Pancasila berlangsung selama lima hari, mulai dari 17-21 Mei 2026.
Ketua Umum IPSI Jatim, Bambang Harjo Soekartono menegaskan kejuaraan ini bukan sekadar agenda rutin olahraga daerah. Namun, sebagai bagian dari proses panjang pembentukan kekuatan Jatim untuk menghadapi panggung nasional.
Menurutnya, seluruh peserta akan dipantau ketat untuk disaring menjadi bagian dari skuad Puslatda dan dipersiapkan menghadapi Pra-PON 2027 hingga PON 2028.
Seleksi lanjutan disebut akan kembali dilakukan pada November mendatang untuk menentukan atlet terbaik yang layak membawa nama Jatim.
“Ajang ini menjadi bagian dari seleksi atlet menuju Pra-PON dan PON. Kami ingin memastikan Jawa Timur kembali memiliki kekuatan besar di pencak silat,” ujar pria yang akrab disapa BHS, Senin, 18 Mei 2026.
Di tengah keterbatasan anggaran olahraga, IPSI Jatim memilih bergerak mandiri. Bambang mengungkapkan, penyusutan anggaran Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Dispora membuat pembinaan atlet harus dilakukan dengan inisiatif internal organisasi.
Meski demikian, ia memastikan pembinaan tidak boleh berhenti. Sebab, pencak silat bukan hanya soal prestasi, tetapi juga pembentukan karakter generasi muda melalui disiplin, budaya, kesantunan, dan mental tangguh.
“Olahraga, khususnya silat menjadi bagian penting membangun generasi muda yang kuat secara fisik maupun karakter,” katanya.
BHS juga menyoroti target berat yang dipasang KONI Jatim setelah capaian pencak silat Jatim dalam beberapa PON terakhir dinilai belum maksimal. Pada PON sebelumnya, Jatim hanya mampu membawa pulang dua medali emas.
Pada PON mendatang, KONI Jatim menargetkan pencak silat mampu menembus lebih dari empat emas. Target itu dinilai realistis.
Sebab, stok atlet elite berkelas dunia dari Jatim masih cukup banyak, seperti Sarah Tria Monita, Mochammad Amri, dan sederet atlet muda yang lain. “Pembinaan sekarang jauh lebih baik. Kami yakin prestasi Jawa Timur akan meningkat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum KONI Jatim, M. Nabil memberikan apresiasi terhadap langkah IPSI Jatim yang berani menggelar kejuaraan besar secara mandiri.
Menurut Nabil, tingginya antusiasme peserta menunjukkan semangat daerah-daerah dalam membangun kekuatan pencak silat masih sangat besar. Namun ia mengingatkan, besarnya jumlah peserta harus sejalan dengan peningkatan prestasi di level nasional.
“Jangan hanya ramai peserta, tetapi prestasi stagnan. Harus ada lompatan kualitas,” kata Nabil.
Ia menilai Kejurprov menjadi momentum penting karena Porprov 2027 sudah terlalu dekat dengan Babak Kualifikasi PON.
Oleh karena itu, proses pencarian atlet terbaik harus dilakukan sejak sekarang dengan sistem seleksi yang objektif dan berbasis prestasi pertandingan.
Nabil berharap agar tidak ada lagi atlet yang dipilih hanya berdasarkan penunjukan tanpa proses kompetitif.
Menurutnya, Jawa Timur seharusnya menjadi kekuatan utama pencak silat nasional karena memiliki jumlah perguruan silat terbesar di Indonesia. Ironis jika dominasi itu tidak berbanding lurus dengan raihan medali emas di PON.
“Nomor pertandingan ada 22. Sangat ironis kalau Jawa Timur tidak menjadi kekuatan besar pencak silat,” ujarnya.
Sebagai bentuk keseriusan pembinaan, IPSI Jatim disebut berkomitmen menggelar minimal empat kejuaraan selevel Kejurprov setiap tahun untuk menjaga atmosfer kompetisi dan regenerasi atlet tetap hidup.
