Sabtu, 24 May 2025 07:00 UTC

GARAM LOKAL. Petani garam di Desa Kalibuntu, Kec. Kraksaan, Kab. Probolinggo memanen garam. Foto: Zulafif
JATIMNET.COM, Probolinggo - Petani garam di Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, kini bisa tersenyum lega setelah kebijakan pemerintah mengurangi kuota impor garam dari 2,5 juta ton menjadi 1,7 juta ton.
Harga garam yang melonjak signifikan memberikan keuntungan yang lebih layak bagi para petani.
Selama ini, petani garam di Kalibuntu kerap merugi karena harga jual garam yang sangat rendah.
Sebelum adanya pembatasan impor, mereka hanya mampu menjual garam seharga Rp500 per kilogram. Perolahan dari harga itu tak cukup untuk menutup biaya produksi, termasuk solar, listrik, dan kebutuhan operasional lainnya.
Ketua Kelompok Petani Garam Kalibuntu Sejahtera 1 Suparyono mengungkapkan rasa syukurnya atas kenaikan harga garam saat ini.
BACA: Produksi Garam Probolinggo Naik Dua Kali Lipat
"Dulu, kami hanya bisa menjual garam seharga Rp500 per kilogram. Sekarang, setelah ada pembatasan impor, harganya naik menjadi Rp1.100 per kilogram," ujarnya, Sabtu 24 Mei 2025.
Dari lahan seluas 1,5 hektar, Suparyono telah melakukan enam kali panen dengan total produksi mencapai 27 ton garam. Ia merupakan bagian dari kelompok petani Kalibuntu Sejahtera 1 yang terdiri dari sembilan anggota.
Secara keseluruhan, kelompok ini telah menghasilkan 132 ton garam. Garam produksi petani Kalibuntu dipasarkan ke berbagai wilayah di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur, seperti Kota Probolinggo, Lumajang, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.
BACA: Tambak Garam Terimbas Banjir Rob, Panen Garam di Probolinggo Molor
Panen garam diperkirakan akan berlanjut hingga Desember 2025, tergantung kondisi cuaca dan ketersediaan infrastruktur pendukung.
Suparyono berharap kebijakan pembatasan impor garam dapat terus dipertahankan agar harga garam lokal tetap stabil. Selain itu, ia meminta dukungan pemerintah dalam pengembangan usaha garam rakyat, terutama fasilitas produksi.
"Kami sangat membutuhkan bantuan pengadaan membran. Harganya memang mahal bagi kami, tapi membran sangat penting untuk menghasilkan garam yang lebih putih dan berkualitas tinggi," katanya.
Dengan kebijakan yang berpihak pada petani lokal diharapkan kesejahteraan petani garam di Desa Kalibuntu semakin membaik. Mereka bertekad untuk terus meningkatkan kualitas produksi agar mampu bersaing di pasar nasional.
