Logo

Cara Menentukan Tujuan Investasi Sebelum Memulai

Investasi yang sehat selalu dimulai dari tujuan yang jelas, bukan dari rasa takut tertinggal tren.
Reporter:,Editor:

Minggu, 07 June 2026 05:00 UTC

Cara Menentukan Tujuan Investasi Sebelum Memulai

Ilustrasi: Rencana Uang Muda. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Tujuan investasi menjadi fondasi penting sebelum anak muda memilih instrumen keuangan. Tanpa tujuan yang jelas, investasi mudah berubah menjadi aktivitas ikut-ikutan, reaktif, dan rentan panik saat pasar bergerak turun.

 

Fenomena investasi anak muda memang terus tumbuh. Data KSEI mencatat jumlah investor pasar modal Indonesia naik dari sekitar 3,88 juta pada 2020 menjadi lebih dari 20,3 juta SID pada akhir 2025. Kelompok usia di bawah 30 tahun juga masih mendominasi lebih dari separuh total investor pasar modal Indonesia. 

 

Angka ini menggambarkan perubahan besar dalam perilaku finansial generasi muda. Namun, pertumbuhan jumlah investor perlu diimbangi dengan kemampuan menyusun tujuan yang realistis.

 

 

Tujuan Investasi Membantu Mengukur Arah Keuangan

 

Banyak orang memulai investasi dari pertanyaan tentang produk. Padahal, langkah pertama yang lebih sehat adalah memahami tujuan hidup yang ingin dibiayai.

 

Tujuan investasi bisa berupa dana pendidikan, membeli laptop kerja, menikah, menyiapkan DP rumah, membangun dana pensiun, atau sekadar menjaga nilai uang dari inflasi.

 

Setiap tujuan memiliki horizon waktu berbeda. Tujuan satu tahun tentu tidak bisa diperlakukan sama dengan tujuan sepuluh tahun.

 

Di sinilah perencanaan menjadi penting. Uang untuk kebutuhan dekat sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang lebih stabil dan mudah dicairkan. Sementara tujuan jangka panjang memiliki ruang lebih besar untuk menerima fluktuasi.

 

Inflasi juga perlu masuk dalam perhitungan. Bank Indonesia mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 berada di level 3,08 persen. Artinya, nilai uang terus berubah dari waktu ke waktu, meski kenaikannya tampak kecil secara bulanan. 

 

 

Memisahkan Tujuan Pendek, Menengah, dan Panjang

 

Cara paling sederhana menentukan tujuan investasi adalah membaginya dalam tiga kelompok waktu.

 

Tujuan jangka pendek biasanya berada di bawah satu tahun. Contohnya dana liburan, biaya kursus, gadget produktif, atau kebutuhan kos yang sudah direncanakan.

 

Untuk tujuan seperti ini, keamanan dana lebih penting daripada mengejar imbal hasil tinggi. Instrumen yang terlalu fluktuatif bisa membuat nilai dana turun saat uang justru sedang dibutuhkan.

 

Tujuan jangka menengah berada di rentang satu sampai lima tahun. Contohnya biaya lanjut kuliah, modal usaha kecil, dana menikah, atau DP kendaraan.

 

Pada fase ini, investor muda bisa mulai menyeimbangkan antara stabilitas dan pertumbuhan. Risiko tetap perlu dijaga, tetapi ruang pertumbuhan aset sudah lebih terbuka.

 

Tujuan jangka panjang biasanya di atas lima tahun. Contohnya dana pensiun, rumah pertama, atau kebebasan finansial. Untuk tujuan panjang, fluktuasi jangka pendek lebih bisa ditoleransi selama strategi investasinya konsisten.

 

 

Profil Risiko Tidak Bisa Disamakan

 

Dua orang dengan usia sama belum tentu memiliki profil risiko yang sama. Mahasiswa yang masih bergantung pada uang bulanan keluarga tentu berbeda dengan pekerja muda yang sudah memiliki gaji tetap.

 

Begitu juga anak muda yang menanggung keluarga akan berbeda dengan yang belum memiliki tanggungan. Karena itu, profil risiko tidak hanya ditentukan oleh keberanian. Profil risiko juga dipengaruhi penghasilan, tanggungan, dana darurat, pengetahuan, dan kestabilan pekerjaan.

 

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 dari OJK dan BPS mencatat indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen.

 

Data ini menunjukkan akses ke produk keuangan sudah luas, tetapi pemahaman masyarakat belum sepenuhnya mengejar tingkat penggunaannya. 

 

Kesenjangan ini penting dibaca oleh investor muda. Mudah membuka akun investasi bukan berarti otomatis siap mengambil risiko investasi.

 

 

Dana Darurat Tetap Harus Didahulukan

 

Salah satu kesalahan umum investor pemula adalah langsung mengejar imbal hasil tanpa menyiapkan bantalan keuangan.

Padahal, dana darurat berfungsi sebagai pelindung saat terjadi kondisi tak terduga. Misalnya kehilangan pekerjaan, sakit, laptop rusak, atau kebutuhan keluarga mendadak.

 

Tanpa dana darurat, investasi jangka panjang bisa terpaksa dicairkan pada waktu yang kurang tepat. Akibatnya, tujuan investasi menjadi berantakan.

 

Idealnya, anak muda mulai membangun dana darurat minimal tiga sampai enam kali pengeluaran bulanan. Jumlah ini bisa lebih besar bagi pekerja lepas, perantau, atau orang dengan tanggungan keluarga.

 

Setelah dana darurat mulai terbentuk, barulah investasi bisa berjalan lebih tenang. Keputusan finansial tidak mudah dipengaruhi panik atau kebutuhan mendadak.

 

 

Investasi yang Baik Selalu Punya Angka

 

Tujuan investasi sebaiknya tidak berhenti pada kalimat umum seperti ingin kaya atau ingin bebas finansial. Tujuan yang baik perlu memiliki angka, tenggat waktu, dan alasan yang jelas. Misalnya, mengumpulkan Rp30 juta dalam tiga tahun untuk biaya pendidikan lanjutan.

 

Dengan angka yang jelas, seseorang bisa menghitung kebutuhan investasi bulanan. Ia juga bisa menilai apakah target tersebut realistis dengan penghasilan dan pengeluaran saat ini.

 

Pendekatan ini membuat investasi terasa lebih membumi. Anak muda tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi memahami hubungan antara kebiasaan harian dan tujuan besar.

 

Pada akhirnya, tujuan investasi bukan sekadar rencana di atas kertas. Ia membantu anak muda memilih instrumen, mengatur emosi, menjaga konsistensi, dan memahami alasan di balik setiap keputusan keuangan.

 

Investasi yang matang tidak selalu dimulai dari modal besar. Sering kali, ia dimulai dari tujuan investasi yang jelas, realistis, dan sesuai dengan hidup yang sedang dijalani.