Minggu, 06 September 2026 07:36 UTC

Helikopter water bombing BPBD Jatim tiba di Paltuding untuk membantu pemadaman karhutla Kawah Ijen, Minggu pagi, 6 September 2026. Foto: BPBD Banyuwangi
JATIMNET.COM, Banyuwangi – BPBD Jawa Timur berencana mengusulkan pembangunan embung khusus di kawasan Ijen kepada Perhutani dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur. Fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) apabila peristiwa serupa kembali terjadi.
Rencana itu muncul di tengah upaya pemadaman karhutla di kawasan Kawah Ijen, Banyuwangi, yang kini diperkuat melalui operasi udara. Helikopter water bombing milik BPBD Jawa Timur tiba di Paltuding Kawah Ijen, Minggu pagi, 6 September 2026 dan langsung dikerahkan untuk membantu menjangkau titik api yang sulit ditangani melalui jalur darat.
Tenaga Ahli BPBD Provinsi Jawa Timur, Bagio, mengatakan kebutuhan embung khusus cukup penting untuk mendukung operasi pemadaman di kawasan pegunungan. Selama ini, petugas kerap mengandalkan sumber air yang tersedia di sekitar lokasi ketika terjadi kebakaran.
"Karena kebanyakan di Jawa Timur ini kita ngak siap untuk itu. Jadi yang sering kita ngambil (air) di kolamnya orang, hotel, embung petani. Tapi tidak masalah kalau keadaan darurat," kata Bagio.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi respons cepat Pemerintah Provinsi Jawa Timur setelah pihaknya mengajukan bantuan helikopter water bombing.
"Alhamdulilah pengajuan kami untuk bantuan helikopter water boombing direspon cepat oleh Pemprov Jatim. Terima kasih Ibu Gubernur, semoga kebakaran di Kawah Ijen segera padam," kata Ipuk Fiestiandani saat dikonfirmasi beberapa jam setelah pengerahan water boombing.
Operasi pemadaman dari udara diprioritaskan di sekitar jalur pendakian. Bagio mengatakan kawasan tersebut menjadi perhatian karena merupakan salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara.
"Untuk operasi pemadaman (udara) ini, kita prioritaskan jalur pendakian," ujar Bagio.
Petugas belum dapat memastikan jumlah penyiraman yang bisa dilakukan helikopter dalam sehari. Intensitas operasi sangat bergantung pada ketersediaan sumber air serta kondisi cuaca di kawasan Gunung Ijen.
"Kalau seperti di Semeru, sehari bisa 20 kali, karena lokasi air dekat. Kalau disini (Ijen) kita ngak bisa mutusin. Tergantung dengan weather. Apalagi di atas anginnya kenceng sekali," tutur dia.
Untuk memenuhi kebutuhan air selama operasi, petugas telah menyiapkan sejumlah sumber air. Salah satunya berada di embung kawasan Medco Geothermal.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, mengatakan helikopter diarahkan untuk memadamkan dua titik api yang masih berkobar di kawasan hulu.
"Jadi yang mengarah ke jalur pendakian, sama satu lagi yang jelas yang mengarah ke bawah. Jangan sampai api malah turun dan merembet ke Gunung Ranti," kata Patria.
Patria menjelaskan salah satu titik kebakaran berada di kawasan yang cukup panjang dan mengarah ke bawah. Kondisi medan di lokasi tersebut semakin menyulitkan upaya pemadaman karena terdapat jurang yang dalam.
Sementara itu, api yang bergerak ke arah atas telah berhenti di sekitar bibir kawah. Meski demikian, petugas masih menghadapi kondisi medan yang kompleks karena kawasan tersebut memiliki banyak punggung bukit yang menyerupai labirin.
Karakter medan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan strategi pemadaman melalui udara. Petugas juga harus memperhitungkan lokasi pengambilan air agar helikopter dapat menjalankan operasi secara efektif.
"Untuk pengambilan air tadi sudah dipastikan oleh BPBD untuk mengambil dari dua embung di Medco. Karena yang paling deket dan paling memungkinkan secara obstacle," terangnya.
Sebelum helikopter dikerahkan, petugas di lapangan melakukan pemantauan visual untuk menentukan titik api yang menjadi prioritas pemadaman. Langkah tersebut dilakukan untuk menyesuaikan sasaran operasi udara dengan perkembangan kondisi kebakaran.
"Petugas di lapangan terus melakukan pemantauan visual terhadap kondisi kebakaran. Pemantauan tersebut dilakukan untuk menentukan titik api yang menjadi prioritas sebelum helikopter dikerahkan," ucapnya.
Di sisi lain, kawasan di sekitar titik kebakaran telah disterilkan dari wisatawan. Jalur pendakian Kawah Ijen juga masih ditutup selama proses penanganan karhutla berlangsung.
