Senin, 06 April 2026 04:00 UTC

Ratusan karyawan saat menggelar unjuk rasa di depan gerbang PT Pakerin, Kabupaten Mojokerto. Foto: Hasan
JATIMNET.COM, Mojokerto – Sekitar 400 buruh PT Pakerin, perusahaan pengolahan kertas di Desa Ngerame, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto menggelar aksi unjuk rasa di depan gerbang pabrik, Senin Senin 6 April 2026.
Aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap manajemen perusahaan yang tak kunjung memenuhi hak-hak para pekerja hingga saat ini.
Dalam aksi tersebut, para demonstran membentangkan sejumlah spanduk yang berisi tuntutan.
Tulisan dalam spanduk itu, seperti “Tegakkan keadilan, kami bangkit melawan. Gaji kami harus dibayar sekarang juga' serta 'Keluarga kami butuh makan, bukan janji manis manajemen. Gaji adalah hak dasar, jangan sampai kami hidup dalam kesengsaraan”
Tak hanya itu, terdapat pula spanduk bernada harapan yang berbunyi, “Ya Allah, ketuk hati manajemen agar mengabulkan tuntutan kami”
Ketua SPSI PT Pakerin, Heru Nugroho mengungkapkan bahwa aksi ini diikuti ratusan karyawan yang telah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).
Mereka menuntut perusahaan segera memenuhi tiga kewajiban utama yang hingga kini belum terealisasi.
“Yang pertama, pembayaran upah untuk periode Oktober 2025 hingga Maret 2026 yang belum dibayarkan,” ujar Heru.
Selain itu, para pekerja juga mempersoalkan iuran BPJS Kesehatan yang telah dipotong dari gaji. Namun, tidak disetorkan oleh perusahaan hingga menyebabkan status kepesertaan mereka dinonaktifkan.
“BPJS Kesehatan kami tidak dibayarkan, sehingga pekerja kesulitan mendapatkan layanan pengobatan,” keluhnya.
Tuntutan ketiga adalah pemenuhan seluruh hak karyawan yang belum diselesaikan. Hal ini termasuk kompensasi bagi pekerja yang terdampak PHK.
Heru menyebut, sebagian pekerja hanya menerima pembayaran satu bulan gaji, meski hak lainnya belum dipenuhi.
Sebelumnya, lanjut Heru, pihak manajemen sempat menjanjikan pembayaran gaji untuk November dan Desember 2025 sebelum Hari Raya Paskah. Namun hingga kini, janji tersebut tak kunjung terealiasi.
“Karena tidak ada kepastian, akhirnya teman-teman memutuskan untuk turun aksi,” tegasnya.
Heru juga menjelaskan bahwa operasional pabrik pengolahan kertas tersebut telah berhenti selama kurang lebih satu tahun.
Kondisi ini diduga berkaitan dengan konflik internal di tingkat pemilik perusahaan yang berdampak langsung pada nasib para pekerja.
“Produksi sudah berhenti sekitar satu tahun. Permasalahan ini masih ada kaitannya dengan konflik internal pemilik,” pungkasnya.
Sementara itu, HRD PT Pakerin Heru Sumiaji yang menemui ratusan karyawan di depan pagar pabrik mengatakan, pihak perusahaan akan langsung berkoordinasi dengan pimpinan dari perwakilan serikat buruh.
"Terus terang saya tidak bisa menemui sampeyan (Anda) semua. Karena nanti, ada utusan dari Surabaya yang ketemu pimpinan serikat sampeyan," tandasnya.
