Di Daerah Terpencil

Dindik Jatim Gunakan Satelit untuk Selenggarakan USBN-BKS Daring

Khoirotul Lathifiyah

Rabu, 6 Februari 2019 - 16:44

JATIMNET.COM, Surabaya – Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur (Jatim) Saiful Rachman akan menggunakan satelit di kepulauan terpencil agar kegiatan USBN-BKS Online atau daring dapat dilakukan maksimal.

“Penyelenggaraan UNBK dan USBN-BKS secara daring sudah mencapai 90 persen. Salah satunya memasang satelit di daerah terpencil," kata Saiful saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon seluler, Rabu 6 Februari 2019.

Upaya ini dilakukan karena masih banyak sekolah di kepulauan terkendala masalah sinyal pemancar Wi Fi atau jaringan satelit Telkom. Salah satunya terjadi di daerah Madura.

Saiful mengungkapkan penyelenggaraan UNBK secara daring harus terus diperhatikan untuk mencari tahu kelemahannya. Sehingga pada pelaksanaan mendatang bisa dievaluasi untuk penyelenggaraan UNBK lebih matang.

BACA JUGA: Dinas Pendidikan Diminta Fokus Tingkatkan Kualitas Guru

“Dengan menggunakan satelit dari Telkom untuk menjangkau jaringan sinyal Wi Fi, diharapkan penyelenggaraan UNBK dan USBN-BKS daring bisa mencapai 100 persen,” tambahnya.

Sebab, sambung dia, teman-teman SMA/SMK telah menyambut ‘gengsi’ sekolah masing-masing. Artinya, bisa dikatakan ujian mengacu paperless. Ia menilai siswa termotivasi menjalani ujian dengan menggunakan teknologi.

“UNBK daring di semua jenjang mulai SD, SMP/MTS, SMA/MA, hingga SMK, jangan sampai kecolongan seperti tahun lalu yang terjadi di Surabaya, yaitu pembobolan soal,” kata Saiful.

Sementara itu, Kepala Cabang Dindik Jatim wilayah Sumenep Sugiono Eksantoso menilai Kepulauan Masalembu menjadi satu-satunya daerah yang belum bisa melaksanakan UNBK dan USBN-BKS daring dalam dua tahun terakhir.

BACA JUGA: RUU Pesantren Dan Pendidikan Keagaaman Harus Dirancang Ulang

Ini berbeda dengan daerah Sapeken, Pagerungan, Kangean, dan Arjasa yang sudah siap menyelenggarakan UNBK dan USBN-BKS daring.

Persoalan tersebut terjadi karena tidak adanya jaringan satelit untuk menangkap sinyal internet di Masalembu. Selama ini pihaknya masih menggunakan ujian offline menggunakan komputer di daerah tersebut.

”Ada empat sekolah di Masalembu yang kami target harus bisa menggelar secara daring tahun ini, yaitu SMAN 1 Masalembu, dua SMA swasta, dan SMK swasta. Sedikitnya 300 siswa dari keempat sekolah ini sulit mengadakan ujian daring dalam dua tahun terkahir ini,” ungkapnya.

Adanya kendala tersebut, wilayah Masalembu seringkali tertinggal dibanding wilayah lainnya. Selain itu, jumlah biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 9 juta per bulan dalam sekali perjalanan, menjadi sikap dilema bagi Dinas Pendidikan Jatim.

Baca Juga

loading...