Sabtu, 18 July 2026 10:00 UTC

Presiden Prabowo Subianto. Foto: Tangkapan layar YouTube Setpres RI
JATIMNET.COM, Malang – Kelakar Presiden Prabowo Subianto yang menyebut dirinya siap menjadi "wasit" jika para jenderal bertanding menjadi penutup pidato dalam Panen Raya TNI Terintegrasi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat, 17 Juli 2026.
Namun, di balik candaan tersebut, Presiden menyampaikan pesan serius mengenai kepemimpinan, profesionalisme prajurit, dan pentingnya memberi teladan dalam tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Pidato itu disampaikan setelah Prabowo mengulas capaian prajurit Indonesia dalam berbagai kejuaraan menembak internasional serta perkembangan industri pertahanan nasional.
Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa kualitas sumber daya manusia TNI dan kemampuan alutsista buatan dalam negeri mampu bersaing di tingkat global.
Presiden mengatakan kontingen TNI telah mencatatkan prestasi membanggakan dalam kompetisi menembak internasional. Ia menyebut Indonesia berhasil meraih kemenangan hingga 12 kali berturut-turut menggunakan senjata produksi dalam negeri, meski bertanding di negara penyelenggara dengan aturan dan perangkat pertandingan yang disiapkan oleh tuan rumah.
"Kalau kita menang di negara orang, wasitnya mereka, jurinya mereka, lapangannya mereka, berarti memang prajurit kita hebat," ujar Prabowo.
Menurut Presiden, capaian tersebut tidak hanya mencerminkan kemampuan individu para prajurit, tetapi juga menunjukkan kualitas industri pertahanan nasional yang mampu menghasilkan perlengkapan dengan standar kompetitif.
Senapan serbu, pistol, hingga perlengkapan lain yang digunakan dalam kompetisi disebut merupakan hasil produksi dalam negeri.
Setelah menyoroti prestasi tersebut, Prabowo mengalihkan perhatian pada aspek kepemimpinan di lingkungan TNI dan Polri.
Ia mengingatkan para komandan agar tidak hanya mampu memberikan perintah, tetapi juga menjadi contoh bagi anggotanya dalam menjalankan tugas.
Prabowo mengutip istilah Jawa "jarkoni", yakni bisa mengajarkan tetapi tidak mampu melaksanakan. Menurutnya, pola kepemimpinan seperti itu harus dihindari karena dapat mengurangi kepercayaan bawahan terhadap pemimpinnya.
Ia kemudian mengingatkan filosofi kepemimpinan Jawa, ing ngarso sung tulodo, yang menempatkan pemimpin sebagai teladan bagi anggota.
Prinsip tersebut dinilai tetap relevan dalam membangun organisasi militer yang profesional, disiplin, dan memiliki soliditas tinggi. "Komandan harus memberi contoh kepada anak buahnya," kata Prabowo.
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa profesionalisme TNI, menurut Presiden, tidak hanya diukur dari keberhasilan dalam latihan maupun kompetisi internasional.
Kepemimpinan yang mampu membangun budaya disiplin dan keteladanan juga menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas organisasi.
Menjelang akhir sambutannya, Prabowo mencairkan suasana dengan melontarkan candaan mengenai kemungkinan pertandingan antarpetinggi TNI.
"Nanti kalau jenderal-jenderal bertanding, saya jadi wasit," ujarnya yang langsung disambut tawa para tamu undangan.
Kelakar tersebut menjadi penutup pidato yang sebelumnya didominasi pesan mengenai disiplin, profesionalisme, dan kebanggaan terhadap prestasi prajurit Indonesia.
Candaan itu sekaligus menggambarkan suasana akrab dalam kegiatan yang mempertemukan jajaran TNI, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan di sektor pertahanan.
Di tengah upaya pemerintah memperkuat modernisasi alat utama sistem persenjataan dan meningkatkan kemampuan prajurit, penekanan Presiden terhadap aspek keteladanan kepemimpinan menunjukkan bahwa pembangunan kekuatan pertahanan tidak hanya bergantung pada teknologi maupun persenjataan.
Budaya organisasi, integritas pemimpin, dan profesionalisme personel tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kesiapan TNI menghadapi berbagai tantangan ke depan.
