Rabu, 02 September 2026 10:46 UTC

Humas RSUD R.T. Notopuro, Rizqi Maulana H saat diwawancarai, Rabu, 2 September 2026. Foto: Januar
JATIMNET.COM, Sidoarjo – RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo menangani 380 orang dari Pondok Pesantren Manba’ul Hikam yang diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hingga Rabu, 2 September 2026 sore, sebagian besar pasien telah mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis. Dari total 380 orang tersebut, sebanyak 353 orang sudah diperbolehkan kembali ke pondok pesantren.
Humas RSUD R.T. Notopuro, Rizqi Maulana H, mengatakan rumah sakit masih merawat lima pasien dan melakukan observasi terhadap 32 orang lainnya.
“Update kita pukul 15.30 WIB, total korban ada 380. Yang sudah pulang 353, yang kami rawat ada lima, sedangkan yang observasi atau baru datang ada 32,” kata Rizqi, Rabu, 2 September 2026.
Dengan demikian, hingga pukul 15.30 WIB masih terdapat 37 orang yang berada di RSUD R.T. Notopuro. Sebanyak lima orang menjalani rawat inap, sedangkan 32 lainnya masih menjalani observasi.
Rizqi menjelaskan lima pasien rawat inap tidak membutuhkan perawatan di ruang intensif. Rumah sakit menempatkan mereka di ruang perawatan biasa karena kondisi pasien belum masuk kategori berat.
“Untuk saat ini kondisinya berangsur membaik, memang masih dalam pantauan dokter,” ujarnya.
Keluhan Pasien Didominasi Sakit Perut dan Diare
Sejumlah pasien mengalami keluhan berupa sakit perut dan diare. Namun, rumah sakit belum menetapkan diagnosis secara spesifik karena dokter masih melakukan pemeriksaan dan observasi terhadap kondisi masing-masing pasien.
“Untuk diagnosis ini kami tidak bisa menyampaikan karena masih dalam tahap observasi dokter,” katanya.
Rizqi menyebut lima pasien yang menjalani perawatan sejak pagi berada dalam kondisi sedang, bukan kategori berat.
“Tidak kategori berat, sedang,” ucapnya.
Sementara itu, 32 orang yang masih menjalani observasi belum dapat dipastikan waktu kepulangannya. Dokter akan melihat perkembangan kondisi dan respons tubuh masing-masing pasien setelah menerima obat serta penanganan medis.
“Kalau obatnya mungkin sampai dua sampai tiga jam lagi. Tapi itu juga tergantung respons tubuh masing-masing,” katanya.
Sebelumnya, sekitar 30 orang telah lebih dulu datang ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Setelah menjalani observasi, mendapatkan obat, dan kondisinya membaik, mereka diperbolehkan kembali ke pondok pesantren.
“Yang awal tadi, sekitar 30 orang, sudah pulang semuanya karena sudah observasi, diberikan obat dan treatment. Alhamdulillah sudah baikan sehingga kembali ke pondok,” ujarnya.
RSUD Notopuro Prioritaskan Pasien Sesuai Kondisi
Rizqi juga menjelaskan penggunaan kursi roda dan tempat tidur dorong terhadap sejumlah pasien yang datang ke rumah sakit. Menurutnya, petugas menyesuaikan alat bantu dengan kondisi fisik pasien saat mendapatkan penanganan.
Pasien yang masih mampu berjalan diarahkan untuk berjalan. Sementara pasien yang mengalami lemas atau tidak memungkinkan berjalan mendapatkan bantuan kursi roda maupun tempat tidur dorong.
“Kami menyesuaikan. Kalau bisa jalan, kami suruh jalan. Kalau memang tidak bisa, kami pakai kursi roda karena kondisinya lemas. Kami utamakan mana yang gawat, itu yang didahulukan,” katanya.
Rumah sakit juga menerima pasien susulan dari lingkungan pondok pesantren. Beberapa pasien datang pada siang hari dengan keluhan sakit perut.
“Yang baru datang tadi sepertinya perempuan. Keluhannya sakit perut,” ujarnya.
RSUD R.T. Notopuro masih menyiagakan layanan medis untuk mengantisipasi adanya santri atau penghuni pondok lainnya yang mengalami keluhan.
“Kalau ada keluhan atau yang lainnya, langsung dikirim saja ke sini. RSUD Notopuro tetap siaga untuk siap menanganinya,” katanya.
Mayoritas Pasien dari Jenjang SMP dan SMA
Hingga Rabu sore, rumah sakit belum menerima informasi terbaru dari pengelola Pondok Pesantren Manba’ul Hikam mengenai tambahan pasien yang akan dikirim untuk menjalani pemeriksaan.
Rizqi mengatakan mayoritas pasien yang mendapatkan penanganan di RSUD R.T. Notopuro berasal dari jenjang SMP dan SMA.
Sementara itu, informasi mengenai adanya siswa tingkat SD dan TK yang turut mengalami keluhan belum dapat dipastikan. Rumah sakit juga belum menemukan pasien dari kedua kelompok tersebut dalam penanganan kasus ini.
“Yang memang ada tadi SMP dan SMA saja. Sekilas ada informasi SD dan TK, tetapi belum valid dan kami belum menjumpai di sini,” katanya.
Menurut Rizqi, penghuni pondok dari jenjang pendidikan lain mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan berbeda, termasuk puskesmas.
RSUD R.T. Notopuro akan kembali memperbarui kondisi pasien setelah proses observasi dan perawatan berlanjut. Rumah sakit memperkirakan informasi terbaru dapat disampaikan pada Kamis pagi.
