Kamis, 07 May 2026 03:00 UTC

Beberapa orang pelanggan sedang nongkrong di Warkop Cak Gondrong yang legendaris di kawasan Ngesong, Kupang Indah, Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya. Foto: Karina.
JATIMNET.COM, Surabaya – Suasana salah satu warung kopi di sudut jalan kawasan Ngesong, Kupang Indah, Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya nampak hidup saat malam mulai tiba.
Ahmad Rosidi, si pemilik usaha seolah tak pernah bisa duduk. Pria yang akrab disapa Cak Gondrong itu harus melayani pembili yang datang dan pergi secara silih berganti.
Warung nonpermanen itu menjadi salah satu tempat tujuan nongkrong untuk minum kopi sembari berbincang beragam topik. Mulai politik, ekonomi, sosial, hingga hal remeh temeh dalam kehidupan sehari-hari.
Meski dalam kesederhaan, para pelanggan nampak gayeng. Mereka rela nongkrong di sekitar kendaraan roda tiga yang disulap layaknya warung permanen. Pencahayaan di meja saji juga hanya dari sebuah lampu led.
Di tempat itulah, Cak Gondrong mulai berjualan sejak 1986. Di awal merintis usaha, pria asli Madura itu hanya menggunakan gerobak sederhana dan mangkal di pinggir jalan.
Pria asli Pulau Madura itu sudah berjualan sejak tahun 1986. Awalnya hanya menggunakan gerobak sederhana yang mangkal di pinggir jalan.
Namun, sejak pandemi Covid-19 usaha yang telah puluhan tahun dijalaninya ikut terdampak. Pada tahun 2023, ia akhirnya mengganti gerobaknya dengan kendaraan roda tiga agar lebih mudah dipindahkan.
“Dulu cuma gerobak biasa. Setelah Covid, ya pelan-pelan berubah pakai roda tiga ini,” ujarnya, saat ditemui Jatimnet.com, malam itu.
Pasang surut usaha tak menyurutkan semangat Ahmad untuk tetap membuka Warkop Cak Gondrong. Meski jauh dari kesan mewah, kursi plastik aneka warna, lampu temaram, dan etalase sederhana justru menjadi ciri khas yang membuat pelanggan betah.
Di tempat itu, obrolan santai para pekerja malam, pengemudi ojek online, hingga warga sekitar bercampur menjadi suasana penuh keakraban. Hingga di teras ruko-ruko yang sudah tutup.
Menu yang dijual pun merakyat. Mulai kopi hitam, aneka minuman sachet, mie instan, gorengan hangat, hingga sate-satean jeroan ayam.
Ada pula nasi bungkus seharga Rp10 ribu yang menjadi andalan pelanggan malam hari.
Salah satu minuman favorit pelanggan adalah es blewah. Minuman segar berbahan buah berkulit jingga bercorak kehijauan itu paling laris saat musim panen tiba.
Rasanya manis dan dingin, cocok menemani suasana malam Surabaya yang masih terasa hangat.
“Kalau musim blewah, banyak yang cari es blewah. Seger,” kata Ahmad sambil melayani pembeli.
Warkop ini mulai buka sekitar pukul 17.30 WIB hingga pukul 02.00 WIB. Dalam sepekan, Ahmad hanya libur setiap Jumat.
Meski hanya berdiri di pinggir jalan, Warkop Cak Gondrong menjadi ruang kecil yang menyimpan cerita panjang perjuangan hidup.
Dari gerobak sederhana sejak 1986 hingga bertahan melewati badai pandemi, tempat itu bukan sekadar warung kopi, melainkan titik pertemuan kehangatan di tengah hiruk-pikuk kota Surabaya malam hari.
