Sabtu, 13 June 2026 12:30 UTC

Connie Rahakundini Bakrie. Foto: Instagram.com/connierahakundinibakrie
JATIMNET.COM, Jakarta – Polemik mengenai kritik terhadap lawatan luar negeri Presiden Prabowo Subianto belum mereda.
Setelah mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menyampaikan sejumlah catatan terkait diplomasi Presiden, pengamat militer dan akademisi Connie Rahakundini Bakrie ikut memberikan pandangannya.
Ia menyarankan Presiden Prabowo lebih banyak mendengar masukan dari tokoh-tokoh berpengalaman di bidang diplomasi dan pemerintahan.
Pernyataan tersebut muncul setelah Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya merespons kritik Dino Patti Djalal mengenai frekuensi kunjungan luar negeri Presiden, biaya perjalanan, jumlah rombongan, hingga efektivitas diplomasi yang dijalankan pemerintah.
Dalam tanggapannya, Teddy menegaskan bahwa kritik tidak boleh mengaburkan capaian diplomasi yang telah diraih pemerintah selama ini.
Ia juga menyebut kelebihan biaya perjalanan ditanggung secara pribadi oleh Presiden Prabowo dan jumlah rombongan telah dipangkas dibanding periode sebelumnya.
Di tengah perdebatan tersebut, Connie menilai respons yang berkembang justru memunculkan kegaduhan yang tidak perlu.
Menurutnya, pemerintah sebaiknya lebih fokus pada substansi masukan daripada memperpanjang polemik di ruang publik.
“Pak Teddy libur dulu saja. Saatnya mendengar orang-orang yang memang memiliki pengalaman panjang di bidang diplomasi dan hubungan internasional,” kata Connie Rahakundini Bakrie dalam pernyataannya yang dikutip media, menanggapi polemik antara
Teddy dan Dino Patti Djalal.
Nama Dino Patti Djalal sendiri bukan sosok baru dalam dunia diplomasi Indonesia. Kariernya mencakup posisi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, juru bicara kepresidenan, hingga Wakil Menteri Luar Negeri.
Karena itu, kritik yang disampaikan Dino terkait tata kelola lawatan luar negeri Presiden mendapat perhatian luas dari kalangan akademisi maupun pengamat hubungan internasional.
Sebelumnya, Dino mengusulkan agar agenda kunjungan luar negeri Presiden dipetakan lebih terencana dan sebagian pertemuan bilateral dilakukan melalui forum internasional yang telah terjadwal.
Ia juga menyoroti aspek transparansi agenda perjalanan kenegaraan agar publik memperoleh informasi yang lebih memadai mengenai tujuan dan hasil kunjungan tersebut.
Pemerintah melalui Teddy Indra Wijaya membantah anggapan bahwa kunjungan luar negeri Presiden dilakukan secara berlebihan.
Menurut Teddy, dunia saat ini berada dalam situasi yang sangat dinamis sehingga hubungan personal antar pemimpin negara menjadi aset diplomasi yang penting.
Ia menilai kedekatan antarpemimpin dapat memberikan manfaat strategis ketika Indonesia menghadapi situasi mendesak di masa depan.
“Setiap pemimpin tentunya harus membangun hubungan yang dekat dengan pemimpin dunia lainnya. Hubungan seperti itu tidak bisa dibangun ketika krisis sudah terjadi,” ujar Teddy Indra Wijaya saat menjelaskan alasan intensitas diplomasi Presiden Prabowo, di Jakarta, Senin, 1 Juni 2026.
Perdebatan ini memperlihatkan adanya perbedaan pandangan mengenai cara terbaik menjalankan diplomasi negara.
Di satu sisi, pemerintah menekankan pentingnya diplomasi aktif dan hubungan personal antar kepala negara.
Di sisi lain, sejumlah diplomat senior mengingatkan pentingnya efisiensi, perencanaan, dan komunikasi publik yang lebih terbuka mengenai hasil kunjungan luar negeri.
Bagi masyarakat, perdebatan tersebut penting karena berkaitan langsung dengan penggunaan anggaran negara, arah kebijakan luar negeri Indonesia, serta efektivitas diplomasi dalam mendukung kepentingan nasional.
Diplomasi tidak hanya menyangkut hubungan antarnegara, tetapi juga berpengaruh terhadap investasi, perdagangan, perlindungan warga negara Indonesia di luar negeri, dan posisi Indonesia di panggung global.
Di tengah berbagai pandangan yang muncul, substansi yang menjadi perhatian utama tetap sama, yakni bagaimana diplomasi Indonesia dapat menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kritik dan masukan dari berbagai kalangan menjadi bagian dari proses demokrasi yang sehat selama tetap diarahkan untuk memperkuat kepentingan bangsa.
Polemik antara Teddy, Dino, dan Connie mungkin akan berlalu, tetapi diskusi mengenai kualitas diplomasi Indonesia kemungkinan masih akan terus berlangsung.
Dari perdebatan itu, publik dapat melihat bahwa kebijakan luar negeri bukan sekadar urusan elite pemerintahan, melainkan bagian penting dari upaya menjaga posisi Indonesia di tengah perubahan dunia yang semakin cepat.
