Selasa, 21 July 2026 07:00 UTC

Pasukan BPBD se Jatim mulai mempersiapkan Gelar Peralatan 2026 di Pacitan, Selasa, 21 Juli 2026. Foto: Humas BPBD Jatim.
JATIMNET.COM, Surabaya – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur (BPBD Jatim) mengubah fokus Gelar Peralatan BPBD 2026.
Jika pada penyelenggaraan tahun lalu kegiatan lebih menitikberatkan pada penguatan kemampuan water rescue dan vertical rescue.
Pada tahun ini fokusnya pada seluruh tahapan penanggulangan bencana. Mulai dari pra-bencana, tanggap darurat, hingga pascabencana menjadi fokus utama.
Perubahan konsep tersebut diterapkan dalam Gelar Peralatan BPBD 2026 yang digelar di Pantai Pancer Door, Kabupaten Pacitan, pada 20–24 Juli 2026.
Kegiatan bertema Beyond Resilience: Sinergi Berintegritas, Kolaborasi Tanpa Batas itu diikuti 36 BPBD kabupaten/kota se-Jatim.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jatim, Satriyo Nurseno, mengatakan penguatan kapasitas personel kini tidak lagi hanya berorientasi pada kemampuan penyelamatan saat bencana terjadi.
Personel BPBD juga dituntut memahami seluruh siklus penanggulangan bencana agar mampu memberikan respons yang lebih komprehensif.
"Kalau sebelumnya pelaksanaan gelar peralatan ditekankan pada penguatan water rescue dan vertical rescue, maka tahun ini lebih ditekankan pada semua proses, mulai dari kesiapsiagaan, tanggap darurat hingga pascabencana," kata Satriyo di sela gladi bersih di Pantai Pancer Door, Pacitan, Selasa, 21 Juli 2026.
Konsep tersebut diwujudkan melalui Resilience Marathon, sebuah kompetisi yang menguji kemampuan personel dalam menangani seluruh tahapan penanggulangan bencana.
Peserta tidak hanya diuji saat proses evakuasi, tetapi juga kemampuan melakukan mitigasi, menyusun strategi kesiapsiagaan, membangun koordinasi ketika tanggap darurat, hingga merancang langkah pemulihan pascabencana.
"Jadi semua tahapan bencana mulai dari pra-bencana, tanggap darurat hingga pascabencana akan kita lombakan," ujarnya.
Menurut Satriyo, pendekatan itu dipilih agar kapasitas BPBD kabupaten/kota semakin lengkap dan tidak hanya bertumpu pada kemampuan teknis penyelamatan.
Dengan begitu, penanganan bencana dapat dilakukan secara lebih cepat, terkoordinasi, dan berkelanjutan sejak sebelum bencana terjadi hingga masa pemulihan.
Kabupaten Pacitan dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena dinilai memiliki karakteristik wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang cukup lengkap.
Daerah di pesisir selatan Jatim itu berpotensi menghadapi banjir, banjir bandang, gempa bumi, tanah longsor, kekeringan, hingga tsunami.
Kondisi tersebut menjadikan Pacitan sebagai lokasi yang representatif untuk menguji kemampuan personel BPBD dalam menghadapi berbagai skenario bencana sekaligus.
"Selain itu, perhatian kepala daerah terhadap upaya penanggulangan bencana di Pacitan ini juga relatif bagus, dalam segala hal," ujar Satriyo.
Sebanyak 36 BPBD kabupaten/kota mengikuti Gelar Peralatan BPBD 2026. Sementara BPBD Banyuwangi dan Lumajang tercatat tidak ambil bagian pada penyelenggaraan tahun ini.
Selain Resilience Marathon, kegiatan juga diisi dengan lomba manajemen pergudangan logistik, lomba Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops), lomba cerdas cermat, hingga berbagai kegiatan kebersamaan melalui fun game.
Rangkaian kegiatan turut dilengkapi dengan pelepasan tukik di Pantai Pancer Door sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian ekosistem pesisir.
Melalui Gelar Peralatan BPBD 2026, BPBD Jatim berharap sinergi antar-BPBD kabupaten/kota semakin kuat dan kesiapsiagaan personel terus meningkat.
Dengan demikian, mampu memberikan respons yang cepat, tepat, dan terkoordinasi dalam menghadapi berbagai potensi bencana di Jatim.
