Rabu, 26 August 2026 13:11 UTC

Indri, janda beranak tiga yang sehari-hari berjualan kerupuk, terancam tak lagi mendapat bansos setelah mendadak desilnya naik. Foto: Zulafif
JATIMNET.COM, Probolinggo – Bantuan sosial yang selama ini diterima Indri Diyah, 49 tahun, seorang janda penjual kerupuk keliling di Kota Probolinggo, kini tidak lagi cair setelah data desil kesejahteraannya berubah.
Kondisi tersebut membuat Indri harus tetap mengandalkan penghasilan dari berjualan kerupuk dan tisu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Setiap hari, ia mengayuh sepeda tua menyusuri jalanan Kota Probolinggo demi mendapatkan penghasilan.
Sejak pagi, Indri berkeliling menggunakan sepeda angin miliknya yang sudah tua. Ia mendatangi sekolah, perkantoran, hingga pasar untuk menawarkan kerupuk dan tisu kepada calon pembeli.
Jarak yang ditempuh Indri tidak sedikit. Dalam sehari, ia bisa mengayuh sepeda hingga belasan bahkan puluhan kilometer.
Indri merupakan janda dengan tiga anak. Suaminya meninggal dunia pada 2008. Sejak saat itu, ia mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga.
Kini, Indri tinggal di Rusunawa Sederhana Sewa Bestari, Kelurahan Mayangan, Kota Probolinggo. Ia menggunakan hasil berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk membayar sewa tempat tinggal.
Namun, kondisi kehidupan Indri tidak sejalan dengan perubahan data kesejahteraannya. Sebelumnya, ia tercatat berada dalam desil 2. Setelah pendataan terbaru, status desilnya berubah menjadi desil 6 hingga 10.
Perubahan tersebut diketahui Indri setelah seorang temannya memberi tahu. Ia kemudian mengecek data melalui aplikasi dan mendapati status desil kesejahteraannya memang telah berubah.
Indri mengatakan perubahan itu diketahui setelah pendataan atau sensus yang berlangsung sekitar sebulan sebelumnya. Persoalan muncul ketika ia kembali mengecek bantuan sosial yang biasanya cair pada awal Agustus. Saat itu, bantuan tersebut sudah tidak tercantum lagi.
Sudah Datangi Dinas Sosial dan Kelurahan
Indri mengaku telah beberapa kali meminta penjelasan kepada pihak terkait, termasuk dinas sosial dan pemerintah kelurahan. Namun, hingga kini perubahan data desil tersebut belum mengalami perbaikan.
“Saya tahunya dari teman, katanya desil saya sudah naik. Setelah saya cek sendiri di aplikasi, memang sudah berubah. Dulu desil dua, sekarang jadi enam sampai sepuluh,” ujarnya, Rabu, 26 Agustus 2026.
“Saya sudah beberapa kali datang dan menanyakan, tapi sampai sekarang belum berubah. Bantuan yang biasanya saya terima juga sekarang tidak cair,” tuturnya.
Bagi Indri, perubahan desil tersebut menjadi persoalan serius. Penghasilan dari berjualan kerupuk dan tisu tidak besar sehingga ia hanya mengandalkan pemasukan harian untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
“Saya setiap hari jualan naik sepeda. Kalau tidak jualan, saya tidak punya penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi saya berharap data saya bisa diperiksa lagi,” jelasnya.
BPS: Perubahan Data Bisa Memengaruhi Desil
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo Joko Santoso menjelaskan bahwa BPS pada prinsipnya melakukan penginputan dan pengelolaan data. Data tersebut dapat bersumber dari berbagai kementerian dan lembaga terkait.
Menurut Joko, perubahan informasi dari sumber-sumber tersebut dapat memengaruhi posisi seseorang dalam kelompok desil kesejahteraan. Karena itu, desil seseorang dapat mengalami perubahan, baik naik maupun turun.
“Data yang kami kelola itu sumbernya bisa berasal dari berbagai kementerian dan lembaga. Ketika ada perubahan data dari sumber tersebut, maka desil seseorang juga bisa berubah,” terangnya.
Joko menambahkan, perubahan desil tidak selalu menunjukkan bahwa kondisi ekonomi seseorang berubah secara langsung. Pembaruan informasi dari berbagai sumber dapat mengubah posisi seseorang dalam kelompok desil kesejahteraan.
Persoalan yang dialami Indri menunjukkan pentingnya akurasi data dalam penyaluran bantuan sosial. Pemutakhiran data memang diperlukan agar bantuan pemerintah tepat sasaran, tetapi masyarakat juga membutuhkan proses verifikasi yang mampu menggambarkan kondisi penerima secara nyata.
Indri berharap pemerintah kembali memeriksa data kesejahteraannya sesuai kondisi kehidupannya saat ini. Ia ingin bantuan sosial yang selama ini membantu memenuhi kebutuhan keluarganya tidak terhenti hanya karena perubahan data desil.
