Air Laut di Selat Madura Terbelah

Khoirotul Lathifiyah

Rabu, 20 Maret 2019 - 19:31

JATIMNET.COM, Surabaya – Warga Surabaya dan Madura digemparkan fenomena air laut yang terbelah di kawasan Jembatan Suramadu. Sejak kemarin (Selasa 19 Maret 2019) beredar unggahan video terbelahnya air laut dan menuai komentar di media sosial.

Video ini pertama kali diunggah pemilik akun Instagram @ndorobeii dan Mohammad Fahrizal yang mendokumentasikan moment tersebut. Hingga saat ini akun tersebut sudah dilihat 80.900 lebih.

Menyikapi hal tersebut, Kepala Kelompok Forcaster BMKG Ari Widjajanto menjelaskan fenomena ini merupakan hal yang wajar. Pada dasarnya di pesisir banyak terdapat muara sungai.

BACA JUGA: Ketut Dharmawahana : Belum Ada Instrumen mengendalikan Overload Suramadu

“Nah istilah fenomena ini adalah halocline, jadi di laut ada dua jenis air yang berbeda," kata Ari saat dikonfirmasi melalui telepon, Rabu 20 Marer 2019.

Adapun faktor yang mepengaruhi terjadinya fenomena tersebut adalah intensitas air yang berbeda. Sehingga memperlambat menyatunya dua jenis air tersebut.

Ari mengungkapkan agar air tercampur harus ada faktor yang memaksa pencampuran kedua jenis air tersebut. Dia mencontohkan adanya kapal yang lewat, memudahkan air dari kedua jenis bercampur. Karena dalam hal ini terdapat dua jenis air yang memiliki perbedaan salinitas (kadar garam).

Dia menduga terdapat aliran sungai yang meningkat di sekitar Jembatan Suramadu atau Kalimas. Aliran sungai tersebut diperkirakan masuk ke laut dengan debit air yang cukup banyak.

BACA JUGA: Suramadu Sejak Masa Lalu

“Yang jelas, jika terdapat dua jenis air yang bertemu dan tidak menyatu, faktor utamanya bisa jadi karena massa jenis yang berbeda. Faktor-faktor lain seperti cuaca, aktivitas pembangunan atau sebab non alam masih membutuhkan penelitian lebih lanjut,” kata Ari.

Adapun Dosen Kelautan ITS, Wahyudi mengungkapkan fenomena tersebut hal yang biasa karena ada perbedaan identitas. Selain itu kemungkinan yang keruh itu dari permukaan karena hujan yang lama, sehingga membawa sedimen dari tanah.

"Yang berwarna biru adalah air laut, sedangkan yang keruh kemungkinan bercampurnya tanah yang terbawa dari darat," katanya.

Baca Juga

loading...