Sabtu, 29 November 2025 08:52 UTC

Suasana pelaksanaan seminar parenting yang digelar Ikatan Wali Murid (Ikwam) SD Almadany Gresik. Foto: Agus Salim
JATIMNET.COM, Gresik – Ikatan Wali Murid (Ikwam) SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) menggelar seminar parenting yang menitikberatkan pada tantangan pengasuhan anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Idha Rahayuningsih sebagai narasumber utama.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Gresik tersebut menegaskan bahwa peran orang tua sangat menentukan keberhasilan perkembangan anak, terutama saat anak dihadapkan pada derasnya arus informasi digital.
Idha memaparkan karakter perkembangan anak usia 7–12 tahun. Berdasarkan teori Piaget, anak pada tahap ini mulai mampu berpikir logis, memahami hubungan sebab-akibat, serta mengembangkan empati, kemampuan bahasa, hingga keterampilan motorik.
BACA: Buket Alat Tulis Tanda Rindu Seorang Pelajar pada SD Almadany di Hari Guru
“Pada usia ini, anak memasuki masa pembentukan identitas dan kompetensi, terutama di lingkungan sekolah,” ujar Idha, Sabtu 29 November 2025.
Ia menjelaskan bahwa era digital mengubah cara belajar anak. Anak kini lebih mudah menyerap materi visual-interaktif seperti animasi, video, permainan edukasi, serta aplikasi pembelajaran. Mereka juga lebih sering belajar melalui praktik langsung (learning by doing), misalnya melalui simulasi digital.
Namun perubahan tersebut membawa tantangan. Anak cenderung terbiasa dengan informasi singkat, kerap melakukan multitasking, dan mengalami penurunan aktivitas fisik. Kurangnya interaksi langsung dengan teman sebaya juga berpotensi menghambat keterampilan sosial.
“Banyak gim digital bersifat individual sehingga anak menjadi kurang terlatih bersosialisasi,” lanjutnya.
BACA: Peringatan HGN 2025 di SD Almadany: Guru Tak Tergantikan AI
Untuk menjawab tantangan tersebut, Idha mendorong orang tua menerapkan Digital Parenting, yakni pola pengasuhan yang memadukan kebutuhan perkembangan anak dengan kemajuan teknologi. Fokusnya mencakup perlindungan dari konten negatif, pembentukan kebiasaan digital yang sehat, peningkatan literasi digital, serta menjaga kedekatan emosional orang tua dan anak.
Idha merekomendasikan sejumlah strategi, seperti pendampingan aktif saat anak menggunakan perangkat digital, pembatasan screen time sesuai usia, memberi teladan penggunaan gawai yang bijak, serta memilih konten yang positif dan edukatif. Keseimbangan aktivitas fisik juga perlu dijaga melalui bermain di luar ruangan, membaca, atau olahraga.
“Ajarkan etika dan privasi digital sejak dini, lalu seimbangkan dunia digital dengan kegiatan fisik,” terangnya.
Idha juga menawarkan langkah praktis seperti membuat aturan “aktivitas fisik dulu, gadget kemudian”, menetapkan zona merah bebas gawai, serta mengenalkan berbagai hobi non-digital seperti menggambar, memasak, hingga berolahraga.
BACA: Belajar Seru di SD Almadany: Siswa Antusias Membuat Cup Cake Bersama Orang Tua
“Orang tua harus hadir sepenuhnya. Ketika anak mengajak bermain, letakkan gadget dan fokus pada mereka,” pesannya.
Menurut Idha, konsistensi orang tua menjadi fondasi utama agar anak tumbuh sebagai generasi yang cerdas digital sekaligus sehat secara sosial dan fisik.
Ketua Ikwam SD Almadany, Janita Firda Naini, menilai pengasuhan di era modern semakin menantang sehingga orang tua perlu terus memperbarui wawasan.
Ia menegaskan bahwa kegiatan parenting bukan hanya ajang komunikasi, tetapi juga ruang belajar bersama untuk memperkuat sinergi antara sekolah, orang tua, dan lingkungan sekitar.
“Semoga kegiatan ini membawa manfaat. Mari kita terus memperkuat kerja sama demi keberhasilan pendidikan anak-anak di era digital,” tandasnya.
