Logo

Sarmuji: Qonun Asasi Jadi Alasan Keberadaan NU, Persatuan Harus Dijaga

Reporter:,Editor:

Jumat, 28 August 2026 10:23 UTC

Sarmuji: Qonun Asasi Jadi Alasan Keberadaan NU, Persatuan Harus Dijaga

Sarmuji bersama kader Fatayat di Posko Golkar yang ada di area Muktamar NU. Foto: Karin

JATIMNET.COM, Jombang – Sekjen DPP Partai Golkar sekaligus Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI, Sarmuji, menilai Qonun Asasi menjadi pijakan penting untuk memahami alasan keberadaan dan cara pandang Nahdlatul Ulama (NU).

Sarmuji menyampaikan pandangan tersebut saat menjadi pembicara dalam Halaqah Pemikiran Pesantren bertajuk “Mendalami dan Memaknai Kembali Qonun Asasi Nahdlatul Ulama” di Masjid Gedung Pondok Pesantren Al-Utsmany, Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jumat, 28 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut berlangsung sebagai bagian dari rangkaian Muktamar ke-35 NU. Dalam halaqah itu, Sarmuji menyampaikan taklimat kebangsaan. Sementara pengantar pakar disampaikan KH Afifuddin Muhajir.

Halaqah tersebut juga menghadirkan Prof. Dr. KH Abdul A’la, KH Abdulrahman Al-Kautsar, KH Abdurrozaq Sholeh, dan KH M. Sholahul Am Notobuwono sebagai narasumber.

Menurut Sarmuji, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari menuangkan alasan keberadaan NU melalui Qonun Asasi. Karena itu, dia menilai dokumen tersebut memiliki posisi penting dalam memahami dasar pemikiran NU.

BACA: Gus Yusuf Serukan Muktamirin Pilih Ketum PBNU dengan Hati Nurani 

"Qonun Asasi itu semacam raison d'etre-nya NU. Alasan keberadaan NU itu tertuang di dalam Qonun Asasi yang dituangkan oleh Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari," ujar Sarmuji.

Sarmuji kemudian menyoroti pesan KH Hasyim Asy’ari mengenai pentingnya hidup berjamaah. Menurutnya, kehidupan yang dibangun dengan semangat kebersamaan memiliki manfaat besar dalam kehidupan sosial maupun kebangsaan.

"Di situ KH Hasyim Asy'ari menekankan pentingnya berjamaah, kelebihan hidup berjamaah, kemanfaatan hidup berjamaah. Terutama berjamaah di Nahdlatul Ulama yang memiliki berbagai karakter tawasuth, tawazun, i'tidal dan lain sebagainya," katanya.

Dia menilai semangat berjamaah tersebut sejalan dengan karakter NU yang mengedepankan prinsip tawasuth, tawazun, dan i’tidal. Nilai tersebut, menurutnya, penting untuk menjaga persatuan di tengah kehidupan masyarakat.

Sarmuji juga melihat Qonun Asasi menggambarkan posisi keislaman dan keindonesiaan dalam kehidupan warga NU. Menurutnya, kedua identitas tersebut dapat berjalan beriringan dan menjadi bagian dari kehidupan kebangsaan.

BACA: Sarmuji Siapkan Layanan Kesehatan dan Konsumsi untuk Muktamirin NU 

Dia menilai pesan persatuan dalam Qonun Asasi tetap relevan menghadapi berbagai persoalan yang muncul saat ini. Semangat menjaga umat agar tidak tercerai-berai juga diperlukan untuk menghadapi tantangan NU dan bangsa Indonesia di masa depan.

Karena itu, Sarmuji mendorong agar Qonun Asasi tidak hanya dipahami dari konteks sejarah, tetapi juga dikontekstualisasikan dengan perkembangan zaman.

Menurutnya, nilai yang terkandung dalam Qonun Asasi perlu dikaitkan dengan tantangan yang akan dihadapi NU dan Indonesia.

"Tentu Qonun Asasi itu mesti kita kontekstualisasi dengan tantangan kehidupan bangsa dan tantangan NU di masa yang akan datang," jelasnya.

Sarmuji berharap pembacaan kembali Qonun Asasi dapat memperkuat pemahaman warga NU terhadap nilai-nilai yang menjadi dasar perjuangan organisasi. Dia juga berharap nilai tersebut terus memberikan kontribusi bagi kehidupan kebangsaan.