Senin, 20 July 2026 13:45 UTC

Ilustrasi: Sore yang Bermakna. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Rutinitas sore hari mulai mendapat perhatian sebagai bagian dari gaya hidup modern. Setelah menghabiskan waktu bekerja, belajar, atau menjalankan berbagai aktivitas, banyak orang memilih memiliki kebiasaan sederhana sebelum malam tiba.
Ada yang berjalan kaki, berbincang bersama keluarga, menikmati secangkir teh, atau sekadar duduk tanpa tergesa-gesa.
Fenomena ini muncul ketika ritme kehidupan semakin cepat. Menurut DataReportal Digital Indonesia 2025, rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari 7 jam per hari menggunakan internet.
Di sisi lain, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat penetrasi internet nasional telah mencapai 79,5 persen atau sekitar 221 juta pengguna pada periode 2024–2025.
Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat menjalani hari dengan intensitas interaksi digital yang tinggi. Tidak sedikit yang kemudian mencari aktivitas sederhana pada sore hari sebagai jeda sebelum memasuki waktu istirahat.
Peralihan dari Aktivitas Padat ke Waktu Pribadi
Sore hari memiliki karakter yang berbeda dibanding pagi. Jika pagi identik dengan target dan mobilitas, sore lebih sering menjadi waktu transisi menuju aktivitas yang lebih santai.
Banyak keluarga memanfaatkan waktu ini untuk berkumpul setelah seluruh anggota rumah kembali dari sekolah maupun tempat kerja. Sebagian memilih menikmati camilan bersama, menyiram tanaman, atau berbincang mengenai kegiatan sepanjang hari.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Sensus Penduduk 2020 menunjukkan Indonesia memiliki lebih dari 89 juta rumah tangga. Angka tersebut menggambarkan besarnya ruang interaksi yang terjadi setiap sore di lingkungan keluarga Indonesia.
Kebiasaan sederhana seperti menyapa anggota keluarga ketika pulang ternyata tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Jalan Kaki Menjadi Pilihan yang Semakin Disukai
Di berbagai kota besar, termasuk Surabaya, kawasan pedestrian mulai lebih ramai pada sore hari. Banyak warga memanfaatkan ruang publik untuk berjalan santai setelah aktivitas selesai.
Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap aktivitas fisik ringan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150 hingga 300 menit setiap minggu, atau sekitar 30 menit sehari bila dilakukan lima hari dalam sepekan.
Berjalan kaki pada sore hari menjadi salah satu cara yang paling mudah untuk memenuhi anjuran tersebut. Aktivitas ini tidak memerlukan peralatan khusus dan dapat dilakukan hampir oleh semua kelompok usia.
Di Surabaya, kawasan seperti Jalan Tunjungan, Taman Bungkul, hingga sejumlah jalur pedestrian di pusat kota sering menjadi pilihan warga menikmati udara sore sambil berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Rutinitas Kecil Membantu Hari Terasa Lebih Teratur
Tidak semua rutinitas sore harus dilakukan di luar rumah. Banyak orang justru menikmati aktivitas sederhana seperti merapikan meja kerja, menyiapkan pakaian untuk esok hari, atau membaca beberapa halaman buku.
Kebiasaan kecil tersebut memberi sinyal bahwa pekerjaan telah selesai dan waktu pribadi telah dimulai. Pergantian ritme ini membantu seseorang membedakan waktu produktif dengan waktu beristirahat.
Para ahli produktivitas juga banyak menekankan pentingnya ritual penutup hari. Bukan karena membuat seseorang bekerja lebih lama, melainkan agar aktivitas yang belum selesai dapat direncanakan dengan lebih baik untuk hari berikutnya.
Cara ini membantu mengurangi kebiasaan membawa beban pekerjaan hingga larut malam.
Menutup Hari dengan Kebiasaan yang Bermakna
Rutinitas sore sebenarnya tidak memiliki aturan baku. Yang terpenting adalah memilih aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Sebagian orang merasa lebih nyaman menikmati suasana kota sambil berjalan kaki. Ada pula yang memilih memasak bersama keluarga, merawat tanaman, atau sekadar menikmati matahari yang mulai terbenam dari teras rumah.
Kesamaan dari berbagai aktivitas tersebut adalah hadirnya kesempatan untuk memperlambat ritme setelah menjalani hari yang padat.
Di kota yang terus bergerak seperti Surabaya, waktu sore sering menjadi ruang kecil yang memberi keseimbangan. Rutinitas sore hari bukan sekadar jeda sebelum malam, melainkan kesempatan untuk menyusun kembali energi, menikmati interaksi yang lebih hangat, dan mengakhiri aktivitas dengan suasana yang lebih tenang.
Kebiasaan sederhana inilah yang membuat banyak orang merasa lebih siap menyambut hari berikutnya.
