David Priyasidharta

Rabu, 5 undefined 2018 - 08:00

JATIMNET.COM, Surabaya - Berawal dari pernyataan Prabowo Subianto, Calon Presiden RI dengan nomer urut 02 ihwal Indonesia yang dalam keadaan darurat korupsi. Pejabat negara, mulai kalangan anggota Dewan, menteri hingga hakim tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Isu utama di Indonesia sekarang maraknya korupsi, yang menurut saya sudah seperti kanker stadium empat," ujar Prabowo dikutip dari siaran persnya, Rabu, 28 November 2018. Akibatnya, Prabowo mengatakan, angka kemiskinan rakyat Indonesia meningkat, sementara para elitenya justru hidup berkecukupan.

Pernyataan Prabowo pada acara "The World in 2019 Gala Dinner" yang  diselenggarakan majalah The Economist di Hotel Grand Hyatt Singapura itu mendapat reaksi keras dari Wasekjen PDIP Perjuangan Ahmad Basarah yang juga merupakan Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

"Mengapa Pak Prabowo tega membuka aib bangsa sendiri di luar negeri? Kita semua paham dan sangat prihatin dengan penyakit korupsi di Indonesia. Hal itu merupakan pekerjaan rumah kita sebagai sebuah bangsa dan harus kita selesaikan secara bergotong royong dan sungguh-sungguh serta bukan sekadar dijadikan isu politik," ujar Basarah.

Basarah kemudian bereaksi balik dengan menyebut bahwa Pak Harto (sapaan akrab presiden kedua RI H.M. Soeharto) yang juga mantan mertua Prabowo Subianto sebagai Bapak Korupsi dan Guru Korupsi. Belakangan kemudian, Basarah mengklarifikasi pernyataan soal Pak Harto sebagai Bapak Korupsi sebagai reaksi dari ucapan Calon Presiden RI Prabowo Subianto yang menganalogikan korupsi di Indonesia seperti kanker stadium empat.

Pernyataan Basarah tersebut tak urung menimbulkan reaksi berantai dari para pencinta Soeharto. Rizka Prihandy, pengagum dan pencinta presiden kedua Soeharto melaporkan Wasekjen PDIP Perjuangan Ahmad Basarah ke Polda Metro Jaya dengan dugaan tindak pidana diskriminasi dan penyebaran berita bohong. Selain Rizka, Anhar, mantan anggota DPR periode 2004-2009 dari Fraksi Partai Bintang Reformasi juga melaporkan Ahmad Basarah ke Bareskrim Polri.

Anhar mengatakan tuduhan Basarah tidak memiliki dasar karena tidak ada putusan pengadilan yang menyatakan Soeharto bersalah. "Kami melaporkan Ahmad Basarah atas ucapan beliau yang menyatakan bahwa Soeharto sebagai guru korupsi. Kami sangat terpukul, mengingat Soeharto bagi kami adalah tokoh bangsa, guru bangsa, bapak pembangunan," kata Anhar.

Mantan Ketum Partai Golongan Karya, Agung Laksono yang juga Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin, meminta semua pihak harus menghormati dan meneladani setiap pemimpin negeri ini. Mulai dari Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Presiden Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sampai Presiden Joko Widodo sekarang.

"Setiap pemerintahan pasti memiliki kelebihan dan kelemahan. Namun yang pasti, mereka itu merupakan figur pemimpin yang memiliki visi besar dan berpikir panjang dalam hal pembangunan untuk rakyat Indonesia," katanya.

Baca Juga

loading...