Logo

Perubahan Budaya Nongkrong di Era Digital

Cara orang berkumpul boleh berubah, tetapi kebutuhan untuk terhubung tetap sama.
Reporter:,Editor:

Selasa, 09 June 2026 13:00 UTC

Perubahan Budaya Nongkrong di Era Digital

Ilustrasi: Budaya nongkrong baru. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Budaya nongkrong mengalami perubahan besar dalam satu dekade terakhir. Jika dahulu nongkrong identik dengan mengobrol panjang di warung kopi atau berkumpul di ruang publik sederhana, kini aktivitas tersebut berkembang menjadi bagian dari gaya hidup yang dipengaruhi teknologi, media sosial, dan perubahan pola interaksi generasi muda.

 

Perubahan ini terlihat hampir di setiap kota. Kafe modern, coworking space, hingga ruang publik kreatif semakin banyak bermunculan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang menginginkan tempat berkumpul sekaligus beraktivitas.

 

Fenomena tersebut tidak lepas dari transformasi digital yang terjadi di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat penetrasi internet nasional mencapai 72,78 persen pada 2024.

 

Di kelompok usia muda, akses internet bahkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang sulit dipisahkan. Kondisi ini secara langsung memengaruhi cara orang berkomunikasi, membangun relasi, hingga memilih tempat nongkrong.

 

Akibatnya, nongkrong saat ini bukan hanya tentang bertemu orang lain secara fisik, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman tersebut terhubung dengan dunia digital.

 

 

Dari Tempat Berkumpul Menjadi Bagian dari Gaya Hidup

 

Pada masa lalu, lokasi nongkrong umumnya dipilih karena kedekatan dan kemudahan akses. Warung kopi, kantin kampus, lapangan terbuka, atau teras rumah menjadi tempat yang cukup untuk bertemu teman dan berbagi cerita.

 

Kini pertimbangannya menjadi lebih kompleks. Banyak generasi muda mempertimbangkan kenyamanan tempat, desain interior, akses internet, suasana, hingga nilai estetika yang bisa dibagikan melalui media sosial.

 

Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya penggunaan platform digital di Indonesia. Laporan DataReportal menunjukkan Indonesia memiliki lebih dari 139 juta identitas pengguna media sosial pada awal 2025. Angka tersebut menggambarkan betapa erat hubungan antara aktivitas sehari-hari dan dunia digital.

 

Dalam konteks ini, pengalaman nongkrong tidak hanya dinikmati secara langsung, tetapi juga menjadi bagian dari identitas sosial yang ditampilkan secara daring.

 

 

Media Sosial Mengubah Cara Orang Berinteraksi

 

Salah satu perubahan paling terlihat adalah hadirnya media sosial sebagai bagian dari aktivitas nongkrong. Banyak orang datang ke sebuah tempat setelah melihat rekomendasi dari konten digital. Tidak sedikit pula yang memilih lokasi tertentu karena sedang populer di berbagai platform media sosial.

 

Keputusan yang dahulu lebih banyak dipengaruhi rekomendasi teman kini sering kali dipengaruhi algoritma digital. Selain itu, dokumentasi aktivitas juga menjadi lebih umum.

 

Memotret makanan, merekam suasana, membuat konten singkat, atau membagikan lokasi kunjungan kini menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari pengalaman nongkrong sebagian generasi muda.

 

Meski sering dianggap sebagai tren semata, fenomena ini sebenarnya menunjukkan perubahan cara masyarakat membangun identitas dan berbagi pengalaman.

 

 

Nongkrong Kini Tidak Selalu Berarti Santai

 

Perubahan lain yang cukup menarik adalah bergesernya fungsi nongkrong. Jika dahulu aktivitas ini identik dengan rekreasi dan hiburan, sekarang banyak orang memanfaatkannya untuk kegiatan yang lebih produktif.

 

Mahasiswa mengerjakan tugas kelompok, freelancer bertemu klien, komunitas kreatif mengadakan diskusi, sementara pekerja muda melakukan rapat informal di kafe.

 

Perkembangan teknologi mendukung perubahan tersebut. Dengan laptop dan koneksi internet, banyak pekerjaan dapat dilakukan tanpa harus berada di kantor.

 

Data Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan penggunaan layanan digital dan ekonomi berbasis internet terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, menciptakan budaya kerja yang lebih fleksibel.

 

Akibatnya, batas antara ruang kerja, ruang belajar, dan ruang sosial menjadi semakin tipis. Kafe modern kemudian hadir sebagai tempat yang mampu mengakomodasi ketiga kebutuhan tersebut sekaligus.

 

 

Munculnya Konsep Ruang Ketiga

 

Dalam kajian perkotaan, terdapat istilah third place atau ruang ketiga. Konsep ini mengacu pada ruang yang berada di luar rumah dan tempat kerja, tetapi memiliki peran penting dalam membangun interaksi sosial masyarakat. Banyak kafe modern kini menjalankan fungsi tersebut.

 

Tempat-tempat ini menjadi lokasi bertemunya berbagai kelompok dengan latar belakang berbeda. Mahasiswa, pekerja, pelaku usaha, komunitas kreatif, hingga wisatawan dapat berbagi ruang yang sama dalam suasana yang relatif santai.

 

Keberadaan ruang ketiga menjadi semakin penting di tengah kehidupan perkotaan yang cenderung individualistik. Ketika banyak interaksi berpindah ke dunia digital, ruang fisik yang nyaman tetap dibutuhkan untuk menjaga hubungan sosial yang lebih mendalam.

 

Tantangan di Balik Budaya Nongkrong Modern

 

Meski membawa banyak manfaat, perubahan budaya nongkrong juga menghadirkan sejumlah tantangan. Tekanan sosial untuk mengikuti tren tertentu dapat mendorong perilaku konsumtif yang tidak selalu sesuai dengan kondisi keuangan masing-masing individu.

 

Selain itu, kebiasaan terlalu fokus mendokumentasikan pengalaman terkadang membuat seseorang kurang menikmati momen yang sedang dijalani.

 

Di sisi lain, ketergantungan pada rekomendasi digital juga berpotensi mengurangi eksplorasi spontan yang dahulu menjadi bagian menarik dari aktivitas berkumpul.

 

Karena itu, penting untuk melihat budaya nongkrong modern secara seimbang. Teknologi dapat memperkaya pengalaman sosial, tetapi tetap perlu digunakan secara sadar agar tidak menghilangkan makna utama dari interaksi manusia itu sendiri.

 

Perubahan budaya nongkrong di era digital menunjukkan bahwa teknologi bukan sekadar alat komunikasi, melainkan faktor yang ikut membentuk kebiasaan sosial masyarakat.

 

Cara orang memilih tempat, berinteraksi, bekerja, hingga membangun identitas kini semakin dipengaruhi dunia digital. Meski bentuknya berubah, esensi nongkrong tetap sama, yaitu menghadirkan ruang untuk terhubung, berbagi cerita, dan membangun hubungan yang membuat kehidupan terasa lebih bermakna.