Omset Turun, Pengusaha Restoran di Bromo Salahkan Jasa Travel

Zulkiflie

Jumat, 3 Mei 2019 - 15:16

JATIMNET.COM, Probolinggo - Pengusaha restoran di kawasan obyek wisata Gunung Bromo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo  mengeluh omsetnya menurun sejak lima bulan terakhir ini.

Penurunan omset ini salah satu penyebabnya adalah keberadaan jasa travel transit atau wisata satu malam yang kian marak beroperasi di kawasan itu.

Pemilik Restoran BTS dan De Potrek, Donny Wijayanto mengaku penghasilan restoran turun hingga 80 persen. Ia mengatakan maraknya jasa travel transit ini telah memangkas waktu wisatawan untuk berlama-lama liburan di Bromo.

BACA JUGA: Aktivitas Gunung Bromo Rusak Ribuan Hektar Lahan Pertanian

"Kalau sebelumnya bisa sampai berhari-hari di Bromo, sekarang hanya semalam saja," katanya.
 
Sehingga, kata dia, wisatawan enggan untuk mampir ke restoran di kawasan itu. Pemilik dua restoran di Sukapura dan Sapikerep inu mengungkapkan maraknya travel transit ini sudah berjalan sejak 5 bulan terakhir dan pemiliknya dari luar daerah.

“Praktek jasa travel transit di Bromo cukup banyak, sehari bisa 10 sampai 20 bus besar yang datang. Istirahatnya di kendaraan. Jadi tidak ada waktu istirahat di restoran ataupun hotel,” jelasnya kepada Jatimnet.com, Jumat 3 Mei 2019.

Donny meminta pemerintah daerah melalui dinas terkait bertindak tegas untuk menertibkan maraknya jasa travel ke obyek wisata Gunung Bromo. Keberadaan jasa travel ini, kata Donny, dirasa merugikan pengusaha restoran dan hotel di Bromo.

“Saya harap ada ketegasan dari dinas terkait atas hal ini, kalau perlu ada sweeping,” jelasnya.

BACA JUGA: Aktivitas Bromo Berdampak pada Tingkat Hunian Hotel

Keluhan ini sempat disampaikan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Kabupaten Probolinggo, Digdoyo Djamaluddin kepada Jatimnet.com, beberapa waktu lalu. Yoyok, sapaan Digdoyo Djamaluddin menyebutkan, praktek jasa travel transit ini meresahkan pengusaha hotel dan restoran di Kawasan Bromo.

Menurut Yoyok, biaya perjalanan wisata yang ditawarkan jasa travel ini lebih murah karena tidak menginap di hotel. Wisatawan cukup merogoh kocek Rp 190 ribu, termasuk biaya makan, tiket masuk wisata dan jeep.

Yoyok mengatakan para pengusaha sangat merasakan dampaknya terutama saat low season, pada waktu ketika tingkat kunjungan wisatawan menurun.

Baca Juga

loading...