Senin, 20 July 2026 10:30 UTC

Ilustrasi: Menyimpan Kenangan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM, Barang kenangan tetap memiliki tempat istimewa di tengah gaya hidup modern yang semakin mengutamakan kepraktisan.
Tiket konser lama, foto cetak keluarga, surat tulisan tangan, medali sekolah, hingga cendera mata perjalanan masih disimpan oleh banyak orang meski sebagian besar dokumen kini telah beralih ke format digital. Fenomena ini muncul di saat masyarakat semakin akrab dengan penyimpanan digital.
Menurut laporan DataReportal Digital Indonesia 2025, jumlah sambungan telepon seluler di Indonesia telah mencapai sekitar 356 juta, atau sekitar 126 persen dari total populasi karena banyak orang memiliki lebih dari satu nomor. Sementara itu, APJII mencatat penetrasi internet nasional mencapai 79,5 persen pada periode 2024–2025.
Kemajuan teknologi memang membuat penyimpanan data menjadi lebih mudah. Ribuan foto dapat tersimpan dalam satu perangkat. Namun, benda fisik yang menyimpan jejak perjalanan hidup ternyata masih memiliki daya tarik yang sulit tergantikan.
Kenangan Memberikan Nilai yang Tidak Selalu Rasional
Sebuah kartu ucapan ulang tahun mungkin tidak memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Begitu pula secarik tiket bioskop atau gelang dari sebuah acara komunitas. Meski demikian, benda-benda tersebut sering disimpan selama bertahun-tahun.
Alasannya sederhana. Setiap benda membawa cerita yang berbeda. Ketika melihatnya kembali, seseorang dapat mengingat suasana, orang-orang yang hadir, bahkan perasaan yang pernah dialami pada saat itu.
Psikologi menyebut fenomena ini sebagai nostalgia, yaitu pengalaman emosional ketika seseorang mengenang masa lalu melalui pemicu tertentu. Salah satu pemicu yang paling kuat justru berasal dari benda fisik yang masih dapat disentuh dan dilihat secara langsung.
Tidak mengherankan apabila banyak keluarga memiliki satu kotak khusus yang berisi berbagai barang kenangan lintas generasi.
Foto Digital Bertambah, Foto Cetak Tetap Disimpan
Perubahan teknologi membuat jumlah foto meningkat sangat pesat. Hampir setiap aktivitas kini dapat diabadikan menggunakan telepon pintar.
Data InfoTrends yang sering menjadi rujukan industri fotografi global bahkan memperkirakan manusia menghasilkan lebih dari 1,8 triliun foto setiap tahun di seluruh dunia. Sebagian besar tersimpan secara digital dan tidak pernah dicetak.
Ironisnya, semakin banyak foto yang dimiliki, semakin sedikit yang benar-benar dilihat kembali. Ribuan gambar sering tenggelam di dalam galeri ponsel atau layanan penyimpanan awan.
Sebaliknya, album foto cetak justru lebih sering dibuka ketika keluarga berkumpul. Aktivitas sederhana ini menghadirkan percakapan yang sulit muncul hanya dengan menggulir layar ponsel.
Barang Kenangan Membantu Menjaga Identitas Pribadi
Banyak orang menyimpan benda tertentu bukan karena bentuknya menarik, melainkan karena benda tersebut menjadi penanda perjalanan hidup.
Ijazah pertama, kartu peserta lomba, buku harian, hingga hadiah dari sahabat sering menjadi simbol pencapaian atau hubungan yang pernah dibangun.
Di Surabaya, kebiasaan ini masih mudah ditemui. Banyak keluarga menyimpan foto wisuda, dokumentasi pernikahan, atau cendera mata khas kota sebagai bagian dari sejarah keluarga. Benda-benda tersebut kerap berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tradisi menyimpan kenangan seperti ini memperlihatkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan informasi, tetapi juga hubungan emosional dengan masa lalu.
Menyimpan Kenangan Tidak Harus Berlebihan
Menyimpan barang kenangan tentu berbeda dengan menumpuk barang tanpa tujuan. Banyak ahli penataan rumah menyarankan agar hanya benda yang benar-benar memiliki nilai emosional yang dipertahankan.
Cara sederhana yang bisa dilakukan adalah menggunakan satu kotak penyimpanan khusus atau album yang tertata rapi. Selain memudahkan pencarian, langkah ini juga menjaga kondisi barang agar tidak mudah rusak.
Beberapa dokumen penting juga dapat dipindai sebagai cadangan digital. Dengan begitu, nilai sejarahnya tetap terjaga meskipun risiko kehilangan dapat diminimalkan.
Perkembangan teknologi membuat hidup menjadi semakin praktis, tetapi barang kenangan mengingatkan bahwa perjalanan hidup manusia tidak hanya tersimpan dalam data digital.
Ada cerita, perasaan, dan hubungan yang tetap terasa nyata melalui benda-benda sederhana yang mungkin terlihat biasa. Selama masih mampu menghadirkan senyum ketika dibuka kembali, kebiasaan menyimpan kenangan tampaknya akan terus bertahan di tengah kehidupan modern.
