Senin, 21 September 2026 11:00 UTC

Ilustrasi: Kursi yang Lebih Pas. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Memilih kursi kerja sering dimulai dari desain, warna, atau harga. Padahal, kursi menjadi bagian penting dari lingkungan kerja ketika seseorang menghabiskan banyak waktu di depan komputer setiap hari.
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan ergonomi sebagai upaya menyesuaikan pekerjaan dengan manusia. Dalam konteks bekerja, posisi meja dan kursi perlu diatur agar tubuh dapat bekerja secara nyaman, termasuk memberikan kesempatan bagi punggung dan pinggang untuk bersandar.
Perhatian terhadap kenyamanan kerja semakin relevan karena gangguan muskuloskeletal dialami sekitar 1,71 miliar orang di seluruh dunia. World Health Organization (WHO) juga menyebut nyeri punggung bawah sebagai penyebab utama disabilitas secara global.
Kursi Kerja yang Nyaman Perlu Menyesuaikan Tubuh
Tidak ada satu ukuran kursi yang otomatis ideal untuk semua orang. Tinggi badan, panjang tungkai, ukuran meja, perangkat yang digunakan, dan pola bekerja dapat berbeda pada setiap pengguna.
Karena itu, kemampuan penyesuaian menjadi aspek yang layak diperhatikan. Occupational Safety and Health Administration (OSHA) Amerika Serikat merekomendasikan kursi komputer yang mudah disesuaikan, memiliki sandaran punggung, serta menyediakan dukungan pada area pinggang.
Saat duduk, kaki idealnya memperoleh pijakan yang stabil. OSHA menyarankan telapak kaki dapat menapak di lantai atau menggunakan footrest apabila penyesuaian kursi dan meja membuat kaki tidak mencapai lantai dengan nyaman.
Sandaran juga bukan sekadar aksesori. Dukungan pada area punggung bawah membantu pengguna mempertahankan posisi yang nyaman tanpa harus terus menegangkan tubuh.
Kursi yang terlihat mewah tetapi terlalu tinggi, terlalu dalam, atau sulit diatur belum tentu sesuai. Kecocokan terhadap tubuh lebih penting daripada jumlah fitur.
Jangan Menilai Kursi Hanya dari Label Ergonomis
Istilah “ergonomis” mudah ditemukan pada produk furnitur kerja. Namun, label tersebut sebaiknya tidak menjadi satu-satunya pertimbangan ketika memilih kursi.
Kementerian Kesehatan menekankan bahwa sikap ergonomis berkaitan dengan keseluruhan cara bekerja. Posisi duduk, jarak terhadap meja, penggunaan komputer, hingga cara mengangkat benda merupakan bagian dari prinsip ergonomi.
Artinya, kursi hanyalah salah satu komponen. Kursi yang baik tidak akan banyak membantu apabila monitor membuat kepala terus menunduk atau meja memaksa bahu terangkat selama mengetik.
OSHA juga merekomendasikan monitor ditempatkan langsung di depan pengguna dengan bagian atas layar berada setinggi atau sedikit di bawah mata. Keyboard dan perangkat input perlu diatur agar bahu tetap rileks dan siku berada dekat tubuh.
Karena itu, saat mencoba kursi, bayangkan keseluruhan meja kerja. Perhatikan hubungan tinggi dudukan dengan meja, posisi tangan, layar, dan pijakan kaki.
Kenyamanan Duduk Tidak Berarti Duduk Lebih Lama
Kursi yang nyaman dapat membantu pekerjaan terasa lebih menyenangkan. Namun, kenyamanan tersebut jangan sampai membuat seseorang lupa bahwa tubuh tetap membutuhkan gerakan.
WHO melaporkan sekitar 31 persen orang dewasa dunia, atau sekitar 1,8 miliar orang, tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik pada 2022. Angka ketidakaktifan tersebut meningkat sekitar 5 poin persentase dibandingkan 2010.
Jika kecenderungan itu terus berlangsung, WHO memperkirakan tingkat ketidakaktifan fisik pada orang dewasa dapat mencapai 35 persen pada 2030. Orang yang kurang aktif juga memiliki risiko kematian sekitar 20–30 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang cukup aktif.
Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 37,4 persen penduduk berusia 10 tahun ke atas tergolong kurang melakukan aktivitas fisik. Dari kelompok tersebut, 48,7 persen menyebut keterbatasan waktu sebagai alasan.
Data tersebut menjadi pengingat bahwa membeli kursi nyaman tidak menyelesaikan persoalan kurang bergerak. Lingkungan kerja ideal justru perlu memudahkan seseorang duduk dengan nyaman sekaligus meninggalkan kursi secara berkala.
Fitur Sederhana Bisa Lebih Berguna
Banyak kursi kerja menawarkan fitur yang semakin kompleks. Headrest, armrest, sandaran berbahan mesh, mekanisme reclining, dan berbagai pengaturan dapat menarik perhatian calon pembeli.
Namun, kebutuhan dasar sebaiknya diperiksa terlebih dahulu. Pastikan ketinggian dudukan dapat disesuaikan dengan meja dan tubuh. Periksa apakah sandaran memberikan dukungan yang terasa nyaman pada punggung.
OSHA juga menyebut bagian depan dudukan sebaiknya tidak menekan area belakang lutut dan tungkai bawah. Ruang yang cukup membantu pengguna mempertahankan posisi duduk tanpa tekanan berlebihan pada bagian tersebut.
Armrest juga perlu dipertimbangkan berdasarkan kebutuhan. Jika digunakan, posisinya sebaiknya mendukung lengan tanpa membuat bahu terangkat atau menghalangi pengguna mendekat ke meja.
Jika memungkinkan, cobalah kursi sebelum membeli. Duduk beberapa menit, ubah pengaturannya, lalu perhatikan apakah tubuh terasa mendapatkan dukungan atau justru dipaksa mengikuti bentuk kursi.
Harga mahal tidak selalu berarti paling sesuai. Kursi sederhana dengan ukuran dan pengaturan yang cocok dapat lebih berguna daripada model kompleks yang tidak pas dengan tubuh.
Kursi Hanya Satu Bagian dari Rutinitas Sehat
Setelah menemukan kursi yang sesuai, pekerjaan belum selesai. Tubuh tetap membutuhkan perubahan posisi dan aktivitas fisik sepanjang minggu.
WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang setiap minggu. Alternatifnya adalah 75–150 menit aktivitas aerobik intensitas berat atau kombinasi setara dari keduanya.
Aktivitas penguatan otot yang melibatkan kelompok otot utama juga direkomendasikan setidaknya dua hari dalam seminggu. Aktivitas dapat berasal dari olahraga, pekerjaan, transportasi aktif, maupun kegiatan sehari-hari.
Jadi, kursi kerja sebaiknya membantu ketika memang waktunya duduk. Setelah beberapa pekerjaan selesai, tubuh tetap membutuhkan kesempatan untuk berdiri, berjalan, dan mengubah posisi.
Hal ini penting karena pekerjaan modern semakin membuat aktivitas meja dan layar menjadi bagian besar dari keseharian. Kenyamanan perlu berjalan bersama kebiasaan bergerak, bukan menggantikannya.
Memilih kursi kerja yang nyaman akhirnya bukan perlombaan mencari fitur terbanyak. Mulailah dari kecocokan dengan tubuh, dukungan punggung, ketinggian dudukan, posisi kaki, serta hubungannya dengan meja dan layar.
Kursi kerja yang nyaman seharusnya membuat tubuh lebih terbantu ketika duduk. Namun, kursi terbaik sekalipun tetap perlu ditinggalkan sesekali agar tubuh mendapatkan sesuatu yang tidak dapat diberikan furnitur apa pun: kesempatan untuk bergerak.
