Rabu, 22 July 2026 08:30 UTC

Ilustrasi: Lemari Lebih Ringan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Menjual barang lama kini menjadi kebiasaan yang semakin banyak dilakukan, terutama untuk pakaian yang masih layak pakai.
Bagi sebagian orang, aktivitas ini bukan lagi sekadar mencari tambahan penghasilan, melainkan cara menjaga rumah tetap rapi sekaligus memberi kesempatan agar pakaian memiliki masa pakai yang lebih panjang.
Di berbagai kota, termasuk Surabaya, bazar preloved, toko konsinyasi, hingga platform jual beli daring semakin ramai. Fenomena tersebut menunjukkan perubahan cara masyarakat memandang kepemilikan barang. Pakaian yang jarang dipakai tidak lagi harus menumpuk di lemari, tetapi dapat dimanfaatkan kembali oleh orang lain.
Perubahan perilaku ini juga sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap isu limbah tekstil. United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat industri fesyen menghasilkan sekitar 2 hingga 8 persen emisi gas rumah kaca global dan menjadi salah satu sektor dengan konsumsi sumber daya yang sangat besar.
Memperpanjang usia penggunaan pakaian menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi tekanan terhadap lingkungan.
Lemari yang Penuh Belum Tentu Efisien
Banyak orang baru menyadari jumlah pakaian yang dimiliki setelah melakukan penataan lemari. Tidak sedikit pakaian yang tersimpan selama bertahun-tahun tanpa pernah digunakan kembali.
Kondisi tersebut membuat ruang penyimpanan menjadi sempit dan proses memilih pakaian setiap hari terasa kurang praktis. Menjual pakaian yang masih layak pakai menjadi salah satu cara untuk mengurangi penumpukan sekaligus menjaga koleksi tetap relevan dengan kebutuhan saat ini.
Konsep ini juga dikenal dalam pendekatan decluttering, yaitu mengurangi barang yang tidak lagi memberikan manfaat agar ruang menjadi lebih tertata dan nyaman digunakan.
Pakaian Lama Masih Memiliki Nilai Ekonomi
Banyak produk fesyen dibuat menggunakan material yang mampu bertahan dalam waktu lama apabila dirawat dengan baik. Jaket denim, tas kulit, blazer, hingga sepatu berkualitas masih memiliki nilai jual meskipun sudah pernah digunakan.
Laporan Resale Report 2025 dari ThredUp bersama GlobalData memperkirakan pasar pakaian preloved dunia akan mencapai 367 miliar dolar AS pada 2029. Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin banyak konsumen yang bersedia membeli produk bekas selama kualitasnya masih terjaga.
Perubahan ini membuka peluang baru bagi masyarakat. Barang yang sebelumnya hanya memenuhi lemari kini dapat menjadi sumber pendapatan tambahan tanpa perlu melakukan investasi besar.
Kebiasaan Menjual Barang Lama Mendukung Ekonomi Sirkular
Ekonomi sirkular mendorong sebuah produk digunakan selama mungkin sebelum menjadi limbah. Prinsip ini berbeda dengan pola konsumsi tradisional yang cenderung membeli, menggunakan, lalu membuang.
Menurut World Bank, dunia menghasilkan sekitar 2,24 miliar ton limbah padat perkotaan setiap tahun, dan jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 3,88 miliar ton pada 2050 apabila tidak ada perubahan pola konsumsi dan pengelolaan sampah.
Menjual pakaian yang masih layak pakai memang tidak akan langsung menyelesaikan persoalan tersebut. Namun langkah kecil seperti ini membantu memperpanjang umur produk sehingga kebutuhan produksi baru dapat ditekan.
Semakin banyak barang yang kembali digunakan, semakin sedikit pula produk yang berakhir sebagai limbah dalam waktu singkat.
Menjual Barang Lama Perlu Persiapan
Pakaian yang akan dijual sebaiknya dicuci, disetrika, dan diperiksa kembali kondisinya. Pembeli umumnya lebih tertarik pada produk yang bersih, lengkap, dan memiliki deskripsi yang jujur.
Foto produk yang jelas juga membantu calon pembeli memahami kondisi sebenarnya. Transparansi mengenai ukuran, bahan, hingga kekurangan kecil akan meningkatkan kepercayaan selama proses transaksi.
Menentukan harga secara realistis menjadi langkah penting. Harga yang terlalu tinggi sering membuat barang sulit terjual, sementara harga yang terlalu rendah dapat mengurangi nilai produk yang sebenarnya masih berkualitas baik.
Menjual barang lama bukan hanya membuat lemari terasa lebih ringan. Kebiasaan ini ikut membangun pola konsumsi yang lebih efisien, memperpanjang umur pakai pakaian, serta membuka peluang ekonomi bagi lebih banyak orang.
Ketika sebuah pakaian kembali digunakan oleh pemilik baru, manfaatnya pun tidak berhenti pada satu orang saja.
