Sabtu, 29 August 2026 06:00 UTC

Menteri Perdagangan Budi Santoso saat meninjau sentra budi daya koral di Kecamatan Ketapang, Banyuwangi, Sabtu, 29 Agustus 2026. Foto: Hermawan
JATIMNET.COM, Banyuwangi – Koral hidup hasil budidaya pelaku usaha di Kabupaten Banyuwangi semakin berkembang di pasar internasional. Produk tersebut kini telah menjangkau sekitar 20 negara yang tersebar di Asia, Amerika, hingga Eropa.
PT Srikandi Aquarium di Kecamatan Ketapang kembali mengirim koral hidup untuk pasar luar negeri. Perusahaan tersebut mengekspor koral senilai 2.500 dolar AS ke Amerika Serikat pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Menteri Perdagangan Budi Santoso melepas langsung pengiriman ekspor tersebut. Kegiatan itu sekaligus menunjukkan potensi komoditas kelautan hasil budidaya Banyuwangi untuk bersaing di pasar global.
Owner PT Srikandi Aquarium I Ketut Sukandi mengatakan perusahaannya mulai mengembangkan budidaya sekaligus ekspor koral hidup sejak 2011. Selama sekitar 15 tahun, produk perusahaan telah dikirim ke pembeli di sekitar 20 negara.
"Kami mulai ekspor sejak 2011. Sampai sekarang sudah sekitar 20 negara yang menjadi tujuan ekspor," ujar Sukandi.
Sukandi memastikan seluruh koral yang dikirim ke pasar internasional merupakan hasil budidaya. Perusahaan tidak mengambil koral secara langsung dari alam.
Ia menjalankan proses budidaya di fasilitas yang berada di Jalan Situbondo-Banyuwangi, Desa Bulusan, Kecamatan Kalipuro. Saat ini, perusahaan membudidayakan sekitar 29 jenis koral.
Kapasitas produksinya juga cukup besar. Dalam setahun, PT Srikandi Aquarium mampu menghasilkan sekitar 80 ribu koloni atau biji koral.
"Produksi kami sekitar 80 ribu biji koral dalam satu tahun," katanya.
Seluruh hasil produksi tersebut diarahkan untuk memenuhi permintaan pasar ekspor. Sukandi memilih tidak menjual koral hidup ke pasar domestik karena permintaan dari konsumen luar negeri masih cukup tinggi.
Perusahaan melakukan pengiriman secara berkala setiap delapan hingga 10 hari. Dalam satu bulan, nilai ekspor koral rata-rata mencapai sekitar 25 ribu dolar AS.
"Pasarnya cukup baik dan harga koral relatif stabil, tidak terlalu fluktuatif," ujarnya.
Meski permintaan pasar tetap terjaga, pelaku usaha menghadapi tantangan dalam proses budidaya. Kondisi gelombang laut menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan, terutama ketika gelombang meningkat.
"Seperti bulan Agustus ini, gelombang cukup besar. Meja-meja budidaya di laut bisa bergoyang. Karena itu harus diperkuat agar tidak terbalik," kata Sukandi.
Sukandi berharap semakin banyak masyarakat Banyuwangi tertarik mengembangkan usaha budidaya koral. Saat ini, jumlah pembudidaya koral di Banyuwangi masih terbatas, yakni sekitar 10 pelaku usaha.
"Kalau di Indonesia, sentra pembudidayaannya banyak di Jakarta dan Bali. Totalnya hampir 100 pengusaha," ujarnya.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah terus membuka akses pasar internasional bagi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia. Ekspor koral budidaya Banyuwangi menjadi salah satu produk yang mendapat dukungan tersebut.
"Kementerian Perdagangan mempunyai Perwakilan Perdagangan, Atase Perdagangan, dan ITPC (Indonesia Trade Promotion Center) di 33 negara. Tugas mereka mencarikan buyer atau mempromosikan produk-produk Indonesia. Salah satunya produk UMKM yang ada di Banyuwangi," kata Budi.
Pemerintah melihat produk berbasis potensi lokal memiliki peluang besar untuk berkembang di pasar global. Keberhasilan koral budidaya Banyuwangi menembus pasar internasional menjadi salah satu bukti bahwa komoditas lokal dapat memiliki nilai ekonomi tinggi.
Budidaya koral juga memperlihatkan luasnya potensi sektor kelautan Banyuwangi. Selain mengandalkan perikanan tangkap, masyarakat dapat mengembangkan kegiatan budidaya yang menghasilkan produk bernilai ekonomi sekaligus memiliki pasar ekspor.
