Selasa, 16 June 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Belajar Mengelola Uang. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Literasi keuangan semakin menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda. Di tengah kemudahan transaksi digital, diskon instan, dan berbagai pilihan pembayaran, kemampuan mengatur uang justru menjadi tantangan yang semakin kompleks.
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen.
Sementara, indeks inklusi keuangan sudah mencapai 80,51 persen. Angka ini menunjukkan akses terhadap layanan keuangan berkembang lebih cepat dibanding pemahaman masyarakat terhadap cara mengelola keuangan dengan baik.
Kondisi tersebut cukup relevan dengan kehidupan mahasiswa. Banyak anak muda sudah memiliki rekening bank, dompet digital, atau aplikasi investasi, tetapi belum semuanya memiliki kebiasaan keuangan yang sehat.
Padahal, masa kuliah merupakan periode ideal untuk membangun fondasi finansial yang akan berpengaruh selama puluhan tahun ke depan.
Menganggap Uang Bulanan Sebagai Tanggung Jawab
Salah satu kebiasaan paling penting adalah memperlakukan uang bulanan sebagai sumber daya yang harus dikelola, bukan sekadar dihabiskan.
Baik berasal dari orang tua, beasiswa, maupun pekerjaan paruh waktu, setiap pemasukan memiliki batas yang jelas. Ketika seseorang memahami bahwa uang memiliki fungsi dan tujuan, keputusan belanja biasanya menjadi lebih rasional.
Banyak mahasiswa menganggap nominal bulanan sebagai angka yang akan selalu datang kembali pada bulan berikutnya. Pola pikir ini sering membuat pengeluaran kecil terasa tidak penting.
Padahal kebocoran keuangan biasanya muncul dari transaksi bernilai kecil yang dilakukan berulang kali.
Mencatat Pengeluaran Tanpa Harus Terlalu Rumit
Kebiasaan kedua yang sering diremehkan adalah mencatat pengeluaran. Tidak semua orang harus menggunakan aplikasi keuangan yang kompleks. Sebagian orang justru lebih nyaman menggunakan catatan sederhana di ponsel atau buku kecil.
Tujuannya, bukan membuat laporan keuangan yang sempurna. Tujuannya adalah mengetahui ke mana uang pergi setiap bulan.
Banyak mahasiswa terkejut ketika menyadari bahwa pengeluaran untuk kopi, makanan pesan antar, biaya transportasi tambahan, atau langganan digital ternyata menghabiskan porsi yang cukup besar dari anggaran bulanan. Kesadaran semacam ini menjadi langkah awal sebelum melakukan perbaikan.
Membedakan Kebutuhan dan Keinginan
Perbedaan antara kebutuhan dan keinginan sering terdengar sederhana, tetapi praktiknya tidak selalu mudah. Di lingkungan kampus, tekanan sosial bisa muncul dalam berbagai bentuk. Mulai dari tren gadget terbaru, tempat nongkrong populer, hingga gaya hidup yang terlihat menarik di media sosial.
Kebiasaan finansial yang sehat bukan berarti menolak semua bentuk hiburan atau kesenangan. Yang lebih penting adalah kemampuan menentukan prioritas.
Mahasiswa yang mampu membedakan kebutuhan dan keinginan biasanya lebih siap menghadapi pengeluaran mendadak.
Mereka juga cenderung tidak mudah tergoda melakukan pembelian impulsif yang hanya memberikan kepuasan sesaat.
Mulai Mengenal Dana Darurat Sejak Dini
Dana darurat sering dianggap sebagai konsep yang hanya relevan bagi pekerja tetap. Padahal, mahasiswa juga menghadapi berbagai risiko finansial yang tidak terduga. Kendaraan rusak, kebutuhan kesehatan, biaya akademik tambahan, atau perjalanan mendadak bisa muncul kapan saja.
Tidak harus langsung dalam jumlah besar. Menyisihkan sebagian kecil uang secara rutin jauh lebih penting dibanding menunggu kondisi ideal yang belum tentu datang.
Kebiasaan ini membantu membangun rasa aman dan mengurangi ketergantungan pada pinjaman ketika menghadapi kebutuhan mendesak.
Selain itu, kemampuan menyiapkan dana cadangan juga melatih disiplin finansial yang sangat berguna saat memasuki dunia kerja nanti.
Memahami Produk Keuangan Sebelum Menggunakannya
Perkembangan teknologi membuat akses terhadap berbagai layanan keuangan semakin mudah. Mahasiswa kini dapat membuka rekening secara digital, membeli produk investasi, hingga mengajukan pinjaman melalui aplikasi.
Namun kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai. Data SNLIK 2025 menunjukkan bahwa tingkat inklusi keuangan masyarakat Indonesia sudah melampaui 80 persen, sementara tingkat literasinya masih berada di kisaran 66 persen.
Artinya, masih ada jarak antara penggunaan produk keuangan dan pemahaman terhadap manfaat maupun risikonya. Karena itu, membaca syarat layanan, memahami biaya administrasi, mengenali risiko investasi, serta mengetahui hak konsumen menjadi kebiasaan yang layak dibangun sejak masa kuliah.
Pengetahuan sederhana semacam ini sering menjadi pembeda antara keputusan finansial yang bijak dan keputusan yang menimbulkan masalah di kemudian hari.
Literasi keuangan pada akhirnya bukan soal menjadi kaya dalam waktu singkat. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan kecil yang konsisten.
Masa kuliah memberikan ruang untuk belajar dari kesalahan dengan risiko yang relatif lebih kecil dibanding saat sudah memiliki tanggungan keluarga atau kewajiban finansial yang lebih besar.
Kemampuan mengatur uang mungkin tidak selalu terlihat seperti prestasi akademik. Namun dalam jangka panjang, kebiasaan finansial yang baik sering menjadi salah satu investasi paling berharga yang bisa dimulai sejak bangku kuliah.
