Selasa, 21 July 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Menghargai giliran bersama. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Mengantre sering dipandang sebagai aktivitas biasa. Padahal, kebiasaan sederhana ini mencerminkan kualitas hubungan sosial di ruang publik.
Saat seseorang bersedia menunggu gilirannya, ia sedang menunjukkan penghargaan terhadap hak orang lain tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun.
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang besar. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), hasil Sensus Penduduk 2020 mencatat jumlah penduduk mencapai 270,20 juta jiwa, sementara proyeksi BPS menunjukkan jumlah tersebut telah melampaui 280 juta jiwa pada pertengahan dekade ini.
Besarnya populasi membuat ruang publik semakin padat sehingga budaya mengantre menjadi kebutuhan bersama, bukan sekadar pilihan perilaku.
Di kota besar seperti Surabaya, antrean dapat dijumpai hampir setiap hari, mulai dari halte, rumah sakit, loket pembayaran, pusat perbelanjaan, hingga layanan administrasi pemerintahan. Ketertiban yang tercipta di tempat-tempat tersebut lahir dari kesediaan setiap orang untuk menghargai urutan kedatangan.
Mengantre Melatih Empati Sejak Hal Sederhana
Budaya mengantre tidak hanya berkaitan dengan aturan, tetapi juga kemampuan memahami kepentingan orang lain. Ketika seseorang tetap berada di posisinya meski ingin segera dilayani, ia sedang belajar mengendalikan keinginan pribadi.
Nilai ini sejalan dengan karakter sosial masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi kebersamaan. Memberikan kesempatan kepada orang lain memperoleh haknya lebih dahulu merupakan bentuk empati yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan tersebut juga mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kedudukan yang sama di hadapan aturan. Tidak ada perlakuan istimewa hanya karena usia, profesi, atau status sosial, kecuali bagi kelompok prioritas yang memang telah diatur secara khusus.
Rasa saling menghormati seperti inilah yang membuat suasana ruang publik terasa lebih nyaman.
Antrean Membantu Menciptakan Kepercayaan Sosial
Kepercayaan menjadi modal penting dalam kehidupan masyarakat modern. Orang akan lebih mudah bekerja sama apabila yakin bahwa aturan diterapkan secara adil.
Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mengenai tata kelola publik menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap layanan publik meningkat ketika prosedur pelayanan berlangsung transparan dan dapat diprediksi.
Salah satu bentuk transparansi paling sederhana adalah sistem antrean yang berjalan sesuai urutan. Saat masyarakat percaya bahwa hak mereka tidak akan diambil orang lain, potensi konflik dapat berkurang. Suasana pelayanan menjadi lebih tenang karena semua pihak memahami proses yang sedang berlangsung.
Ketertiban seperti ini memberi manfaat bukan hanya bagi pengguna layanan, tetapi juga bagi petugas yang bekerja di garis depan.
Memberi Prioritas Juga Bagian dari Budaya Antre
Menghormati antrean bukan berarti semua orang harus diperlakukan dengan cara yang sama. Dalam banyak layanan publik terdapat kelompok yang memperoleh prioritas, seperti lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, serta orang dengan kebutuhan khusus.
Kebijakan tersebut sejalan dengan prinsip pelayanan publik yang inklusif. Memberikan akses lebih cepat kepada kelompok rentan bukanlah bentuk perlakuan istimewa, melainkan upaya menghadirkan keadilan sesuai kebutuhan masing-masing.
Kesadaran masyarakat terhadap jalur prioritas juga semakin baik. Banyak orang kini secara sukarela memberikan kesempatan kepada mereka yang membutuhkan tanpa harus diminta oleh petugas.
Sikap sederhana seperti berdiri sedikit lebih lama demi membantu orang lain justru memperlihatkan kedewasaan sosial yang semakin berkembang.
Kota yang Nyaman Berawal dari Kebiasaan Warganya
Kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari banyaknya gedung tinggi atau jalan yang lebar. Cara masyarakat berinteraksi di ruang publik juga menjadi bagian penting dari kualitas kehidupan perkotaan.
Surabaya menjadi salah satu contoh kota yang terus mendorong budaya tertib melalui berbagai layanan publik yang semakin modern.
Marka antre, jalur prioritas, sistem nomor elektronik, hingga ruang tunggu yang nyaman merupakan fasilitas yang akan bekerja optimal apabila didukung perilaku masyarakat.
Mengantre memang membutuhkan sedikit kesabaran. Sebagai gantinya, setiap orang memperoleh kepastian bahwa haknya akan dihormati sesuai urutan.
Budaya mengantre bukan hanya menciptakan pelayanan yang lebih tertib. Kebiasaan ini juga memperkuat rasa saling menghargai di tengah masyarakat yang semakin dinamis.
Semakin sering nilai tersebut dipraktikkan, semakin nyaman pula ruang publik menjadi milik bersama.
