Minggu, 27 September 2026 03:00 UTC

Warga Mojokerto saat mengikuti latihan mengenali kondisi henti jantung sekaligus memberikan pertolongan awal melalui pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD), Sabtu, 26 September 2026. Foto: Wanto.
JATIMNET.COM, Mojokerto – Henti jantung bisa terjadi kapan saja dan pertolongan dalam beberapa menit pertama menjadi sangat menentukan.
Karena itu, warga Kota Mojokerto dilatih mengenali kondisi tersebut sekaligus memberikan pertolongan awal melalui pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD), Sabtu, 26 September 2026.
Pelatihan yang digelar di Atrium Sunrise Mall ini sebagai bagian dari rangkaian Mojo Health Fest 2026. Peserta tidak hanya mendapat materi, tetapi juga mempraktikkan langkah pertolongan ketika menghadapi orang yang tiba-tiba kehilangan kesadaran.
Materi dan praktik diberikan dr. Achmad Rizal Shahab. Peserta dikenalkan dengan tanda-tanda henti jantung serta tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP) yang dapat dilakukan sebelum korban mendapatkan penanganan tenaga medis.
Keterampilan tersebut menjadi penting karena orang yang pertama kali menemukan korban belum tentu tenaga kesehatan.
Dalam situasi darurat, kemampuan mengenali kondisi dan segera memberikan pertolongan dapat menjadi langkah awal sebelum bantuan medis tiba.
Pelatihan yang digelar Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kota Mojokerto bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempraktikkan respons terhadap kondisi yang mengancam nyawa.
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mengatakan, kegawatdaruratan membutuhkan respons yang cepat. Menurutnya, masyarakat perlu memiliki pengetahuan dasar agar dapat memberikan pertolongan sebelum korban mendapat penanganan lebih lanjut.
“Karena itu Kota Mojokerto hadir dengan adanya PSC 119. Ada juga sinergi dengan PMI Kota Mojokerto yang memberikan layanan 24 jam terkait dengan kegawatdaruratan. Selain itu, di Balai Kota Mojokerto juga tersedia call center 112 yang selama 24 jam,” kata Ning Ita, sapaan akrab Ika Puspitasari.
Menurutnya, layanan tersebut menjadi bagian dari sistem kegawatdaruratan yang melibatkan PSC, PMI, Polres Mojokerto Kota, pemadam kebakaran, dan unsur terkait lainnya.
Namun, layanan kegawatdaruratan tidak selalu menjadi pertolongan pertama yang diterima korban. Pada kondisi tertentu, orang di sekitar korban menjadi pihak yang lebih dulu mengetahui kejadian dan dapat mengambil tindakan sambil menunggu bantuan datang.
Melalui pelatihan BHD, masyarakat diharapkan tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga memiliki keberanian dan keterampilan dasar untuk merespons situasi tersebut.
Selain BHD, rangkaian Mojo Health Fest 2026 diisi Seminar Kesehatan bertajuk “Safe Running Happy Finishing” dan event lari “Run for Your Life”.
