Rabu, 15 April 2026 10:09 UTC

DPD Partai Golkar Jawa Timur menggelar Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Bidang Kaderisasi dan Keanggotaan serta Bidang Pemuda dan Olahraga bersama DPD kabupaten/kota se-Jatim, Rabu, 15 April 2026. Foto: Januar
JATIMNET.COM, Surabaya – Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Golkar Jawa Timur menggelar Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) bidang Kaderisasi dan Keanggotaan serta Pemuda dan Olahraga bersama seluruh DPD kabupaten/kota se-Jatim. Agenda ini menjadi kelanjutan dari Rakerda yang difokuskan pada penguatan struktur organisasi hingga tingkat akar rumput, sekaligus mendorong regenerasi kepemimpinan partai.
Sekretaris DPD Partai Golkar Jatim, Blegur Prijanggono, menegaskan bahwa Rakornis kaderisasi memiliki peran penting dalam memperkuat basis kader muda di semua level organisasi. Menurutnya, forum ini menjadi bagian dari konsolidasi internal pasca-Rakerda, khususnya dalam mempersiapkan kekuatan politik menghadapi dominasi pemilih muda pada Pemilu 2029.
“Pentingnya acara pada siang hari ini merupakan lanjutan dari Rakerda dengan Rakornis bidang kaderisasi antar-tingkatan untuk kaderisasi kader muda. Pemilih 2029 adalah pemilih muda, sehingga perlu dipersiapkan sejak sekarang. Melalui Rakornis ini diharapkan ada peningkatan kaderisasi di semua tingkatan,” ujar Blegur, Rabu, 15 April 2026.
BACA: Pemilu 2029, Partai Golkar Targetkan Penambahan Kursi di DPR RI dan DPRD
Ia menekankan bahwa proses kaderisasi harus dimulai dari struktur paling bawah melalui musyawarah kecamatan (muscam) hingga musyawarah kelurahan (muslur). Dalam proses tersebut, keterlibatan generasi muda dinilai krusial untuk memperluas basis partai.
“Pemilih Gen Z ini harus kita rangkul melalui proses muscam dan muslur dengan melibatkan anak-anak muda sejak tingkat paling bawah,” katanya.
Sementara itu, Ketua Bidang Kaderisasi dan Keanggotaan DPP Partai Golkar, Zulfikar Arse Sadikin, menyebut kaderisasi sebagai fondasi utama keberlangsungan organisasi. Ia menilai, Partai Golkar saat ini tengah berada dalam fase regenerasi yang menuntut kehadiran kader baru untuk melanjutkan estafet perjuangan.
“Kaderisasi itu darahnya organisasi. Kalau Partai Golkar ingin makin punya fungsi dan peran yang lebih baik, jangan lupa meningkatkan kaderisasi. Sekarang Partai Golkar sedang mengalami regenerasi, generasi lama secara alami mulai berkurang dan kita membutuhkan generasi baru untuk melanjutkan perjuangan pendahulu,” ujarnya.
Zulfikar juga menyoroti pentingnya penerapan sistem meritokrasi di internal partai. Ia menegaskan bahwa posisi strategis seharusnya diisi oleh kader yang telah melalui proses kaderisasi secara berjenjang.
“Kita ingin agar di tubuh partai berlaku meritokrasi. Yang mengurus partai dan ditempatkan partai adalah orang-orang yang telah melalui proses kaderisasi,” kata Zulfikar.
Ia menilai langkah DPD Golkar Jatim yang melibatkan generasi muda dalam kepengurusan merupakan strategi tepat untuk menghadapi pergeseran demografi politik ke depan.
“Itu bagus dan merupakan upaya kita menyongsong shifting generasi. Kalau perlu semakin banyak anak muda akan semakin baik, karena ke depan arah politik kita banyak ditentukan generasi Z, alfa hingga X,” ujarnya.
Zulfikar optimistis, penguatan kaderisasi berbasis generasi muda akan berdampak langsung pada peningkatan dukungan pemilih muda dalam pemilu mendatang.
“Pengkaderan ini ke depan juga bisa meningkatkan jumlah pemilih dari Gen Z dalam pemilu, agar pemuda semakin dekat dan senang dengan Partai Golkar,” katanya.
Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Jatim, Adiel Muhammad Kanantha, menyatakan pihaknya siap memperkuat strategi kaderisasi dengan pendekatan khas generasi muda. Ia menyebut, pembentukan struktur organisasi hingga tingkat kecamatan dan kelurahan akan menjadi prioritas.
“Kami dari pemuda sebagai satu kesatuan organisasi akan melakukan kaderisasi melalui pembentukan struktur hingga tingkat kelurahan dan kecamatan dengan pendekatan ala Gen Z, alfa hingga X. Intinya menggunakan cara anak muda,” ujarnya.
Adiel mengakui masih adanya stigma negatif di kalangan anak muda terhadap partai politik. Oleh karena itu, pendekatan komunikasi yang adaptif dan relevan menjadi kunci untuk menarik minat mereka.
“Kami sudah mendengar bahwa ada anak muda yang cenderung apatis. Karena itu strategi kami adalah mengikuti gaya anak muda terlebih dahulu. Kalau dilakukan dengan pemaksaan tentu akan sulit diterima,” katanya.
Ia menambahkan, penggunaan bahasa yang sesuai dengan karakter generasi muda menjadi pintu masuk untuk mengenalkan identitas partai secara lebih efektif.
“Kita terima dulu bahasa mereka, baru kemudian mengenalkan apa itu partai kuning dan apa itu Partai Golkar. Dengan cara itu pasti akan lebih mudah diterima,” ujarnya.
Melalui Rakornis ini, DPD Partai Golkar Jawa Timur menargetkan penguatan struktur organisasi berbasis generasi muda sebagai langkah strategis menghadapi dinamika politik nasional. Upaya ini juga diharapkan mampu memperluas basis pemilih muda menjelang Pemilu 2029.
