Logo

Fenomena Titip Oleh-Oleh Kini Makin Jarang Dilakukan

Perjalanan hari ini terasa lebih cepat, tetapi kebiasaan kecil yang dulu menghangatkan hubungan perlahan mulai hilang
Reporter:,Editor:

Sabtu, 23 May 2026 05:00 UTC

Fenomena Titip Oleh-Oleh Kini Makin Jarang Dilakukan

Ilustrasi: Pulang tanpa oleh-oleh. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Budaya oleh-oleh perlahan mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Jika dulu bepergian hampir selalu identik dengan membawa buah tangan untuk keluarga, tetangga, atau rekan kerja, kini kebiasaan itu mulai semakin jarang dilakukan, terutama di kalangan anak muda urban.

 

Fenomena ini terlihat jelas di berbagai kota besar Jawa Timur seperti Surabaya, Malang, hingga Sidoarjo. Banyak orang kini memilih perjalanan yang lebih praktis tanpa repot membawa barang tambahan.

 

Perubahan tersebut ternyata tidak hanya dipengaruhi gaya hidup modern, tetapi juga pola konsumsi masyarakat yang berubah sangat cepat setelah era digital berkembang pesat.

 

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pengeluaran masyarakat Indonesia untuk makanan dan minuman jadi terus meningkat, sementara belanja barang khas daerah sebagai konsumsi sekunder cenderung lebih selektif dibanding satu dekade lalu. Pada 2025, rata-rata pengeluaran konsumsi rumah tangga nasional mencapai Rp1,48 juta per kapita per bulan. Sebagian besar digunakan untuk kebutuhan rutin harian.

 

Di sisi lain, laporan Google, Temasek, dan Bain & Company dalam e-Conomy SEA 2025 menunjukkan masyarakat Indonesia semakin terbiasa membeli produk lintas kota melalui marketplace. Barang yang dulu dianggap “oleh-oleh khas daerah” kini bisa dibeli kapan saja tanpa harus menunggu orang bepergian.

 

 

Oleh-Oleh Dulu Bagian Penting Hubungan Sosial

 

Bagi banyak keluarga Indonesia, membawa oleh-oleh dulu dianggap bentuk perhatian sosial sederhana. Bahkan perjalanan singkat ke luar kota sering terasa kurang lengkap jika pulang tanpa makanan khas atau camilan daerah.

 

Budaya ini cukup kuat di Jawa Timur. Kota seperti Malang, Banyuwangi, Madiun, hingga Kediri pernah sangat identik dengan tradisi membawa buah tangan khas daerah.

 

Tidak sedikit pekerja kantoran dulu merasa “tidak enak” jika kembali dari liburan tanpa membawakan sesuatu untuk teman kantor.

 

Namun perlahan, tekanan sosial semacam itu mulai berkurang. Hubungan sosial masyarakat urban kini terasa lebih fleksibel dan tidak lagi terlalu terikat kebiasaan simbolik seperti oleh-oleh.

 

 

Marketplace Membuat Semua Barang Jadi Mudah Didapat

 

Perubahan terbesar datang dari kemudahan belanja online. Produk khas daerah kini dapat dibeli dalam hitungan menit melalui marketplace atau layanan titip digital.

 

Laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia pada 2025 menunjukkan penetrasi internet Indonesia sudah mencapai lebih dari 79 persen populasi. Angka ini ikut mengubah pola konsumsi masyarakat sehari-hari.

 

Makanan khas yang dulu hanya bisa dibeli langsung di daerah asal sekarang tersedia di toko online nasional. Mulai dari bakpia, pia, sambal khas, keripik buah, hingga kopi lokal dapat dikirim ke berbagai kota dengan mudah.

 

Akibatnya, fungsi oleh-oleh sebagai “barang langka” perlahan menghilang. Banyak orang merasa tidak perlu lagi menitip barang kepada teman yang bepergian karena semua bisa dibeli sendiri kapan saja.

 

Generasi Muda Kini Lebih Mengutamakan Praktis

 

Perubahan pola perjalanan juga ikut memengaruhi budaya oleh-oleh. Anak muda sekarang cenderung melakukan perjalanan singkat dengan konsep praktis dan minim barang bawaan.

 

Maskapai bertarif rendah, perjalanan kerja cepat, hingga budaya short trip membuat banyak orang memilih bepergian seringan mungkin.

 

Data Kementerian Perhubungan menunjukkan mobilitas masyarakat domestik terus meningkat setelah pandemi, terutama untuk perjalanan singkat antarkota dan wisata akhir pekan.

 

Namun peningkatan perjalanan ini tidak selalu diikuti peningkatan budaya membeli oleh-oleh. Banyak orang kini lebih memilih mengabadikan pengalaman melalui foto, video, atau unggahan media sosial dibanding membawa barang fisik.

 

Fenomena ini menunjukkan bahwa bentuk “kenang-kenangan perjalanan” perlahan bergeser dari benda menjadi pengalaman digital.

 

 

Ada Perubahan Cara Menunjukkan Perhatian

 

Meski budaya oleh-oleh mulai berkurang, bukan berarti masyarakat menjadi lebih individualis.

 

Cara orang menunjukkan perhatian kini berubah bentuk. Sebagian orang lebih memilih mentraktir kopi setelah pulang liburan, membagikan rekomendasi tempat wisata, atau sekadar mengirim foto perjalanan kepada teman dekat.

 

Bentuk perhatian menjadi lebih personal dan tidak selalu harus berupa barang. Selain itu, kesadaran finansial generasi muda juga ikut memengaruhi kebiasaan konsumsi. Banyak orang kini lebih selektif mengeluarkan uang untuk hal yang benar-benar diperlukan.

 

Kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil membuat sebagian masyarakat mulai mengurangi pengeluaran sosial yang dianggap tidak wajib.

 

 

Budaya Oleh-Oleh Tidak Benar-Benar Hilang

 

Meski semakin jarang dilakukan, budaya oleh-oleh sebenarnya belum sepenuhnya hilang. Di banyak keluarga Indonesia, kebiasaan ini tetap bertahan sebagai simbol perhatian dan kedekatan emosional.

 

Hanya saja, cara masyarakat memaknainya mulai berubah mengikuti ritme hidup modern yang lebih cepat dan praktis.

 

Fenomena budaya oleh-oleh hari ini memperlihatkan bahwa kebiasaan sosial bisa berubah seiring teknologi, pola perjalanan, dan cara orang membangun hubungan sehari-hari.

Di tengah dunia yang semakin digital, perhatian kecil tetap dibutuhkan. Bedanya, bentuknya kini tidak selalu dibungkus kotak makanan khas sepulang perjalanan.