Logo

Fenomena “Self-Care Produktif”: Istirahat Pun Kini Harus Terlihat Berguna

Self-care perlahan berubah dari ruang tenang menjadi bagian dari budaya performa digital.
Reporter:,Editor:

Kamis, 21 May 2026 08:30 UTC

Fenomena “Self-Care Produktif”: Istirahat Pun Kini Harus Terlihat Berguna

Ilustrasi self-care kini sering terasa seperti bagian dari tuntutan produktivitas digital. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Self-care produktif kini menjadi bagian dari gaya hidup generasi urban modern. Aktivitas seperti journaling, yoga, meditasi, membaca buku, pilates, solo date, sampai skincare routine semakin sering muncul di media sosial sebagai simbol kehidupan yang seimbang dan sehat.

 

Di satu sisi, tren ini membawa dampak positif karena membuat kesehatan mental lebih sering dibicarakan secara terbuka. Namun di sisi lain, muncul tekanan baru yang jarang disadari: bahkan saat beristirahat, banyak orang merasa tetap harus terlihat berkembang, estetik, dan produktif.

 

Fenomena ini sangat terasa di kalangan Gen Z dan milenial perkotaan. Aktivitas relaksasi kini sering dibungkus seperti pencapaian personal. Istirahat bukan lagi sekadar berhenti sejenak, tetapi ikut menjadi bagian dari citra diri digital.

 

Media sosial perlahan mengubah cara orang memandang waktu luang. Self-care yang dulu bersifat privat kini berubah menjadi konten publik.

 

 

Budaya Digital Membuat Orang Sulit Benar-Benar Istirahat

 

Perubahan ini tidak bisa dilepaskan dari kehidupan digital masyarakat Indonesia yang semakin intens. Laporan Digital 2025 dari We Are Social menunjukkan Indonesia memiliki sekitar 212 juta pengguna internet pada awal 2025 dengan tingkat penetrasi mencapai 74,6 persen populasi. 

 

Di saat yang sama, masyarakat Indonesia juga termasuk pengguna media sosial paling aktif di dunia. Data We Are Social yang dirangkum GoodStats menunjukkan pengguna internet Indonesia menghabiskan rata-rata sekitar 188 menit atau lebih dari tiga jam per hari di media sosial. 

 

Kondisi ini membuat masyarakat terus terpapar standar gaya hidup orang lain hampir tanpa jeda. Timeline dipenuhi rutinitas pagi produktif, konten olahraga, kebiasaan membaca buku, hingga video “becoming the best version of yourself”.

 

Tanpa sadar, banyak orang mulai merasa bahwa waktu santai harus tetap memiliki nilai perkembangan diri.

 

Padahal, tubuh dan pikiran manusia sebenarnya membutuhkan jeda tanpa target tertentu.

 

 

Self-Care Kini Dekat dengan Budaya Performa

 

Fenomena self-care produktif berkembang bersamaan dengan budaya self-improvement yang sangat kuat di media sosial. Hari ini, aktivitas sederhana seperti minum kopi sendirian atau membaca buku sering dibingkai sebagai bagian dari perjalanan menjadi versi diri yang lebih baik.

 

Akibatnya, self-care tidak lagi terasa spontan. Banyak orang mulai menjalani aktivitas relaksasi dengan tekanan tersembunyi untuk tetap terlihat ideal.

 

Ironisnya, kondisi ini justru bisa membuat orang semakin lelah.

 

Survei Populix sebelumnya menunjukkan rasa “selalu kelelahan” menjadi salah satu kondisi yang paling sering dirasakan Gen Z dan milenial Indonesia. Selain kelelahan, banyak responden juga mengaku mengalami kesulitan tidur dan rasa tidak berguna akibat tekanan hidup modern. 

 

Fenomena ini memperlihatkan bahwa generasi muda modern hidup di tengah paradoks digital. Mereka semakin sadar pentingnya kesehatan mental, tetapi juga semakin sulit benar-benar lepas dari tekanan produktivitas.

 

Bahkan healing pun kadang terasa seperti tugas baru yang harus dilakukan dengan benar.

 

 

Kenapa Self-Care Mudah Berubah Jadi Konten?

 

Media sosial bekerja dengan sistem visual dan validasi. Aktivitas yang terlihat menarik, estetik, dan relatable cenderung lebih mudah mendapat perhatian. Karena itu, self-care menjadi salah satu tema yang sangat cocok berkembang di internet modern.

 

Video journaling pagi, meja kerja rapi, workout routine, atau rutinitas skincare malam menghadirkan kesan hidup yang teratur dan terkendali. Banyak orang merasa nyaman melihatnya karena memberi ilusi ketenangan di tengah hidup yang serba cepat.

 

Namun lama-kelamaan, standar visual itu juga ikut membentuk tekanan sosial baru.

 

Orang mulai merasa harus memiliki rutinitas ideal agar terlihat menjalani hidup dengan benar. Bahkan aktivitas istirahat terasa kurang maksimal jika tidak cukup estetik atau tidak cukup “bernilai”.

 

Fenomena ini semakin kuat karena generasi muda saat ini tumbuh di era personal branding digital. Apa yang dilakukan sehari-hari sering dianggap ikut merepresentasikan kualitas diri seseorang.

 

Akibatnya, batas antara kebutuhan pribadi dan performa sosial semakin tipis.

 

 

Banyak Orang Sebenarnya Hanya Ingin Merasa Tenang

 

Di balik tren self-care modern, ada satu hal yang sering terlupakan: sebagian besar orang sebenarnya hanya sedang mencari rasa tenang.

 

Tekanan ekonomi, budaya kerja cepat, ketidakpastian karier, hingga banjir informasi membuat banyak masyarakat urban mengalami kelelahan mental yang berlangsung terus-menerus. Karena itu, aktivitas self-care menjadi cara sederhana untuk mengambil kembali rasa kontrol terhadap hidup sehari-hari.

 

Masalahnya, ketika self-care ikut berubah menjadi standar sosial baru, orang justru berisiko kehilangan fungsi utamanya.

 

Istirahat akhirnya terasa seperti proyek pengembangan diri tanpa akhir.

 

Padahal tidak semua waktu luang harus produktif. Tidak semua momen santai perlu dibagikan. Dan tidak semua bentuk self-care harus terlihat menarik di media sosial.

 

Kadang, bentuk istirahat paling sehat justru adalah melakukan sesuatu tanpa tujuan apa pun selain membuat diri sendiri merasa lebih tenang.

 

Mungkin itu sebabnya banyak orang hari ini mulai merindukan aktivitas sederhana yang benar-benar privat. Duduk tanpa membuka notifikasi, berjalan tanpa membuat konten, atau menikmati waktu kosong tanpa rasa bersalah.

 

Karena di tengah budaya digital yang terus bergerak cepat, kemampuan untuk benar-benar berhenti ternyata mulai menjadi kemewahan baru.