Kamis, 21 May 2026 00:00 UTC

Ilustrasi nongkrong kini bukan sekadar santai, tetapi juga ruang untuk terlihat produktif. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Budaya nongkrong di Indonesia sedang mengalami perubahan besar. Jika dulu orang datang ke kafe untuk benar-benar santai, ngobrol panjang, atau sekadar menghabiskan waktu tanpa tujuan jelas, kini suasananya berbeda.
Laptop terbuka di hampir setiap meja, headset menempel di telinga, colokan listrik jadi rebutan, dan durasi duduk bisa lebih lama daripada jam kerja formal.
Fenomena ini terasa sangat dekat dengan kehidupan anak muda urban, terutama di kota-kota seperti Bandung, Surabaya, Jakarta, hingga Malang.
Nongkrong tidak lagi sekadar aktivitas sosial, tetapi ikut berubah menjadi simbol produktivitas modern. Bahkan bagi sebagian orang, datang ke coffee shop tanpa membuka laptop kadang terasa “kurang valid”.
Perubahan ini bukan muncul tiba-tiba. Laporan We Are Social 2025 menunjukkan Indonesia memiliki lebih dari 212 juta pengguna internet dengan budaya kerja dan aktivitas digital yang semakin fleksibel.
Banyak pekerjaan kini bisa dilakukan dari mana saja selama ada koneksi internet stabil. Di sisi lain, media sosial juga ikut membentuk citra baru tentang gaya hidup produktif. Orang tidak hanya bekerja, tetapi juga ingin terlihat sedang bekerja.
Akibatnya, coffee shop perlahan mengambil peran baru sebagai ruang antara: bukan kantor, tetapi juga bukan tempat santai sepenuhnya.
Coffee Shop Kini Jadi “Kantor Kedua”
Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan coffee shop di Indonesia meningkat sangat cepat.
Data Toffin bersama MIX MarComm sebelumnya pernah menunjukkan jumlah kedai kopi di Indonesia naik hampir tiga kali lipat dalam periode beberapa tahun sebelum pandemi.
Setelah pandemi mereda, tren itu kembali meningkat karena perubahan pola kerja hybrid dan remote working.
Kondisi ini membuat banyak kafe menyesuaikan diri. Interior dibuat lebih nyaman untuk bekerja lama, meja makin besar, colokan listrik diperbanyak, dan internet cepat menjadi fasilitas utama.
Bahkan sekarang, salah satu pertanyaan paling umum sebelum memilih tempat nongkrong bukan lagi “kopinya enak atau tidak”, tetapi “WiFi-nya stabil tidak?”
Menariknya, perubahan ini bukan hanya soal kebutuhan kerja. Ada unsur psikologis yang ikut bermain. Banyak orang merasa lebih fokus ketika bekerja di ruang publik dibanding di rumah.
Suasana ramai justru dianggap membantu konsentrasi. Dalam psikologi, kondisi ini sering disebut sebagai ambient stimulation, ketika tingkat keramaian tertentu membantu otak tetap aktif dan tidak mudah terdistraksi.
Namun di balik itu, ada perubahan sosial yang lebih besar: masyarakat urban makin sulit memisahkan waktu produktif dan waktu istirahat.
Tekanan Sosial untuk Selalu Terlihat Sibuk
Media sosial punya peran besar dalam membentuk budaya ini. TikTok, Instagram, dan X dipenuhi konten “productive day”, study with me, hingga rutinitas kerja estetik di coffee shop.
Aktivitas bekerja akhirnya tidak lagi bersifat personal, tetapi ikut menjadi bagian dari identitas digital.
Tanpa sadar, banyak orang mulai merasa bahwa santai tanpa tujuan terlihat kurang bernilai. Nongkrong sambil membuka laptop terasa lebih “aman” secara sosial dibanding duduk kosong menikmati suasana.
Fenomena ini sangat dekat dengan generasi muda perkotaan yang tumbuh di tengah budaya kompetitif digital.
Ada dorongan halus untuk terus berkembang, terus aktif, dan terus terlihat menghasilkan sesuatu. Bahkan saat sedang menikmati kopi, orang tetap ingin merasa produktif.
Hal itu juga berkaitan dengan meningkatnya budaya side hustle. Survei Populix 2024 menunjukkan cukup banyak anak muda Indonesia kini memiliki pekerjaan tambahan atau proyek sampingan di luar pekerjaan utama. Waktu santai akhirnya ikut berubah menjadi waktu kerja tambahan.
Akibatnya, batas antara bekerja dan beristirahat makin kabur.
Nongkrong Tidak Lagi Benar-Benar Santai
Dulu, nongkrong identik dengan obrolan panjang tanpa arah. Sekarang, suasana seperti itu mulai jarang ditemukan di banyak coffee shop urban.
Orang datang dengan agenda masing-masing: meeting online, revisi tugas, editing konten, atau sekadar mengejar deadline.
Ironisnya, tempat yang dulu identik dengan relaksasi kini justru sering menghadirkan tekanan kecil yang tidak disadari. Banyak orang merasa bersalah jika terlalu lama duduk tanpa melakukan sesuatu yang “berguna”.
Fenomena ini sebenarnya menggambarkan perubahan besar gaya hidup kelas menengah urban Indonesia.
Produktivitas kini bukan hanya kebutuhan ekonomi, tetapi sudah menjadi budaya sosial. Sibuk dianggap positif. Diam terlalu lama sering diasosiasikan dengan malas atau tertinggal.
Padahal, manusia tetap membutuhkan ruang santai tanpa target. Psikolog dari berbagai riset kesehatan mental modern berulang kali menekankan pentingnya unstructured leisure atau waktu luang tanpa tujuan tertentu untuk menjaga keseimbangan emosi dan menurunkan stres.
Masalahnya, budaya digital membuat waktu kosong terasa semakin sulit dinikmati.
Kenapa Banyak Orang Tetap Memilih Kerja di Kafe?
Meski sering melelahkan, budaya work from cafe tetap terus berkembang karena menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki rumah maupun kantor formal: rasa fleksibel dan suasana sosial.
Bagi sebagian orang yang tinggal di kos atau apartemen kecil, coffee shop memberikan pengalaman “keluar dari rutinitas”. Ada rasa hidup, ada interaksi manusia, dan ada atmosfer kota yang terasa bergerak.
Hal sederhana seperti suara mesin kopi atau percakapan pelan ternyata bisa membantu mengurangi rasa sepi saat bekerja sendirian.
Selain itu, coffee shop kini juga menjadi ruang identitas sosial baru. Tempat nongkrong sering merepresentasikan gaya hidup, selera, bahkan citra personal seseorang.
Tidak heran jika banyak orang memilih kafe tertentu bukan hanya karena menu, tetapi karena suasana yang cocok untuk membangun mood dan persona digital mereka.
Di era sekarang, lokasi kerja kadang ikut menjadi bagian dari ekspresi diri.
Pada akhirnya, perubahan budaya nongkrong ini menunjukkan satu hal menarik: masyarakat urban modern semakin sulit benar-benar berhenti dari ritme produktivitas.
Bahkan di ruang santai sekalipun, ada dorongan untuk tetap aktif, tetap bergerak, dan tetap terlihat sibuk.
Mungkin itu sebabnya banyak orang sekarang pergi ke coffee shop bukan untuk kabur dari pekerjaan, tetapi justru membawa pekerjaan ke tempat yang dulu digunakan untuk beristirahat.
