Senin, 18 May 2026 13:00 UTC

Ilustrasi Sibuk tapi terdistraksi. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Main HP saat kerja kini menjadi kebiasaan yang makin umum di kantor, coworking space, bahkan ruang rapat formal. Ada yang sekadar membuka TikTok beberapa menit, membalas chat pribadi, scrolling media sosial, hingga bermain game diam-diam untuk mengusir bosan.
Fenomena ini sering dianggap sepele karena terlihat “cuma sebentar”. Padahal, berbagai riset menunjukkan perpindahan fokus kecil yang terus berulang bisa memengaruhi kualitas kerja, konsentrasi, bahkan kondisi mental seseorang.
Budaya kerja modern membuat banyak orang sulit benar-benar fokus dalam satu aktivitas. Tubuh duduk di depan laptop, tetapi perhatian terus terpecah antara pekerjaan, notifikasi, media sosial, dan hiburan digital.
Otak Modern Terbiasa dengan Distraksi Cepat
Psikolog dan peneliti perhatian digital Gloria Mark dari University of California, Irvine, menjelaskan bahwa perhatian manusia di layar kini jauh lebih pendek dibanding dua dekade lalu.
Dalam riset yang ia jelaskan melalui American Psychological Association, rata-rata fokus seseorang pada layar turun menjadi sekitar 47 detik sebelum berpindah ke aktivitas digital lain.
Artinya, otak modern makin terbiasa menerima stimulasi cepat dan berganti-ganti. Kondisi ini diperparah oleh desain aplikasi digital yang memang dibuat untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.
Notifikasi, suara, video pendek, dan sistem reward pada game memberi sensasi instan yang membuat otak terus ingin kembali membuka layar. Karena itu, banyak pekerja akhirnya mengalami kebiasaan “cek sebentar” yang terus berulang sepanjang hari.
Multitasking Ternyata Tidak Seefisien yang Dibayangkan
Banyak orang merasa tetap produktif walau sambil membuka media sosial atau game ringan. Namun, penelitian psikologi kognitif menunjukkan otak sebenarnya tidak benar-benar multitasking.
American Psychological Association menjelaskan bahwa manusia lebih sering melakukan task switching, yaitu berpindah fokus dengan cepat dari satu tugas ke tugas lain. Proses ini memunculkan switching cost atau biaya mental akibat perpindahan perhatian.
Setiap kali seseorang berpindah dari pekerjaan ke notifikasi, lalu kembali lagi ke pekerjaan, otak membutuhkan energi tambahan untuk menyesuaikan fokus.
Penelitian Wake Forest University pada 2024 juga menjelaskan bahwa semakin sering perpindahan tugas terjadi, semakin besar beban mental yang muncul.
Dampaknya sering tidak terasa langsung. Namun dalam jangka panjang, konsentrasi menjadi cepat lelah, pekerjaan lebih mudah salah, dan tubuh terasa sibuk sepanjang hari meski hasil kerja tidak maksimal.
Fenomena ini juga menjelaskan kenapa banyak orang merasa “capek padahal tidak banyak kerja”. Energi mental habis karena perhatian terus terfragmentasi.
Budaya Kerja Digital Membuat Orang Sulit Tenang
Tekanan kerja modern ikut memperparah kebiasaan membuka HP diam-diam saat bekerja.
Laporan Microsoft Work Trend Index menunjukkan banyak pekerja mengalami digital debt atau kelelahan akibat banjir email, meeting, chat kantor, dan notifikasi kerja tanpa henti.
Dalam laporan lain, Microsoft menemukan pekerja digital bisa mengalami interupsi sekitar setiap dua menit selama jam kerja aktif.
Akibatnya, otak jarang benar-benar masuk ke kondisi fokus mendalam. Sebagian orang akhirnya mencari “pelarian mikro” lewat scrolling media sosial atau game singkat untuk menurunkan rasa jenuh. Masalahnya, pelarian kecil itu justru sering memperpanjang distraksi.
Psikolog menyebut kondisi ini sebagai continuous partial attention, yaitu keadaan ketika perhatian tidak pernah benar-benar penuh di satu aktivitas. Tubuh bekerja, tetapi pikiran terus siaga terhadap distraksi lain.
Main HP Saat Kerja Kini Jadi Kebiasaan Sosial
Fenomena ini juga berubah menjadi budaya sosial baru. Dulu membuka HP saat bekerja dianggap tidak sopan atau tidak profesional. Kini perilaku itu sering dianggap normal selama target tetap selesai.
Di banyak ruang kerja modern, orang terlihat membuka banyak layar sekaligus. Meeting sambil membalas chat. Mengetik laporan sambil membuka video pendek. Diskusi sambil scrolling media sosial.
Kebiasaan tersebut perlahan membentuk standar baru bahwa perhatian terbagi adalah hal biasa.
Padahal, ahli organizational science Steven Rogelberg mengingatkan bahwa distraksi terus-menerus dapat memengaruhi kualitas komunikasi kerja dan efektivitas rapat. Ia juga menyoroti fenomena “meeting hangover”, yaitu kondisi ketika rapat buruk meninggalkan efek negatif terhadap fokus dan produktivitas pekerja setelah forum selesai.
Karena itu, masalah utama sebenarnya bukan sekadar main HP saat kerja. Persoalannya adalah bagaimana budaya digital membuat manusia makin sulit hadir penuh dalam aktivitas sehari-hari.
Pada akhirnya, main HP saat kerja bukan lagi kebiasaan individu semata. Ini sudah menjadi cerminan gaya hidup digital modern yang membuat perhatian manusia terus diperebutkan layar.
Jika tidak disadari, distraksi kecil yang terlihat sepele bisa perlahan mengubah kualitas kerja, cara berkomunikasi, hingga kemampuan seseorang menikmati hidup tanpa gangguan notifikasi.
